Rabu, 18 Sep 2019

Renungan

Memaknai Maraknya Seruan Kebencian Beragama Saat Ini

* Mengasihi Orang Kafir Melalui Salib Oleh Pdt Estomihi Hutagalung
admin Minggu, 08 September 2019 12:11 WIB

Mengapa agama dapat menyuburkan kebencian yang membuahkan tindak kekerasan dengan menyebut nama Allah? Bagaimana seharusnya teks-teks kitab suci yang bersifat sektarian dogmatis dibaca dalam realitas konteks teks itu sendiri yang dimaknai oleh pembacanya masa kini? Bagaimana memahami hatespeech, pernyataan kebencian para pemimpin umat beriman yang dengan sadar mereproduksi peradaban jahiliyah berjubah agama?

Pada mulanya adalah tafsir terhadap identitas diri dalam realitas berpijak yang ditandai dengan menggeloranya bara kebencian. Kesadaran pada panggilan diri sebagai umat kesayangan Allah, yang dikhususkan dari umat lainnya di sekitar bangsa Israel, telah dimaknai orang Yahudi pada dimensi eksklusifisme beragama dalam makna yang seluas-luasnya termasuk pada pemenuhan hidup secara ekonomis politis.

Pemahaman eksklusifisme dimaksud telah menempatkan cara bertindak masyarakat pada paradigma sosial beragama yang terbelah antara umat Tuhan dengan umat setan, antara daerah damai dengan daerah perang. Pemimpin agama telah "memasuki dengan paksa dan memenjarakan wilayah kemahakuasaan Tuhan" sehingga kualitas nilai umat beriman ditentukan pada kategori-kategori sektarian dogmatis. Kehidupan yang diciptakan Tuhan Allah bukan lagi dilihat pada paradigma tujuan penciptaan di dalam kasih Allah yang universal.

Pembajakan terhadap kuasa Allah demikian akhirnya membuahkan prinsip hidup bahwa hanya orang Yahudi yang menjadi umat kesayangan Allah, hanya bangsa Israel yang dianggap sebagai bangsa yang diberkati oleh Tuhan. Dengan tafsir demikian, maka setiap orang akan merasa dirinya sebagai umat yang paling kudus, menempatkan diri sebagai kaum yang paling mulia. Akibatnya, setiap orang, setiap kaum di luar batas keyakinan nilai sektarian beragama akan diberi identitas sebagai orang kafir, kaum setan sebagai musuh yang harus dihabisi atau dibinasakan.

Kekudusan akan panggilan Allah bagi setiap umat beragama telah bergeser dari kultus mengasihi semua ciptaan Tuhan menjadi ritual kekerasan yang memusuhi setiap orang diluar batas doktrinalnya. Tindak kekerasan kepada umat kafir dimaknai sebagai bagian dari ketaatan untuk mendapat rido atas perintah Tuhan yang dilegitimasi teks-teks kitab suci. Akhirnya, kebencian menjadi ritual umat beriman dan membuahkan kekerasan bersorban agama. Lingkaran hermeneutik sektarian inilah yang terus mendidihkan darah kebencian, sehingga kekerasan beragama dianggap sebagai hal yang kudus. Dan nilai kebencian demikian direkonstruksi dan diwariskan oleh para pemimpin agama guna kepentingan berkuasa (will to power). Itu sebabnya, agama selalu berwajah destruktif dengan daya ledak yang luar biasa besarnya. Dan warisan sektarian dogmatis demikian sangat kental dalam tradisi agama Abrahamik yaitu Yudaisme, agama Kristen dan agama Islam.

SALIB ADALAH WUJUD KASIH
Guna merekonstruksi esensi kasih dari kerajaan Allah dalam realitas sosial beragama yang mewarisi sisi gelap tafsir keagamaan demikianlah Tuhan Yesus hadir dengan ajaran dan praktek hidup untuk mengasihi musuh. Sebuah seruan revolusioner kasih dalam realitas sosial yang ditandai maraknya kekerasan dengan semangat "mata ganti mata, gigi ganti gigi". Sebuah peradaban jahiliyah zajirah Arab yang mengagungkan kebencian dan memuliakan kekerasan. Guna mentransformasi peradaban yang membanggakan tindak kekerasan itulah Yesus menyatakan hidup pada kasih Allah. "Kasihilah musuhmu dan berdoalah bagi mereka yang menganiaya kamu." (Matius 5: 44).

Dan perwujudan kasih Allah itulah yang dilakoni oleh Yesus ketika mengalami penderitaan di kayu salib guna memutus lingkaran kebencian dan melahirkan peradaban damai. "Ya Bapa, ampunilah mereka, sebab mereka tidak tahu apa yang mereka perbuat." (Lukas 23:34). Salib adalah wujud kasih Allah (agape) dalam mengasihi orang kafir, mengasihi setiap ciptaan-Nya. Dalam penderitaan salib itulah Yesus memberikan teladan dan seruan pengampunan bagi setiap orang sehingga siklus kekerasan harus dihentikan. Bagi Yesus, kekerasan tidak akan dapat memberi kehidupan yang damai sejahtera. Kasih Allah melalui salib (agape) hendak menyadarkan setiap orang bahwa kehidupan tidak dapat berlangsung jika didasarkan pada kebencian. Pengampunan salib Kristus menjadi undangan agar manusia menyadari bahwa kehidupan dengan kebencian hanyalah mereproduksi kekerasan baru yang berujung pada kematian sia-sia. Sehingga, ajakan untuk hidup mengasihi melalui salib Kristus (agape) akan memampukan umat beriman untuk mengasihi musuh, berdoa bagi yang mengutuk, memberkati yang menganiaya (Lukas 6: 27). Bagi Tuhan Yesus, nilai utama kehidupan beriman adalah praktek hidup mengasihi secara radikal. "Karena itu haruslah kamu sempurna, sama seperti Bapamu yang di surga adalah sempurna" (Matius 5:48). Sebab kasih agape bukan bergantung pada ukuran hidup yang dibuat oleh umat beriman dalam realitas berpijaknya yang ditandai adanya kebencian. Kasih agape pada salib Kristus adalah kasih yang melampaui kategori sektarian doktrinal dan meruntuhkan hasrat berkuasa manusia dengan legitimasi agama.

Oleh karenanya, ukuran nilai hidup orang beriman yang sesungguhnya sudah diberikan oleh Yesus melalui kasih-Nya dalam penderitaan salib. Hidup bernilai hanya didasarkan pada kasih, hidup yang mengampuni yang melampaui ukuran eksklufisme menuju kesadaran hidup yang universal. Dengan demikian, kehidupan yang berarti bukan lagi didasarkan pada nilai sektarian dogmatis ukuran manusia. Sehingga orang kafir pun akan dapat dijadikan Tuhan sebagai sarana mewujudkan rahmat-Nya. Orang kafir adalah bagian dari perwujudankasih Allah yang universal.

MENGASIHI ORANG KAFIR
Jika demikian halnya, bagaimanakah orang Kristen memaknai (maraknya) seruan kebencian beragama masa kini? Para pengikut Yesus yang percaya pada kuasa kasih salib akan diperhadapkan pada pergulatan dialektis. Bahwa orang Kristen, di satu sisi, berada pada realitas beriman yang meyakini hidup saling mengampuni, hidup dengan tidak membalas kejahatan dengan kejahatan tetapi pada sisi lain, berada pada realitas berpijak semakin maraknya seruan kebencian bagi orang Kristen sebagai orang kafir.

Realitas hidup orang Kristen masa kini justru diperhadapkan pada kondisi sosial yang ditandai dengan menguatnya roh sektarian beragama yang mengagungkan kebencian layaknya kehidupan masa jahiliyah. Tetapi sesungguhnya, justru pada realitas hidup dialektis demikianlah kuasa pengampunan melalui salib Kristus semakin dinyatakan dalam praktek hidup orang beriman. Sehingga dengan kuasa pengampunan Allah yang dinyatakan dalam Yesus Kristus akan memampukan orang beriman untuk mengasihi orang kafir melalui salib. Kuasa pengampunan itulah yang menggerakkan orang Kristen agar tidak membalas kejahatan dengan kejahatan.

Dengan kuasa pengampunan salib maka orang Kristen membawa ke hadapan Tuhan setiap orang yang melakukan kekerasan melalui ucapan (hatespeech), yang menganiaya orang Kristen secara fisik sehingga Roh Allah mengubahkan hati yang keras menjadi hati yang taat. Layaknya rasul Paulus dari seorang penganiaya dan penghujat Allah menjadi pelayan, misionaris Allah. Layaknya Yusuf Roni yang menjadi pemberita Injil. Tentu saja, ejekan yang pernah dialami oleh Rasul Paulus dari orang-orang Korintus bahwa salib adalah kebodohan (1 Korintus 1: 18), salib adalah kafir akan terus direkonstruksi oleh siapapun guna meruntuhkan daya tahan iman orang Kristen. Maka pada realitas hidup dialektik demikianlah gereja semakin terpanggil untuk mewujudkan cara beradanya guna meneguhkan jemaat dalam pergumulannya agar hidup mengasihi musuh, mengasihi orang kafir.

Sehingga kehadiran orang Kristen dalam Negara Kesatuan Republik Indonesia menjadi entitas penting dalam mewujudkan cita-cita kemerdekaan, keadilan, penegakan hukum bagi para penista agama berdasarkan Pancasila dan UUD 1945. Praktek bergereja tidak terjebak pada kenikmatan kemapanan dengan menghabiskan waktu dan anggaran berwujud status quo sehingga cenderung bersifat sektarian mengurus dirinya sendiri. Justru dalam realitas konteks semakin maraknya kebencian beragama saat ini, gereja disadarkan untuk merekonstruksi cara hidup jemaat mula-mula yang ditandai dengan penderitaan tetapi hidup mengampuni.

Gereja membaca ulang liturgi-liturgi ibadah, ajaran-ajaran para rasul, nyanyian-nyanyian penderitaan jemaat perdana yang mengalami penganiayaan tetapi membuahkan pertumbuhan kekristenan yang besar. Gereja membaca jejak darah penderitaan para martir yang mewariskan pertumbuhan gereja yang sangat pesat. Dengan kesadaran demikianlah gereja masa kini mensyukuri kebesaran Tuhan Allah melalui peranan orang Kristen yang telah mempengaruhi peradaban Eropa menjadi masyarakat yang adil dan makmur sebagaimana penelitian sosiolog besar Max Weber. Atas kesadaran demikianlah gereja masa kini melihat dan merasakan peradaban yang dibangun oleh para misonaris yang mentransformasi hidup jahiliyah menjadi hidup yang mengampuni dalam kasih oleh salib Kristus. Praktek bergereja demikianlah menjadi perwujudan memuliakan Tuhan sehingga orang yang diberi identitas kafir akan masuk dalam komunitas orang beriman di kerajaan Allah. Amin (d)

T#gs
Berita Terkait
Komentar
Komentar
Silakan Login untuk memberikan komentar.
FB Comments