Rabu, 18 Sep 2019

Kisah Toleransi Gereja dan Masjid yang Berdempetan di Solo

admin Minggu, 25 Agustus 2019 11:40 WIB
bbc.com
DIPEGANG TEGUH : Walaupun bangunan Gereja Kristen Danukusuman, Joyodoningratan dan Masjid Al Hikmah, di Solo, Jawa Tengah itu kini jauh lebih mentereng, nilai-nilai toleransi yang disepakati 80 tahun silam, masih dipegang teguh oleh pemimpin dan jemaah gereja serta pengelola dan umat masjid tersebut.
Solo (SIB) -Keberadaan gereja dan masjid yang berdempetan di Kota Solo, Jawa Tengah, merupakan saksi bisu perwujudan tenggang rasa dan welas asih, yang dirawat terus-menerus oleh pemimpin dan umat dua tempat ibadah itu.

Awalnya, kira-kira tahun 1939, gereja didirikan oleh jemaat Kristen Danukusuman di Joyodiningratan, Solo, di atas tanah yang dibeli dari seorang Muslim.

Bangunan itu didirikan karena ada kebutuhan untuk beribadah bagi warga Kristen yang terus tumbuh di kawasan tersebut.

Saat itu, pemilik tanah membolehkan tanahnya dibeli oleh pengelola gereja, dengan syarat mereka dibolehkan mendirikan musala di samping gereja, yang kelak diperbesar menjadi masjid.

Kesepakatan pun dibuat antara kedua pihak, yang ditandai pendirian semacam prasasti setinggi sekitar 1,5 meter berbentuk lilin di antara dua bangunan ibadah itu.

"Jadi prasasti itu menandakan tidak akan terjadi apa pun, meskipun dua tempat ibadah itu saling berdampingan," kata Muhammad Nasir Abu Bakar, ketua takmir Masjid Al Hikmah, mengisahkan sekelumit sejarah dua bangunan ibadah itu, pada Rabu (7/8).

"Makna tugu lilin juga supaya tetap selalu rukun dan tidak terjadi apa pun," kata Nasir, seperti dilansir bbc.com pada Minggu (10/8).

Dan sejarah mencatat, sejak 80 tahun berdiri, tidak ada gesekan berarti di antara umat Islam dan Kristen di kawasan itu, bahkan hubungan harmonis pemimpin dan umat dua bangunan ibadah itu kerap menjadi rujukan berbagai anggota masyarakat.

"Antara pengurus gereja dan masjid benar-benar menjunjung tinggi sejarah yang sudah terjalin dua tempat ibadah ini," kata salah-seorang pendeta Gereja Kristen Jawa (GKJ) Joyodiningratan, Beritha Tri Setyo Nugroho.

Tugu lilin, yang masih berdiri kokoh, kini posisinya terletak di dekat tempat wudhu perempuan masjid tersebut. Pihak gereja merelakan tanahnya untuk lokasi pendirian prasasti tersebut.

Menjadi Rujukan
Kini, kerukunan antara umat beragama yang terjadi di dua tempat ibadah itu, menjadi semacam percontohan tentang toleransi antar umat beragama.

Tak hanya dari Indonesia, namun sejumlah perwakilan dari berbagai negara telah mendatangi dua bangunan tempat ibadah itu untuk belajar tentang kerukunan umat beragama.

"Sudah sering sekali dikunjungi seperti dari Inggris yang terdiri atas ustaz dan pendeta, Malaysia, Thailand dan negara lainnya. Sedangkan dari Indonesia dari belahan Timur ke Barat sudah pernah datang ke sini. Mereka datang untuk melihat kerukunan yang terjalin di lingkungan ini," katanya.

Dari kunjungan para delegasi itu, menurut Nasir, mereka sangat takjub karena meskipun berbeda tidak terjadi gesekan. Bahkan, dua umat beragama yang tempat ibadahnya saling berdampingan ini juga saling rukun dan damai.

"Ternyata mereka menyatakan betul dan sangat rukun. Ini yang menjadi ikon bagi kita untuk selalu menjaga kerukunan. Kita sampaikan tidak hanya di Indonesia, tapi hingga dunia," katanya. (SH.com/f)
T#gs
Berita Terkait
Komentar
Komentar
Silakan Login untuk memberikan komentar.
FB Comments