Iklan - Geser ke atas untuk melanjutkan
Rabu, 04 Februari 2026
RENUNGAN

Lidah Yang Memberkati

Oleh Pdt Estomihi Hutagalung
- Minggu, 10 Februari 2019 11:13 WIB
1.221 view
Lidah Yang Memberkati
Pdt Estomihi Hutagalung
Memang lidah tak bertulang. Justru karena demikianlah, lidah menjadikan manusia berada pada pergulatan yang besar. Titik krisisnya terletak pada keteguhan hati; apakah berada pada pilihan menjadikan lidah yang mengutuk atau lidah yang memberkati. Apakah lidah yang fasih mengucapkan kebohongan atau lidah yang membuncahkan harapan. Apakah ujaran untuk menghancurkan impian atau untuk membangun semangat.

Pergulatan untuk memungsikan lidah pada pilihan demikianlah yang sangat kuat memengaruhi kehidupan umat Tuhan dalam konteks sosialnya yang mengagungkan sosial media saat ini. Hampir setiap orang selalu diperhadapkan dengan berita yang diunggah dalam media sosial yang lahir dari ucapan, perkataan, kefasihan lidah. Dan pergulatan demikian semakin berat dalam konteks sosial yang tidak mementingkan kebenaran, tidak mementingkan data. Inilah yang disebut sebagai era post truth.

Sebuah era yang ditandai dengan masyarakat melalui sosial media digiring pikirannya untuk tidak menganggap kebenaran sebagai sesuatu yang maha penting. Masyarakat menjadi tidak kritis pada ujaran yang diunggah dalam sosial media. Dan itu berarti, kita sedang hidup dalam sebuah peradaban yang tidak mengagungkan ucapan, ujaran, perkataan, kefasihan lidah sebagai sesuatu yang mulia.

Padahal sesungguhnya kita lahir dari peradaban ujaran, perkataan, kefasihan lidah Tuhan Allah sang pencipta langit dan bumi (Kejadian 1: 1-26). Itulah yang kita lihat pada permulaan kata yang dituliskan di dalam Alkitab. Bahwa Allah berfirman maka sesuatu pun terjadi. "Berfirman Allah jadilah terang, lalu terang itu pun jadi". Dengan ucapan, maka Tuhan Allah menyatakan diri-Nya dengan tindakan dan menghasilkan sesuatu yang berguna, yang memberkati.

Dengan meyakini pemahaman demikian, walaupun sebagai manusia berdosa, yang sudah rusak gambar Allah yang sempurna dalam diri manusia, tetapi sesungguhnya kepada kita diberi kesempatan untuk menyatakan identitas diri bahwa melalui ucapan, melalui perkataan kita menyatakan diri pribadi yang mengandung nilai kebaikan sebagai ciptaan Tuhan.

Pengakuan demikian berimplikasi etis bahwa dengan ucapan maka setiap orang didorong untuk menyatakan kesadaran diri tersebut sehingga mampu berujar kebaikan, keagungan dengan kefasihan lidah yang memberkati. Sebab, kata, ucapan mengandung sebuah kekuatan yang menyadarkan orang akan dirinya lalu membangkitkan semangatnya untuk bergerak menuju tujuan hidupnya.

Itu berarti ucapan adalah ungkapan hati atas dorongan rasa empatis lalu disampaikan dengan cara yang tepat dalam situasi yang tepat. Dari hati akan keluar sebuah perkataan, sebuah ujaran yang mengutuk atau yang memberkati. Tentu hal itu ditentukan keteguhan suara hati. Maka dibutuhkan kefasihan lidah yang memberkati, kefasihan lidah yang mampu menyadarkan setiap orang agar berjuang dalam meraih keinginan-keinginan mulia yang Tuhan tanamkan dalam dirinya.

Dan komitmen terhadap pengakuan dimaksud akan diuji dalam realitas masyarakat kita saat ini yang sedang diguncang oleh arus hoax khususnya dalam pemilihan presiden, calon legislatif tahun ini. Pada realitas post truth demikian, kita diperhadapkan pada pilihan calon pemimpin yang dengan kefasihan lidah yang mengutuk atau kefasihan lidah yang memberkati. Sebab "Ada orang berbicara, berujar, tetapi tanpa berpikir sehingga kefasihan lidahnya bagaikan tikaman-tikaman pedang (bnd.Amsal 12:18). Itulah jenis pemimpin dengan "Kerongkongannya seperti kubur yang ternganga, lidahnya merayu-rayu, bibirnya mengandung bisa, mulutnya penuh dengan sumpah serapah" (bnd.Mazmur 5: 9)

Justru peringatan teks-teks Alkitab demikian, akan mendorong kesadaran kita pada peradaban anti hoax, anti ujaran kebohongan dan kebencian. Sehingga setiap orang yang percaya kepada Tuhan Allah sumber pencipta kata atau ujaran, diundang agar berada pada barisan perjuangan membangun peradaban hidup pada kuasa firman yang mencipta, sebagai logos yang berkreasi, perkataan yang menginspirasi, kefasihan lidah yang memberkati.

Pergulatan orang beriman dalam realitas post truth itulah kita hendak membangun peradaban ujaran, kefasihan lidah yang memberkati. Pergulatan orang beriman harus terus berada pada kesadaran bahwa kepandaian membujuk dengan ucapan-ucapan sarkastis, yang kedengarannya menggugah tetapi hanya kebohongan, manipulatif, memainkan perasaan tidak dibutuhkan untuk mempengaruhi banyak orang. Bahkan hal demikian justru membangkitkan penolakan yang sangat besar di dalam masyarakat.
Dengan peradaban ujaran yang kreatif, kefasihan lidah yang memberkati akan mendorong kita pada peringatan Yakobus 3: 6-8 mengenai lidah yang buas menjadi dunia kejahatan dan menjadi racun yang mematikan. Sehingga kematangan emosi, kematangan pikiran, kematangan spiritual itulah prasyarat terpenting dan yang fundamental dalam memimpin, dalam membangun komunitas, masyarakat beriman.

Yang kita butuhkan adalah pemimpin yang ujarannya, perkataannya menjadi logos, yang berkuasa, membangkitkan harapan. Sehingga dengan kefasihan lidah yang memberkati, akan banyak orang akan terinspirasi dan dimotivasi lalu dibangkitkan harapannya untuk bekerja kreatif dalam panggilan imannya.

Oleh karenanya, marilah kita menetapkan pilihan untuk berada pada kehidupan yang dibangun pada kefasihan lidah yang memberkati, beralih dari pola relasi yang manipulatif menjadi relasi yang bermakna.

Maka pada pilihan hidup demikianlah kita menemukan panggilan iman sebagaimana dikatakan rasul Paulus kepada jemaat Kolose 3: 16, "Hendaklah perkataan Kristus diam dengan segala kekayaannya di antara kamu, sehingga kamu dengan segala hikmat mengajar dan menegur seorang akan yang lain dan sambil menyanyikan mazmur dan puji-pujian dan nyanyian rohani, kamu mengucap syukur kepada Allah di dalam hatimu". Amin (d)
SHARE:
komentar
beritaTerbaru