Jumat, 02 Okt 2020

Kerja: Antara Aku dengan Tuhan (Kolose 3 : 22 -25)

Minggu, 09 Agustus 2020 17:08 WIB
Foto: Dok/Pdt Dr Victor Tinambunan, MST

Pdt Dr Victor Tinambunan, MST

Seorang asisten rumah tangga (dulu disebut "pembantu") diperlakukan dengan kejam oleh majikannya. Jam makan siangnya terkadang hingga pukul 15.00, saat ia sudah terlalu lapar. Kata-kata pedas dan keras seringkali dilontarkan kepadanya. Yang paling menyakitkan adalah sang nyonya rumah pernah menempelkan seterika panas ke punggungnya yang membuatnya mengalami luka bakar yang amat menyakitkan. Herannya, sang asisten tetap melakukan tugasnya dengan baik. Ia tetap menyajikan makanan tuannya dengan senyuman. Si majikan sangat terkesan dengan kebaikan hati asisten rumah tangga itu dan akhirnya berkata kepadanya, "kami sangat terkesan melihat kebaikan hatimu yang tetap melakukan pekerjaan rumah dengan baik dan juga dengan sangat ramah menyajikan makanan kami. Hari ini kami berjanji tidak akan menyakitimu lagi". Mendengar itu asisten rumah tangga itu pun berkata, "karena Bapak dan Ibu berjanji tidak akan menyakiti saya lagi, saya pun berjanji mulai hari ini tidak akan meludahi makanan bapak dan ibu lagi". Rupanya pada saat hatinya gundah dan menahan pedihnya rasa sakit, dia mengumpulkan ludahnya dan menumpahkannya ke dalam makanan tuannya. Perlakuan majikan dan asisten rumah tangga sama-sama tidak berkenan kepada Tuhan. Asisten rumah tangga itu membalas kekejaman dengan kekejaman baru yang tidak pernah menyelesaikan masalah.

Sekiranya kebaikan dan keramahan si asisten rumah tangga ini murni, alangkah dahsyatnya dampaknya hingga membuat majikannya bertobat.

Firman Tuhan Kolose 3:22-25 ini berisikan nasihat kepada para hamba. Yang dimaksud "hamba" dalam Alkitab Perjanjian Baru adalah budak,yaitu seorang yang dimiliki dan dikuasai oleh orang lain.Pada masa Yesus, hampir sepertiga penduduk kekaisaran Romawi adalah budak. Hal yang sama berlaku hingga masa Rasul Paulus. Kelas terendah dalam struktur kekaisaran Romawi adalah para budak. Mereka secara resmi diperjual belikan. Mereka boleh dipukul dan disiksa, seturut kemauan pemiliknya.Mereka bertugas melakukan berbagai macam pekerjaan rumah tangga. Ada juga di antara mereka yang lebih terdidik dari tuannya sehingga mereka bertugas sebagai guru bagi anak-anak majikannya. Jadi, peranan para hamba ini sangat penting dalam urusan jasmani, intelektual, karakter dan sebagainya. Sayang sekali, mereka sering diperlakukan tidak adil.

Kepada para hamba- hamba seperti itulah Rasul Paulus manasihatkan, "Hai hamba-hamba, taatilah tuanmu yang di dunia ini dalam segala hal, jangan hanya di hadapan mereka saja untuk menyenangkan mereka, melainkan dengan tulus hati karena takut akan Tuhan".Takut akan Tuhan artinya: mengasihi Tuhan, taat kepada Tuhan, sepenuhnya tergantung pada Tuhan. Artinya, semuanya antara hamba dengan Tuhan.

Bagaimana kalau tuannya kejam? Itu urusan tuannya dengan Tuhan. Seorang hamba mengurus yang menjadi urusannya.Urusan hamba adalah ini: dengan tulus hati karena takut akan Tuhan (ayat 22), berbuat dengan segenap hati seperti untuk Tuhan dan bukan untuk manusia (ayat 23), dari Tuhanlah kamu akan menerima yang menjadi bagian yang ditentukan bagimu (ayat 24).

Kita bukanlah hamba atau budak. Kita adalah orang-orang merdeka. Tetapi apa yang kita kerjakan, sikap kita kepada atasan atau siapa saja adalah soal "antara aku dengan Tuhan". Jika tidak, kita akan banyak menuntut, bersungut-sungut, menyimpan sakit hati bahkan dendam. Hidup kita pun akan makin runyam. Sebab kita menanggung dua beban berat sekaligus: beban pekerjaan dan suasana hati kita yang tercemar dan tertekan. Hari-hari hidup kita pun bisa saja menjadi bagaikan neraka kecil. Bangun pagi dan baru hendak memulai pekerjaan saja sudah stress dan kehilangan sukacita. Tetapi kalau kita membiasakan prinsip hidup dan pekerjaan kita "antara aku dengan Tuhan", di situ pasti ada semangat, sukacita, enerji melimpah dan kreativitas yang membuahkan kejutan-kejutan positif.

Di suatu kabupaten saya pernah mendengar istilah "Angkatan 840". Angkatan yang baru pernah saya dengar. Ternyata yang dimaksud dengan Angkatan 840 ini adalah pegawai kantoran yang datang ke kantor jam 8, pulang jam 4 sore, hasilnya 0. Angkatan 840! Angkatan yang harus dihapus. Tidak sedikit orang yang sangat serius bekerja pada masa awal diterima bekerja, tetapi memudar sesudah beberapa tahun bekerja. Malahan, terlalu banyak menuntut, banyak protes, banyak bersungut-sungut. Lupa menysukuri berkat Tuhan yang diterima melalui tempat bekerja. Tetapi, orang yang bekerja dengan prinsip "antara aku dengan Tuhan", bekerja bukan atas dasar dihargai atau tidak dihargai, dipuji atau tidak, diucapkan terima kasih atau tidak, diawasi atau tidak. Hati yang terbuka kepada Tuhan membuat hidup dan pekerjaan berdampak positif.

Ah, Rasul Paulus pro kekuasaan, pro orang kaya! Masakan hamba yang terkekang, penghasilan sedikit bahkan mungkin tidak ada justru mereka yang dinasihati. Mereka tidak butuh nasihat, mereka butuh keadilan! Mungkin begitu Anda bertanya. Tetapi tunggu dulu.

Jangan terlalu cepat melompat ke kesimpulan. Pada pasal selanjutnya (persisnya Kolose 4:1) Rasul Paulus menyerukan, "Hai tuan-tuan, berlakulah adil dan jujur terhadap hambamu, ingatlah, kamu juga mempunyai tuan di sorga." Adil maksudnya: perlakukan hambamu sebagai manusia, bukan alat atau mesin, atau binatang. Mereka berharga dan berharkat di mata Tuhan. Mereka adalah juga Imago Dei (Gambar Allah). Ada Tuhan Pemilik dan Pembela mereka juga. Jujur artinya akui kebaikannya, hargai jasa-jasa baiknya, berikan apa yang menjadi haknya. Terutama, Rasul Paulus menekenkan, "Kamu juga mempunyai tuan di sorga." Tuan dan hamba sama-sama punya tuan yang sama di sorga. Tuhan yang peduli, mengasihi, yang hidup tuan dan hamba sepenuhnya tergantung padaNya.

Bagi mereka yang memiliki asisten rumah tangga atau pekerja, haruslah memperlakukan pekerjanya dalam takut akan Tuhan juga. Pernah seorang tuan rumah yang baru kembali ke rumah setelah melakukan perjalanan beberapa hari. Sesampainya di rumah yang pertama ditanya kepada pembantunya bagaimana keadaan anjingnya dan burung peliharaannya. Majikan yang menyadari dan mengimani bahwa ia punya tuan di sorga, yaitu Tuhan Sang Pemilik kehidupan, seharusnya lebih peduli pada orang-orang di sekitarnya ketimbang anjing, burung, piano, kaktus dan sebagainya.

Untuk meneguhkan hati dan komitmen kita menghidupinya kita harus berpegang pada apa yang Yesus pesankan kepada kita sebagaimana dalam Matius 7:12 "Segala sesuatu yang kamu kehendaki supaya orang perbuat kepadamu, perbuatlah demikian juga kepada mereka." Kita menghendaki agar orang lain memperlakukan kita dengan adil dan jujur. Tugas kitalah bertindak adil dan jujur kepada orang lain. (c)

T#gs Aku dengan TuhanKerja
Komentar
Komentar
Silakan Login untuk memberikan komentar.
FB Comments