Jumat, 25 Sep 2020

Refleksi Advent:

Melangkah dengan Damai, Pengharapan, Kasih dan Sukacita

Oleh Pdt Dr Pahala J Simanjuntak (Dosen STT HKBP P Siantar)
redaksi Minggu, 08 Desember 2019 18:28 WIB
SIB/Dok
Pdt Dr Pahala J Simanjuntak
Di bulan Desember ini orang Kristen di seluruh dunia akan sibuk dengan berbagai acara dan kegiatan kerohanian dalam rangka menyambut hari Natal. Bukan hanya berupa kebaktian di gereja tetapi juga kegiatan di luar gereja. Belum lagi persiapan kegiatan lain dalam menyongsong Tahun Baru, 1 Januari 2020. Kegiatan yang dilaksanakan seperti festival koor, lagu rohani, paduan suara, pagelaran seni dan musik serta tari-tarian yang bernuansa Natal. Yang jelas bahwa di bulan ini kita berada dalam suasana istimewa melaksanakan pesta rohani memperingati kelahiran Yesus Kristus sang Juruselamat dunia yang lahir ribuan tahun yang lalu.

Namun sebelum kita memperingati pesta Natal tersebut kita menjalani beberapa minggu sebagai masa persiapan untuk menyambut pesta rohani tersebut. Masa-masa persiapan itu disebut dengan minggu Advent. Hal ini sesuai dengan kalender gerejawi yang sudah lama dilaksanakan dalam tradisi kekristenan gereja mula-mula. Suasana Advent ini berdampak dalam setiap ibadah yang berlangsung di gereja ber-thema-kan Advent. Semua nyanyian, pujian, liturgi dan teks khotbah disesuaikan merujuk kepada minggu Advent. Termasuk dekorasi gedung gereja dan warna tutup altar diatur sedemikian rupa menandai awal tahun gerejawi ini. Selama ibadah berlangsung terlihat lilin yang menyala sebagai simbol cahaya Advent. Ada empat minggu Advent yang akan kita jalani sebelum tiba pada puncak acara Natal tersebut.

Kata Advent (Adventus: bahasa Latin) artinya kedatangan. Dalam kedatangan itu kita berada dalam persiapan atau penantian. Kita diberi waktu dan ruang untuk mempersiapkan diri dalam menyambut pesta kelahiran Tuhan Yesus. Selain itu Advent juga merupakan masa yang indah dalam mempersiapkan dan menantikan kedatangan Yesus Kristus kedua kalinya. Maka keempat Advent ini dapat dimaknai sebagai berikut:

Pertama : Damai Sejahtera
Allah bertindak di dalam sejarah umat manusia dan sebelum dunia dijadikan dunia berada dalam keadaan kacau balau, kaos. Lalu Allah menciptakan langit dan bumi beserta isinya (Kej. 1:1). Dalam narasi yang dituliskan kitab Kejadian mengatakan semuanya baik, tov meod (bahasa Ibrani), artinya damai dan indah (Kej. 1:31).Kemudian Allah menempatkan manusia pertama (adam) di taman Eden dalam suasana damai sejahtera. Namun manusia jatuh ke dalam dosa dan Allah menghukum manusia (baca Kej. 3). Maka sejak manusia pertama jatuh ke dalam dosa kita semua hidup di dalam dosa (dosa asali). Namun karena kasih Allah lebih besar dari hukuman-Nya, Allah kembali mengasihi manusia dengan memperdamaikan diri-Nya dengan dunia ini. Allah mengutus Anak-Nya Yesus Kristus menjadi penebus sebagaimana dinubuatkan para nabi (bnd. Yes. 60:1-7; Zak. 9:9). Yesus Kristuslah Raja Damai itu yang diutus oleh Allah. Maka Allah dianggap sebagai sumber damai itu.

Damai yang diberikan Allah kepada manusia sangat mahal harganya dan tidak dapat dibeli dengan uang dan jerih payah manusia. Hal itu merupakan anugerah Allah yang luar biasa. Dietrich Bonhoeffer (1906-1945) adalah seorang pendeta dan teolog Lutheran Jerman mengatakan: "Anugerah yang murah adalah musuh bebuyutan gereja kita. Perjuangan kita saat ini adalah untuk anugerah yang mahal."Pemahaman Bonhoeffer ini lahir dari pemikiran Martin Luther tentang anugerah keselamatan yang mengatakan sola fide, sola gratia, dan sola scriptura : hanya karena iman, anugerah dan kuasa firman Tuhan (bnd.Yoh. 1:14-19).

Selanjutnya, Injil Yohanes mencatat Tuhan Yesus berpesan kepada murid-Nya : "Damai sejahtera Kutinggalkan bagimu (Yoh. 14:27.a). Artinya damai itu diberikan kepada setiap orang untuk dipelihara dan dilaksanakan. Dalam khotbah-Nya di bukit Yesus berkata kepada para pengikut-Nya : "Berbahagialah orang yang melakukan damai karena mereka akan disebut anak-anak Allah (Mat. 5:9)." Ternyata Damai itu indah.

Kedua : Hidup dalam Pengharapan
Pada minggu advent ini kita diingatkan bahwa Allah sumber pengharapan bagi setiap orang. Berharap selalu akan pertolongan Tuhan. Pertolongan kita hanya datang dari Tuhan yang Maha Kasih. Tanpa pengharapan hidup kita akan goyah dan tidak berarti. Orang yang selalu berharap akan memiliki masa depan yang indah dan pasti. Oleh karenanya marilah kita hidup dalam pengharapan. Pengharapan yang tidak henti-hentinya menjadi bahagian hidup orang Kristen di setiap waktu.

Pengharapan disertai dengan kesabaran, kerja keras dan ketekunan dalam doa. Rasul Paulus mengajak jemaat Kristen di Roma untuk hidup dalam pengharapan (Roma 12:12). Mungkin di masa lalu kita belum menemukan sesuatu yang kita harapkan. Kita merasa bahwa doa kita belum (tidak) dijawab oleh Tuhan. Namun kita tidak boleh putus asa sebaliknya harus tetap berharap.

Allah akan menjawab doa kita sesuai dengan kehendak-Nya. Mungkin kita pernah mengalami kegagalan sehingga kita kecewa dan menangis. Orang Amerika yang mendirikan perusahaan Ford Motor Company adalah Henry Ford (1903). Sebelum sampai kepada puncak karirnya telah berkali-kali mengalami kegagalan dan sering menangis. Namun bagi dia kegagalan hanyalah peluang untuk memulai lagi dengan lebih berintelijen. Dia tetap mencoba dan berharap hingga dia berhasil. Pengharapan kita tidak akan sia-sia terhadap semua hal yang kita butuhkan. Maka pengharapan menjadi sebuah ajakan dalam memaknai minggu Advent ini.

Ketiga : Cinta dan Kasih
Allah adalah kasih God is love. Kasih setia Allah sejati dan berlangsung sampai selama-lama-Nya. Dia hidup sepanjang sejarah dunia sebab Dia adalah Alpa dan Omega, yang awal dan yang akhir. Alkitab menyaksikan bawa Allah tidak pernah berhenti mengasihi umat-Nya Israel.

Sekalipun mereka berada dalam pembuangan, namun Allah memelihara mereka. Pembuangan (baca: penderitaan) bukan hukuman tetapi sebuah pelajaran untuk kesetiaan kepada Allah. Tokoh Ayub dalam Alkitab merupakan seorang yang saleh dan jujur namun mengalami banyak penderitaan. Namun dia tetap memenangkan penderitaan itu karena kasih setia Allah tetap bersamanya (Ayub 1:2; 42:2). Demikianlah hidup kita tidak luput dari kasih setia Allah. Hidup ini menjadi indah karena kasih Allah baik dalam suka maupun duka (bnd. Mat. 24:3-8).

Kalau Allah mengasihi kita maka kita juga harus mengasihi Allah. Dalam Perjanjian Lama, hukum Musa berkata : Kasihilah Tuhan, Allahmu dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap kekuatanmu (Ul. 6:5). Lalu dalam Perjanjian Baru Tuhan Yesus menambahkan untuk mengasihi sesama manusia seperti diri sendiri. Itulah hukum yang utama dan terutama (Mat.22:38-39).

Sehingga masa Advent bukan hanya untuk berpesta pora dan menghabiskan banyak uang dan tenaga. Namun harus disertai dengan aksi dan tindakan kasih atau gerakan peduli kemanusiaan. Advent ini mengajak kita untuk saling peduli kepada orang lain sebagaimana Allah peduli kepada manusia, charity. Kalau boleh menolong sesama manusia terutama orang-orang miskin dan kaum lemah. Membantu mereka yang teraniaya dan membebaskan para tawanan serta membela mereka yang mendapat hukuman tanpa bersalah.

Keempat : Sukacita
Allah sumber sukacita yang sempurna dan itulah kekuatan kita. Sukacita kita yang terbesar ialah ketika Allah mengampuni dosa-dosa dan pelanggaran kita melalui Yesus Kristus. Allah menganggap kita menjadi orang yang berharga sekalipun orang lain menganggap kita rendah dan tidak punya arti apa-apa. Namun berharga di mata Tuhan. Itulah kasih Allah yang terbesar dalam hidup kita yang harus kita syukuri. Lagu Amazing Grace (Ajaib Benar Anugerah) adalah lagu pujian Kristen di seluruh dunia. Diciptakan pada abad 18 oleh JohnNewton dan dipublikasikan pada tahun 1835, disambut baik orang Kristen di seluruh benua. Lagu ini mengajak seluruh umat Kristen di seluruh dunia untuk bersukacita karena kebesaran anugerah Tuhan. Hal ini sesuai dengan ajakan rasul Paulus kepada jemaat Filipi untuk tetap bersukacita di dalam Tuhan (Fil. 2:2; 4:4).

Hidup di dalam sukacita adalah ciri khas orang Kristen. Sukacita bukan hanya ketika mendapat keuntungan yang banyak, kesuksesan dalam karir. Akan tetapi bersukacita juga di dalam situasi apapun. Memang harta, kuasa dan jabatan membuat manusia bersukacita namun sifatnya sementara. Tetapi sukacita yang betahan lama adalah di dalam Tuhan.

Betapa bahagianya hidup kita dalam minggu Advent ini. Minggu advent merupakan waktu yang sangat berharga bagi kekristenan kita. Kita diberi waktu dalam mempersiapkan hati dan jiwa serta merenungkan kasih setia Tuhan dalam perjalanan hidup ini.

Sehingga minggu Advent ini akan membuat kita menjadi kuat, percaya dan tetap semangat dalam menjalani hari-hari kehidupan kita sambil mengingat Allah mengasihi kita. Maka bersiap-siap dan berjaga-jagalah menyambut kelahiran Yesus dan kedatangan-Nya.

Tanggalkanlah segala penghalang dalam dirimu seperti kecemasan, kekuatiran, kebencian agar Dia datang. Pada masa-masa Advent inilah kesempatan bagi kita untuk saling berdamai dan mengampuni setiap kesalahan orang lain. Tidak menyimpan dendam apalagi membalaskan kesalahan orang lain. Marilah kita bersama-sama ikut ambil bagian dalam masa advent ini dengan mempersiapkan diri dengan baik (Yes. 40:1-8; Mat. 4:17).

Selamat melangkah di minggu Advent bersama: Damai, Pengharapan, Kasih dan Sukacita. (f)
T#gs
Berita Terkait
Komentar
Komentar
Silakan Login untuk memberikan komentar.
FB Comments