Kamis, 06 Agu 2020

Kedukaan di Masa Covid-19 dan Model Pendampingan

Oleh St Dr Esar H Hutahaean dan Adarsan S MTh
redaksisib Minggu, 05 Juli 2020 17:36 WIB
Kedukaan adalah suatu ekspresi perasaan yang timbul akibat rasa kehilangan terhadap satu objek (benda, rasa atau orang). Menurut Totok (Wiryasaputra, 2019), reaksi kedukaan ini timbul sebagai bagian yang alamiah dari seseorang sampai pada titik keseimbangan dan penerimaan atas rasa kehilangan yang dialami tersebut. Tulisan ini akan memberi diskusi yang (semoga) penting bagi kita di era pandemi dimana banyak orang kehilangan sesuatu seperti pekerjaan, penghasilan menetap, pelanggan, anggota keluarga. Ada juga kehilangan kendaraan bermotor karena ditarik leasing yang mengakibatkan kedukaan sangat dalam di hati seseorang maupun keluarga besar bahkan satu komunitas tertentu. Sebab kedukaan bisa juga dialami oleh seorang diri atau secara bersama-sama (korporat) atas kehilangan satu objek yang sama karena hubungan emosional yang telah terjalin sebelumnya.

Fenomena Di Era Pandemi
Jumlah konfirmasi positif Covid-19 di Indonesia 50.187 orang dimana 1.356 orang di antaranya di Sumatera Utara (SIB, 26 Juni 2020). Rasa duka yang mendalam kian bertambah dirasakan keluarga karena protokoler bagi korban Covid-19 (status positif maupun PDP) agar dikebumikan tidak lebih dari 10 jam setelah dinyatakan meninggal dunia. Bagi yang meninggal di era pandemi ini pun pengurusan jenazah agar tidak lebih dari 2 x 24 jam setelah dinyatakan meninggal hingga penguburan. Dari fenomena ini kami telah melakukan penelusuran awal terhadap kedukaan yang diakibatkan oleh kehilangan anggota keluarga atau kerabat di masa pandemi ini.

Survey dengan cara daring dilakukan kepada 36 responden (sample) yang mengalami kehilangan/kematian keluarga dekat ataupun jauh, teman-kerabat, maupun rekan dalam satu komunitas tertentu di masa pandemi ini. Sedangkan penyebab kematian beragam baik karena positif Covid-19, status PDP dan di luar wabah, yang terjadi antara akhir Maret hingga awal Juni 2020. Pertanyaan yang diajukan semi terstruktur guna menjembatani jawaban responden agar tidak meluas namun masih memiliki ruang untuk memberikan jawaban tambahan atas rasa duka yang dialami.

Hasil survey
1. Sebanyak 74,3 % (26 responden) mengalami kedukaan yang mendalam sebab orang yang meninggal di masa pandemi ini (teman, rekan atau keluarga), tetapi tidak sempat untuk melayat ke rumah duka. Karena 'masa tunggu' jenazah di rumah duka sangat singkat sesuai protokoler pandemi meski kematian bukan karena C-19. Telah menjadi kebiasaan sebagian besar warga di Sumatera Utara, masih memiliki rasa kekeluargaan yang mendorong harus melihat jenazah sebelum diantar ke pekuburan. Namun di era pandemi ini semua menjadi terbatas.

2. Jawaban untuk butir kedua beragam. Sebanyak 34,3% (12 responden) berharap agar tidak mengalami kedukaan setidaknya hingga pandemi ini berlalu. Sebanyak 28,6% (10 responden) pasrah dan yakin Tuhan Yang Maha Esa akan memberi kekuatan, ketabahan jika kedukaan itu datang. Namun ada 32,3% (12 responden) memilih pada kedua opsi yakni berharap tidak mengalami kedukaan setidaknya hingga pandemi ini berlalu dan yakin TYME akan memberi kekuatan dan ketabahan jika kedukaan itu datang.

3. Keluarga yang berduka menginginkan agar pelayat tahu isi hati anggota keluarga yang sedang berduka 20% (7 responden). Kalimat-kalimat penghiburan baik dari perkumpulan keagamaan (gereja, masjid, kelenteng, wihara, kuil) maupun rekan kerja sebaiknya tidak panjang-panjang atau bertele-tele. Hendaknya kalimat yang singkat dan tepat kepada penghiburan atas rasa kehilangan yang dialami. Tentu ini perlu mendapat perhatian bagi pembaca dan pemuka agama untuk menata agar pembesukan untuk memberi penghiburan kepada keluarga tepat, efektif bagi orang berduka. Namun demikian ada 65,7% (23 responden) menyatakan bahwa tetamu yang datang justru acaranya singkat, tidak lama dan padat serta mampu memberi penghiburan bagi keluarga yang sedang berduka. Sebanyak 8,6% mengeluh karena tidak banyak (hanya berkisar 45%) keluarga yang datang menjenguk. Kemungkinan karena jenazah tidak bisa lama di rumah duka.

4. Sebanyak 37,1% (13 responden) menyatakan dapat mengalami rasa kedukaan karena kehilangan benda-benda di rumah HP, sepedamotor, uang, kaki/tangan karena amputasi, jemuran dan benda dan pekerjaan. Rasa duka itu hampir sama seperti kehilangan (yang disebabkan kematian) anggota keluarga, teman kerja, rekan di satu komunitas tertentu. Jika fakta ini dirunut lagi, maka kedukaan adalah satu wilayah yang memerlukan empati dari orang lain. Karena rasa kedukaan dapat dialami oleh banyak orang dari berbagai kalangan, usia, kaya miskin atau ragam warna kulit dan agama. Satu tantangan tersendiri bagi Pengurus Gereja, Mesjid, Kelenteng, Wihara, Kuil, Aliran Kepercayaan dan Lembaga Konseling menyikapi temuan ini. Namun 34,3% (13 responden) menyatakan kedukaan karena kematian sangat jauh bobotnya dibanding karena kehilangan benda-benda.

Pendampingan Kepada orang Berduka
Dari kondisi tersebut, kami akan memberikan langkah yang perlu diambil oleh siapa saja yang tergerak untuk mendampingi guna menghibur orang yang mengalami kedukaan akibat merasakan kehilangan. Fakta meluasnya penyebab kedukaan adalah fenomena sulit untuk disangkal. Banyaknya orang yang kehilangan pekerjaan, "kehilangan" benda karena harus digadai, atau kehilangan waktu belajar karena pandemi Covid-19. Mengacu pada pemaparan Pdt. Nursini Sihombing (Sihombing, 2016) tentang pendampingan bagi masyarakat multikultural dan metode pedampingan orang berduka dari Totok (Wiryasaputra, 2019, pp. 53-79 yakni Bab VI dan VII), tiga poin yang dapat disampaikan adalah;

1. Rasa kehilangan yang mengakibatkan kedukaan bisa dialami oleh siapa saja tanpa mengenal tingkat sosial dan warna kulit atau SARA. Orang per orang dapat merasa kehilangan dengan tingkat kedukaan yang berbeda meski kehilangan objek yang sama. Karena itu hendaknya tiap-tiap orang memandang rasa kedukaan orang lain tidak sama rata. Mari kita melihat dan empati terhadap kedukaan dari orang-orang yang merasa kehilangan sekalipun objek penyebab kedukaan sesuatu yang kurang bernilai di hadapan kita.

2. Untuk kelangsungan gairah dan optimisme orang yang berduka, hendaknya orang lain turut dalam menuntun orang-orang berduka hingga pada tahap penerimaan (acceptance) dan "keseimbangan" mental untuk menjalani hidup kesehariannya. Sebagian besar orang-orang yang berduka memerlukan orang lain untuk mendampinginya dalam merasakan perasaannya. Peran orang lain sebagai pendamping dapat didasari satu agama, satu suku, tapi tidak menghalangi orang yang berbeda agama dan suku untuk mendampingi rekan, keluarga yang sedang berduka sampai mereka yang berduka itu tiba pada tahap penerimaan (acceptance) dan "keseimbangan". Bimbing dan dampingilah orang berduka hingga tuntas. Lima tahap kedukaan teori Kubler-Ros yakni: denial-anger-bargaining-depression-acceptance, meski tidak harus dilampaui semuanya, namun tahap acceptance adalah tahap dimana seseorang mencapai keseimbangan dalam emosi, mental serta mampu menilai kedukaannya sebagai tahap untuk mencapai tingkat yang lebih baik dalam hidupnya.

3. Kepada pembaca yang tergerak dalam pendampingan bagi orang yang berduka, disarankan menggunakan cara-cara yang kreatif guna menggali alasan mengapa dirinya merasa kehilangan hingga berduka. Berikan waktu Anda untuk duduk bersama bahkan menangis bersamanya, buktikan bukan empati kamuflase yang kosong. Menggurui bukanlah model yang tepat untuk semua tingkat kedukaan (bahkan semua latar sosial). Di masa pandemi, kedukaan yang diakibatkan langsung kepada Covid-19 merupakan kasus yang luar biasa, karena itu mendengarkan dan menangis bersama adalah langkah awal yang tepat bagi pendamping kepada orang yang berduka.

Kedukaan yang ditimbulkan langsung oleh Covid-19 (baik positif maupun status PDP) merupakan tantangan model baru dalam menghadapi orang yang berduka. Karena protokoler ini tidak lazim bagi masyarakat yang biasa dengan masa tunggu jenazah di rumah berkisar 2 hingga 4 malam. Jangkauan rasa duka akibat kehilangan seseorang ditimbulkan langsung oleh Covid-19 inipun (baik positif maupun status PDP) makin meluas karena keprihatinan sosial yang tumbuh dengan sendirinya ketika menyaksikan pengurusan jenazah yang tidak biasa. Sebab itu tidak ada cara lain bagi kita memandangnya yakni: menumbuhkan empati yang jujur dengan datang, duduk bersama, bersedia mendengarkan, menangis serta memberi diri sebagai tempat bercerita bagi keluarga yang berduka. Kesamaan latar pekerjaan, kampung halaman, suku atau kesamaan agama dapat menjadi jalan guna mendampingi orang yang berduka lebih lama dan regular, hingga orang yang berduka mencapai tahap penerimaan atas apa yang dialaminya.

Tuntas dalam merespon kedukaan merupakan satu jalan memudahkan seseorang dan masyarakat untuk menjalani new normal dalam bidang psykis dengan optimisme menatap masa depan. (f)

T#gs Adarsan S MThCOVID-19covid 19KedukaanModel PendampinganSt Dr Esar H Hutahaeanagama kristen
Komentar
Komentar
Silakan Login untuk memberikan komentar.
FB Comments