Iklan - Geser ke atas untuk melanjutkan
Rabu, 04 Februari 2026

Kotbah yang Disruptif

Oleh Pdt Estomihi Hutagalung
- Minggu, 24 Februari 2019 14:14 WIB
418 view
Kotbah yang Disruptif
Pdt Estomihi
Titik tengkarnya terletak pada kesadaran akan perubahan. Mengapa para ahli Taurat, Imam-imam Yahudi sangat benci kepada seorang pengkotbah yang menyadarkan orang akan panggilan dirinya, untuk membangkitkan relasi imannya pada Tuhan Allah dan menyadarkan setiap orang untuk mewujudkan kasih dalam realitas hidup berpijaknya? Mengapa upaya untuk membunuh pengkotbah ulung ini dilakukan atas nama hukum agama?

Titik tengkarnya terletak pada kesadaran akan perubahan. Sebab setiap orang harus selalu bergulat guna mewujudkan panggilan dirinya dalam konteks berpijaknya. Sebuah pergulatan dialektis yang tak berkesudahan sampai pada waktu yang Tuhan tetapkan. Jika tidak, maka Injil Kristus, ajaran agama akan menjadi sesuatu yang tidak berguna dan pada akhirnya menjadi sebuah kuk, beban yang menyiksa.

Titik tengkarnya terletak pada kesadaran akan perubahan. Sebab selalu terjadi ketegangan, tarik menarik antara nilai-nilai ortodoks dengan nilai yang progresif, pergulatan nilai yang tradisional dengan yang reformis. Jika realitas pergulatan demikian tidak berada pada kesadaran dialektis antara teks dan konteks, antara iman dan dinamika realitas, akan terjadi pertengkaran bahkan pembunuhan. Itulah sebabnya para ahli Turat, imam Yahudi melakukan perlawanan terhadap kotbah Tuhan Yesus yang kritis, keras, kotbah prophetis

Sebuah kotbah dalam konteks masa kini disebut sebagai kotbah disruptif. Sebuah kata yang sangat mengemuka dan mendorong kesadaran banyak orang, banyak lembaga dalam pencapaian tujuannya. Disruptif, adalah sebuah kata yang mendorong orang pada kesadaran untuk mengubah pola pikir, pola adaptasi pola pelayanan, pola komunikasi dalam realitas sosial zaman yang ditandai dengan kemajuan teknologi digital, kemajuan tekonologi media sosial.

****
Walaupun Tuhan Yesus tidak berkotbah dalam era kemajuan teknologi, tetapi Yesus tetap berkotbah kritis bahkan menyakitkan bagi sebagain orang lalu terjadilah pertengkaran. Dan, lagi, lagi... titik tengkarnya terletak pada kesadaran akan perubahan. Setidaknya ada lima kali perdebatan, antara Tuhan Yesus dengan para ahli Taurat dalam hal Sabat. Pada sisi lain, Yesus mengkritik dan berkotbah disruptif, kotbah yang sangat pedas dan meruntuhkan tembok status quo. Yesus menyatakan para ahli Taurat sebagai orang-orang munafik, seperti kuburan yang dicat putih tetapi berisi kebusukan.

Itulah yang dikotbahkan Tuhan Yesus, "Celakalah kamu hai ahli-ahli Taurat sebab kamu meletakkan beban yang tak terpikul pada orang, tetapi kamu sendiri tidak menyentuh beban itu dengan satu jari pun" (Lukas 11: 46).

Sebuah kotbah disruptif yang menggugah, menggoyahkan bahkan menghacurkan tatanan nilai yang diyakini, dipegang oleh sebuah masyarakat beragama sebagai sebuah kebenaran tunggal. Sebuah kotbah yang ditujukan bukan hanya pada para pejabat, pemimpin agama tetapi juga kepada setiap orang agar berada pada barisan perjuangan perubahan itu sendiri.

Sebuah kotbah disruptif yang menyadarkan setiap orang akan identitasnya dan kemauan keras untuk mewujudkan panggilan identitasnya sebagai garam dan terang dalam realitas konteks berpijaknya. Sehingga perlu untuk memaknai peringatan Tuhan Yesus, "Jika garam telah menjadi tawar maka akan dibuang dan diinjak orang. Jika pohon tidak berbuah akan ditebang dan akan dibakar".

Dengan kotbah yang disruptif, Yesus telah mengganggu keseimbangan. Sebuah kehadiran dengan kotbah Tuhan Yesus yang dipahami sebagai sesuatu yang mengancam kenyamanan hidup para ahli Turat dan Imam Yahudi. Sebuah kotbah yang meruntuhkan keyakinan para ahli Taurat dan Imam Yahudi akan hidup sudah dinikmati dan ingin terus dalam kehidupan status quo, nyaman dan mapan.

Dan warisan kotbah disruptif demikianlah menjadi nilai utama guna mewujudkan panggilan gereja dalam realitas konteks berpijaknya masa kini. Sebab pada masa-masa tertentu, gereja telah menikmati kemamapan, kenyaman dengan "pertumbuhan jemaat" yang pesat sehingga banyak orang duduk di bangku gereja mendengar kotbah yang lucu-lucu yang akan kehilangan nilai prophetisnya. Sebuah kotbah yang tidak disruptif.

Kenikmatan demikian telah mendorong gereja untuk membangun tembok, gedung besar dan megah yang membatasi "pandangan mata hatinya" terhadap realitas sosialnya. Kenikmatan telah melumpuhkan gairah iman, membatasi kemauan, keinginan gereja dan jemaat untuk menggerakkan kesadaran akan panggilan iman dalam realitas zamannya. Sebuah jebakan kenikmatan, jebakan keberhasilan.

Dan setiap jebakan selalu melumpuhkan semangat, daya juang, potensi gereja. Lalu pada akhirnya, kenikmatan membuat potensi gereja semakin kendor, dan akan membuat gereja menjadi impoten. Itu berarti, gereja tidak mampu dalam proses pendampingan jemaat, tidak mampu mentrasformasi sosialnya yang ditandai dengan kenikmatan perceraian, kenikmatan uang dari prostitusi online, kenikmatan uang dari penjualan narkoba, kenikmatan hidup dari uang korupsi, kenikmatan yang melumpuhkan iman kepada Tuhan.

*****
Justru dalam realitas semakin banyaknya jumlah perceraian di kalangan anggota gereja, semakin maraknya peredaran narkoba yang mengancam masa depan hidup para pemuda-pemudi gereja, maka kotbah yang disruptif harus terus disuarakan. Kotbah yang meruntuhkan tembok kenikmatan, menyadarkan dirinya agar tetap "online" dengan Tuhan sehingga mentransformasi rohani dan transformasi sosialnya.

Kotbah disruptif demikianlah yang dilakukan oleh Martin Luther dalam perjuanga reformasi gereja di Jerman sehingga mendorong gereja untuk terus memperbaharui ajarannya. Kotbah disruptif demikianlah yang disampaikan oleh John Wesley dalam gerakan Methodist sehingga mentransformasi rohani dan mentransformasi sosial sehingga menyelamatkan Inggris dari revolusi sosial, terhindar dari pertumpahan darah oleh masyarakat miskin

Kesadaran akan nilai utama kotbah disruptif akan mendorong dan menguuatkan keberimanan jemaat dalam menjalani realitas pergumulan hidupnya sehingga mampu mewujudkan panggilan menjadi garam dan terang. Kotbah yang disruptif akan menyadarkan setiap orang untuk mengubah pola pelayanannya. Dalam pemahaman akan defenisi dan makna kotbah disruptif demikianlah kita mengubah titik tengkar menjadi titik anugerah. Amin. (l)
SHARE:
komentar
beritaTerbaru