Selasa, 11 Agu 2020

RENUNGAN

Kehendak Bebas dan Takdir

Oleh Ev Panogari Panggabean SH MSi
redaksisib Minggu, 02 Agustus 2020 18:57 WIB
HIDUPKATOLIK.com

Ilustrasi

Berbeda dengan makhluk ciptaan lainnya, manusia dianugerahi nafas kehidupan, akal, roh dan kehendak bebas. Hal ini menjadi perbedaan mendasar dengan makhluk ciptaan Elohim Yahweh lainnya.

Kehendak bebas dikenal juga dengan istilah freewill. Dalam bahasa Latin, kehendak bebas disebut liberum arbitrium. Liber artinya bebas dan arbitrium artinya kehendak. Kehendak bebas, free will atau liberum arbitrium adalah salah satu keistimewaan sekaligus anugerah yang diberi Elohim Yahweh kepada setiap orang. Pemberian kesitimewaan ini merupakan penghargaan yang tinggi oleh sang pencipta kepada yang dicipta. Akan tetapi di sisi lain hal tersebut juga mengandung tanggung jawab. Bukan sekedar tanggung jawab biasa, tetapi mengandung tanggung jawab besar tentang penentuan di kehidupan yang sesungguhnya kelak. Kehidupan saat ini adalah sekolah kehidupan untuk menentukan di mana keberadaan seseorang kelak.

Ketika Adam dan Hawa ditempatkan dan berada di Taman Eden, mereka hidup dengan kehendak bebasnya dan bahkan mereka diberkati dan diberi tanggung jawab oleh Elohim untuk beranak cucu, menaklukkan bumi ini serta berkuasa atas ikan-ikan di laut dan burung-burung di udara dan atas segala binatang di bumi (Kejadian 1:28).

Kehidupan Adam dan Hawa sempat berlangsung bagai kehidupan di sorga, karena segala kebutuhan hidup tersedia di Taman Eden, bahkan segala binatang termasuk binatang buas bersahabat dengan mereka. Dalam kehidupan serba menyenangkan itu, Elohim menggariskan ketentuan bahwa pohon yang ada di tengah-tengah taman yakni pohon kehidupan dan pengetahuan tentang yang baik dan yang jahat, jangan dimakan ataupun diraba, agar mereka tidak mati (Kejadian 2:9; 3:3).

Andai Adam dan Hawa tidak melanggar ketentuan yang ditetapkan oleh Elohim, maka Adam dan Hawa beserta keturunannya akan berpotensi menikmati hidup yang kekal, karena sesungguhnya hal itulah yang dirancang Elohim Yahweh untuk manusia ciptaan-Nya.
Namun peristiwa yang mengubah sejarah perjalanan umat manusia telah terjadi. Manusia kehilangan kemuliaan Elohim. Ini sangat bertentangan dengan rancangan dan kehendak Bapa di sorga, ketika Lucifer berhasil menggoda Hawa yang berakibat manusia kehilangan kemuliaannya karena jatuh ke dalam dosa dan konsekuensinya mereka harus diusir dari Taman Eden (Kejadian 3:24).

Dalam sejarah awal umat manusia ini kita bisa membaca dan mengetahui dengan jelas dari Alkitab, manusia benar-benar menggunakan kehendak bebasnya tanpa intervensi dari pihak mana pun, termasuk dari Elohim sendiri.

Bukti Elohim tidak mengintervensi manusia adalah ketika Hawa mulai digoda oleh Iblis. Tentu saja, ketika digoda, Hawa tidak serta merta langsung menerima godaan si Iblis dan langsung memakan buah terlarang tersebut. Paling tidak ada jeda waktu antara digoda dan melakukan apa yang dikatakan si Iblis. Jika tidak pun demikian, Allah Bapa Yang Maha Tahu itu, bisa segera melakukan intervensi mencegah Hawa memakan buah terlarang tersebut dengan memberitahu Hawa, agar Hawa dan Adam tidak jatuh ke dalam dosa sehingga tidak berakibat keturunannya juga harus menanggung akibat perbuatannya itu.

Tetapi Elohim Yahweh yang terikat dengan tatanan dan aturan hukum yang dibuat-Nya, tidak mungkin melakukan intervensi. Sebab kalau Dia melakukan intervensi atas kehendak bebas yang dianugerahkan-Nya kepada manusia, berarti Dia adalah Elohim yang tidak adil dan semena-mena. Padahal bagi Dia adalah hal yang mudah saja untuk melakukan intervensi, sebab Dia adalah Tuhan Yang Maha Kuasa dan Maha Mengetahui.

Kalau Dia adalah Tuhan yang semena-mena, sejak awal Dia sudah menghukum Lucifer dan para malaikatnya yang turut memberontak (Wahyu 12:9) dan dengan demikian tidak perlu Hawa tergoda dan menyeret Adam turut terjerumus ke dalam dosa.

Maka Adam dan Hawa serta keturunannya hingga saat ini akan menikmati kehidupan bagai di sorga di Taman Eden yang permai.

Kalau saja Dia adalah Tuhan yang semena-mena, Dia pasti langsung menghukum orang yang dinilai melakukan kesalahan, langsung dihukum dengan hukuman yang setimpal, tanpa memberi kesempatan untuk bertobat.

Di dalam kehidupan manusia sejak zaman Adam dan Hawa hingga zaman ini, manusia tetap memiliki kedaulatan penuh dan kehendak bebas yang utuh di dalam dirinya. Di satu sisi kehendak bebas membuat manusia bebas memilih dan memutuskan apa yang dikehendakinya. Manusia bebas menentukan pilihannya, patuh dan taat kepada Elohim Yahweh atau berada di pihak Iblis.

Kehendak bebas sangat dipengaruhi oleh faktor internal dan eksternal, sebelum manusia itu mengambil keputusan. Faktor internal dan eksternal juga bisa membuat manusia mengambil keputusan yang juga sangat berpengaruh pada kehendak bebas seseorang ketika menentukan pilihannya.

Bila menyaksikan acara Menembus Mata Batin di Stasiun AN TV, tidak sedikit orang yang terjerumus oleh Iblis untuk mendapatkan harta dan kenikmatan dunia melalui pesugihan, penglaris dan lainnya. Namun pada akhirnya mereka menyesal, karena kemudian setan yang diajak bersekutu menuntut lebih dari sekedar yang bisa diberikan dan menghendaki korban yang terus menerus, korban nyawa orang lain maupun diri sendiri menjadi terancam jadi korban.

Di dalam kehidupan ini, apalagi dalam Kekristenan menggunakan kehendak bebas sangat menentukan kehidupan seseorang di masa mendatang. Sebab kehidupan yang dijalani setiap orang saat ini kelak akan berlanjut. Setelah kematian ini, kelak akan ada kebangkitan untuk menentukan kehidupan selanjutnya, apakah kekal di sorga atau kekal di neraka. Saat ini setiap orang sedang berada di sekolah kehidupan.

Bermodalkan kehendak bebas, setiap orang di dunia ini, di sekolah kehidupan ini, akan menentukan dirinya sendiri, akan menentukan takdirnya sendiri, apakah dia akan menuju kehidupan kekal di sorga atau menuju kehidupan yang mengerikan di neraka.
Dalam 2 Korintus 5:10 tertulis: Sebab kita semua harus menghadap takhta pengadilan Kristus, supaya setiap orang memperoleh apa yang patut diterimanya, sesuai dengan yang dilakukannya dalam hidupnya ini, baik atau jahat.

Berdasarkan ayat tersebut di atas, manusia itu sendiri yang berjuang dan menentukan dirinya sendiri, apakah dia memperoleh keselamatan kekal di sorga, atau menentukan takdirnya sendiri hidup binasa di neraka. Bukan Elohim Yahweh. Kehendak bebas yang dimiliki setiap orang mengandung konsekuensi dan tanggung jawab terhadap hidupnya sendiri, apakah ia sedang mengarahkan takdir perjalanan hidupnya menuju sorga, atau sedang mengarahkan takdirnya menuju kebinasan dan hidup yang mengerikan di neraka. Karena itu, sebelum kematian datang menjemput, bertobatlah, tentukan takdirmu, ke sorga, atau ke neraka! (d)
T#gs Ev Panogari Panggabean SH MSiRENUNGANagama kristen
Komentar
Komentar
Silakan Login untuk memberikan komentar.
FB Comments