Selasa, 10 Des 2019

Paus Fransiskus:

Kristen Tanpa Gereja dan Negara, Tak Masuk Akal

Minggu, 25 Mei 2014 23:28 WIB
SIB/int
Paus Fransiskus
Vatikan (SIB)- Gereja menjadi rumah ibadah umat Kristen yang dijadikan sebagai tempat persekutuan bersama orang-orang percaya lainnya. Seperti halnya ucapan Paus Fransiskus bahwa seseorang bukanlah Kristen bila tidak memiliki gereja.

“Identitas Kristen kita adalah bagian dari orang lain yang disebut dengan gereja. Tanpa hal itu, kita bukanlah Kristen. Kita hadir ke gereja pada saat dibaptis; itulah artinya gereja,” ucap Paus.

Ia menyampaikan tak ada yang mengerti tentang arti kekristenan daripada Yesus Kristus itu sendiri. “Anda tidak dapat memahami Yesus Kristus tanpa mengetahui sejarahnya. Jadi seorang Kristen tanpa sejarah, tanpa negara dan tanpa gereja itu tidak masuk akal,” ujar Paus Fransiskus.

Selain itu, Paus juga mengingatkan pentingnya “berkat pengharapan” sebagai identitas Kristen. “Mintalah berkat untuk memperbaharui janji-janji dengan Tuhan yang telah memanggil kita setiap hari”.

Gereja merupakan tubuh Kristus yang meliputi orang-orang percaya. Sehingga tanpa gereja kita bukanlah Kristen. Kita memasuki gereja melalui baptisan yang berarti menerima hidup baru di dalam Yesus Kristus.

SEJARAH GEREJA UMUM
Gereja Abad I sampai dengan Abad VII (Tujuh konsili pertama)

Kehadiran Gereja dimulai dengan kehadiran Roh Kudus di tengah-tengah murid-murid pada hari raya Pentakosta. Murid-murid mengalami suatu kuasa Roh yang tercurah atas mereka, di mana mereka belum pernah mengalaminya sebelumnya. Pemberitaan Injil dimulai dan selanjutnya akan menjangkau seluruh umat manusia. Gereja sebagai persekutuan orang-orang yang percaya kepada Yesus memulai sejarah persekutuannya, di mana di dalamnya akan terjadi dengan tidak ada lagi perbedaan yang dibatasi oleh perbedaan sosial, bahasa, ataupun suku bangsa. Hal itu tidak bisa terjadi dalam persekutuan Yahudi ataupun agama orang Yunani pada waktu itu. Kebiasaan yang berlaku dalam kehidupan masyarakat pada itu, tidak akan terjadi dalam persekutuan yang percaya kepada Yesus Kristus. Kenapa hal demikian terjadi? Karena Gereja hanya mempunyai misi yang jelas dalam pekabaran injilnya, bahwa Yesus dari Nazareth adalah Mesias yang dijanjikan Allah untuk seluruh umat manusia.

Persekutuan gereja ini memulai pekabaran injilnya dari kota Yerusalem terus kemudian menyebar ke Mesir, Arab, Siria, Mesopotania, bahkan sampai ke Roma. Orang yang menjadi pengikut Yesus, bukan saja dari kalangan orang Yahudi, tetapi juga berasal dari kalangan non Yahudi. Orang yang berasal dari golongan sosial yang rendah sampai ke kalangan atas. Orang-orang Kristen yang baru dan ibadah dilakukan di rumah-rumah karena mereka belum memiliki rumah ibadah yang permanen, karena agama Kristen belum menjadi agama yang resmi dan bergerak secara diam-diam. Kelompok yang dianggap aneh ini oleh kalangan masyarakat saat itu, dan baru disebut “Kristen” terjadi di kota Antiokhia. Sebutan “Kristen” yang diterima oleh pengikut Yesus ini merupakan kata sindiran yang berisi penghinaan, karena mereka tidak disukai dalam masyarakat (Kisah Para Rasul 11: 6).

Pada satu sisi ketika pemberitaaan injil Yesus dinyatakan dalam kehidupan persekutuan dengan sesama manusia, tentunya penguasa – penguasa dan pemimpin agama Yahudi tidak menyukai akan kehadiran agama yang baru. Karenanya orang-orang Kristen diburu dan ditangkap, bahkan dibunuh. Kitab Kisah Para Rasul banyak menceritakan tentang penderitaan yang dialami orang-orang Kristen pada waktu itu. Stefanus, Yakobus anak Zebedius, Yakobus saudara Yesus adalah orang-orang pertama yang mati sahid dari perbuatan pemuka agama Yahudi yang tidak menyukai akan penyebaran agama Kristen yang begitu cepat. Dari awal hubungan kekristenan dan agama Yahudi tidak akur, karena banyak peraturan-peraturan orang Yahudi dilanggar oleh orang-orang Kristen baru. Keadaan ini terus berlangsung sampai dengan menjelang akhir abad pertama dengan berhujung keterpisahan agama Yahudi dengan kekekristenan.

Demikian pula dalam pemerintahan Romawi, kekristenan tidak diakui sebagai agama yang resmi, sebagaimana agama Yahudi sebagai agama resmi dan diakui negara. Persekutuan Kristen yang sedang bertumbuh menuntut hak yang sama dengan penganut agama Yahudi. Hak itu tidak dapat diperoleh, karena kekristenan dianggap anti sosial dan tidak patriot. Akibatnya penyiksaan, pembunuhan terjadi. Tercatat kaisar Nero, kaisar Kladius. Keadaan ini berlaku sampai dengan abad kedua.

Baru di tahun 312 gereja diakui sebagai agama resmi, dengan masuknya Constantianus menjadi orang Kristen. Segala milik gereja yang dirampas oleh negara, dikembalikan. Kemudian di tahun 380 gereja baru diakui sebagai gereja negara oleh kaisar Theodosius.

Selain dari penyiksaan, pembunuhan yang terjadi dalam kehidupan orang Kristen, ada juga persoalan di dalam kehidupan kekristenan sendiri, yaitu mengenai Tentang Hakekat Yesus dalam hubungan dengan Allah yang terus menerus dipersoalkan sampai dengan abad kelima. Persoalan tentang hubungan gereja dan negara, persoalan kepemimpinan gereja, munculnya kelompok gnostik, mewarnai kehidupan gereja pada masa ini juga.

Dari persekutuan-persekutuan yang ada di rumah-rumah, pengikut Kristus bertambah banyak, maka dengan sendirinya terjadi juga gedung-gedung ibadah dan organisasinya makin lebih baik. Selanjutnya muncul jabatan-jabatan baru dalam gereja seperti penilik jemaat, penatua dan diaken.

Pada masa itu juga, Gereja-gereja di wilayah Timur memisahkan diri, dengan alasan tradisi yang dibawa, permasalahan hakekat Yesus Kristus, peranan negara di dalam keputusan konsili, dan kepemimpinan di rumah. Hal ini terjadi dengan sendiri, sehingga gereja-gereja orthodoks (Gereja Gerika-Katolik) akan dipimpin oleh sinode atau patriarch.

Terlepas dari persoalan-persoalan yang dihadapi oleh gereja baik itu yang berasal dari dalam dan luar gereja, ada satu pertanyaan menarik, kenapa orang–orang begitu tertarik pada ajaran rasul-rasul dan pengikut Kristus lainnya? Kesaksian orang Kristen pada itu yang dikuasai Roh Kudus, mereka memberlakukan kasih Allah yang diajarkan oleh Tuhan Yesus, kepada orang lain. Persekutuan Kristen tidak membedakan orang berdasarkan status sosial yang ada. Dengan kekuatan kasih, gereja berhasil memberlakukan kesamaan derajat antara sesama manusia. Hal ini tidak bisa diberlakukan dalam kehidupan masyarakat pada waktu itu, dan gereja memberi jawab terhadap apa yang menjadi pergumulan mereka tentang jati dirinya sebagai seorang manusia. Gereja memberlakukan kasih ketimbang mempercakapkan tentang hakikat Yesus, yang mungkin sulit diterima orang. Kasih orang Kristen memberi makna bagi kehidupan dan memberi arah kehidupan yang benar. (dari berbagai sumber/d)





 


T#gs
Komentar
Komentar
Silakan Login untuk memberikan komentar.
FB Comments