Minggu, 20 Sep 2020

Renungan

Kaya Rohani dalam Kasih, Perbuatan

(1 Korintus 1:1-9) Oleh: Pdt Sunggul Pasaribu
redaksisib Minggu, 19 Januari 2020 18:45 WIB
SIB/Dok
Pdt Sunggul Pasaribu
Selalu ada alasan untuk mengucap syukur kepada Allah. Hal itulah yang selalu Paulus kembangkan, bukan hanya atas apa yang telah Allah kerjakan dalam kehidupannya secara pribadi maupun dalam pelayanannya, namun juga dalam kehidupan jemaat di Korintus. Paulus menyebut dua karunia yang dihargai oleh jemaat Korintus, yakni perkataan dan pengetahuan. Karunia perkataan berhubungan dengan pemberitaan kebenaran, sedang pengetahuan adalah sikap dan perilaku akan kebenaran.
Hal-hal tersebut dalam pandangan Paulus sesungguhnya merupakan kekayaan yang tidak ternilai. Namun perlu diingat bahwa, sekalipun banyak karunia yang dimiliki oleh jemaat Korintus, mereka belumlah sempurna, masih ada kekurangan dan kelemahannya. Kesempurnaan itu sendiri Allah lah yang mengerjakannya pada hari yang juga telah ditentukan-Nya.
Bila hati kita memang kaya dengan ucapan syukur, maka akan selalu ada alasan untuk mengucap syukur. Kita bisa melihat kebaikan Tuhan bukan hanya atas apa yang telah Ia kerjakan atau berikan kepada kita secara pribadi, namun juga atas apa yang telah Tuhan perbuat bagi yang lain, bila hati kita kaya dengan ucapan syukur. Jadi dapat kita katakan bahwa mengucap syukur juga merupakan kekayaan batiniah yang tidak ternilai. Doa dan ucapan syukur yang kita naikkan untuk semua orang akan membawa kita hidup tenang dan tentram dalam segala kesalehan dan itu adalah hal yang baik dan berkenan di hadapan Allah (1 Timotius 2:1-3).
Nats ini berisi mengenai sikap Paulus terhadap jemaat Korintus yang sedang bergejolak menghadapi persoalan moral, etika, perpecahan dalam persekutuan; disamping itu juga penolakan jemaat Korintus terhadap diri Paulus. Perikop ini terdiri dari beberapa bagian: Pertama, ucapan syukur Paulus (Ay. 4) kepada Allah yang menjelaskan bahwa walaupun dikecewakan oleh jemaat Korintus, ia tidak pernah kehilangan ucapan syukurnya kepada Allah.
Paulus hanya memusatkan perhatiannya pada hal-hal positif dari jemaat Korintus. Ia menghargai kemurahan Allah berupa kekayaan rohani jemaat tersebut. Kedua, Paulus tidak memuji kekayaan rohani jemaat Korintus karena walaupun jemaat ini memiliki beragam karunia tetapi jemaat tersebut menggunakan pemberian Allah tersebut untuk ajang kecongkaan yang menimbulkan kekacauan dalam kehidupan persekutuan, Hal ini Nampak pada kata "kasih" dan kata "pekerjaan" yang menjadi ciri khas Paulus dalam membuka surat-suratnya tidak disertakan.
Hal inilah yang menyebabkan Paulus tidak memuji jemaat Korintus karena walaupun mereka memiliki kekayaan rohani, pengetahuan, perkataan tetapi mereka miskin dalam kasih dan perbuatan atau pekerjaan baik. Berikutnya, Paulus mengingatkan jemaat Korintus untuk memiliki kewaspadaan terhadap kekayaan rohani anugerah Allah agar tidak menjadi batusandungan yang berakibat merusak citra persekutuan (Ay. 7-9).
Situasi sosial jemaat Korintus ketika itu berada di bawah kepemimpinan Gubernur Galio (55 M), di mana kehidupan mereka berkembang sangat pesat dalam hal perdagangan, kebudayaan, dan pendidikan. Jemaat di Korintus ikut menikmati kemajuan tersebut. Karena itu, Paulus menyebut mereka sebagai "jemaat yang tidak kekurangan dalam satu karunia pun. Jemaat di Korintus sangat beruntung, namun, tanpa disadari, mereka telah menjadi congkak dan puas diri sehingga keadaan jemaat menjadi kacau. Dalam jemaat terjadi berbagai penyimpangan moral seperti perilaku seks yang menyimpang, praktik penyembahan berhala, ketamakan dan perselisihan. Termasuk munculnya guru-guru agama yang membuat perbedaan golongan dan merusak iman jemaat.
Kondisi serupa bisa dan mungkin sedang terjadi dalam jemaat masa kini. Tak hanya dalam jemaat, tetapi juga dalam keluarga. Hal yang tak bisa ditepis bahwa banyak jemaat dan keluarga Kristen pecah karena penyebab yang serupa. Bangga dengan karunia masing-masing. Keliru dalam memandang dan mengelola pemberian yang diberikan oleh Allah kepadanya. Akibatnya hidup mereka menjadi berantakan.
Agar terhindar dari peristiwa serupa, sadarilah bahwa semua yang kita miliki, baik kekayaan, pengetahuan, jabatan adalah sebagai anugerah Allah. Kalau kita memiliki semua itu hanya karena anugerah Allah semata. Setiap saat Allah bisa mengambilnya dari kita dan kita tidak bisa berbuat apa-apa. Karena itu, mari menggunakan semua yang kita miliki untuk memuliakan Tuhan sembari menantikan kedatangan-Nya.
Tapi terlalu banyak dari kita masih melihat diri kita sebagai orang berdosa lama yang sama, yang sudah diampuni dan dibaharui namun pada dasarnya kita belum berubah di dalam. Tuhan mengatakan barang siapa ada di dalam Kristus "ia adalah ciptaan baru: yang lama sudah berlalu, sesungguhnya yang baru sudah datang (2 Kort 5:17)".
Itulah arti hidup dilahirkan kembali. Yesus tidak datang hanya untuk menyelamatkan saudara dari neraka, Dia ingin kita hidup oleh hidup-Nya dalam kita. Di dalam Kristus, kita akan memiliki identitas baru untuk menggantikan hidup lama. Sebagai orang yang memiliki kekayaan rohani marilah kita membuktikannya dalam pengetahuan, dalam perkataan dan perbuatan agar kita mengalami kenikmatan hidup secara bersama di dalam Tuhan Amin!. (f)
T#gs
Berita Terkait
Komentar
Komentar
Silakan Login untuk memberikan komentar.
FB Comments