Senin, 14 Okt 2019

RENUNGAN

Kasih dalam Pengajaran

* Oleh Pdt Sunggul Pasaribu
admin Minggu, 28 Juli 2019 13:10 WIB
Ada satu keluarga, mereka tidak pernah melewatkan makan bersama minimal satu kali setiap hari. Apakah pada pagi hari atau pada malam hari. Pada saat makan bersama inilah menjadi suatu kesempatan bagi masing-masing anggota keluarga, Ayah, Ibu dan anak-anak saling bercengkerama, menyampaikan masalah atau permohonan di antara sesama mereka.

Pada suatu hari, ketika mereka kumpul bersama saat makan, semua anggota keluarga duduk tertib menunggu antrian menu makanan yang akan dibagi si ibu. Setelah hidangan nasi berada di hadapan masing-masing, antrian menu berikut tampillah si ibu membagikan lauk ke piring masing-masing. Si ibu saat menyendok dan membagikan, ia pun berkata kepada anak yang satu : "Hei kamu.! karena kamu lasak maka bagianmu adalah kaki ayam ini", Lalu kepada anak yang lain, si ibu berkata ; "Hei, kamu.! Karena kamu rajin belajar dan juara di kelas maka bagianmu kepala ayam ini." Sedangkan kepada anak berikutnya, si ibu berkata : "Hei, kamu.! Karena kamu rajin, ulet, suka kerja keras ke sawah maka bagianmu adalah paha ayam".

Ceritera keluarga di atas menggambarkan, orangtua perlu menanamkan nilai-nilai pengajaran setiap hari dalam keluarga. Oleh karena tanggungjawab pengajaran terhadap anak maka orangtua senantiasa mendoakan, mendidik dalam jalan Tuhan, menasehati, membimbing, menyekolahkan dan memberi nafkah. Anak adalah anugerah pemberian Tuhan. Posisi anak dalam keluarga bukanlah sebagai pegawai orangtua, atau sebagai bawahan, atau sebagai objek. Tetapi Allah memberikan-Nya supaya orangtua mewariskan nilai-nilai pengajaran Firman Tuhan agar ia bertumbuh dan dewasa dalam iman.

Dalam Alkitab, bagaimana pendidikan anak dilakukan oleh orangtua dapat dilihat dalam tradisi orang Yahudi. Bagi keluarga orang Yahudi, peran orangtua wajib mendidik anak sebagai pewaris mereka. Bagi orang Yahudi pengajaran dilakukan begitu ketat sebagaimana mereka menaati dan menakuti HukumTaurat sebagai otoritas pengajaran Allah kepada umat-Nya. Jikalau Taurat sebagai pengajaran agama, maka demikian juga pengajaran kepada anak tidak boleh disepelekan.

Pengajaran akan pentingnya Taurat Tuhan (Hukum-hukum Agama Yahudi) terhadap anak dapat kita lihat dalam Ulangan 6:4-8, "Dengarlah, hai orang Israel: TUHAN itu Allah kita, TUHAN itu esa! Kasihilah TUHAN, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap kekuatanmu. Apa yang kuperintahkan kepadamu pada hari ini haruslah engkau perhatikan, haruslah engkau mengajarkannya berulang-ulang kepada anak-anakmu dan membicarakannya apabila engkau duduk di rumahmu, apabila engkau sedang dalam perjalanan, apabila engkau berbaring dan apabila engkau bangun. Haruslah juga engkau mengikatkannya sebagai tanda pada tanganmu dan haruslah itu menjadi lambang di dahimu."

Keharusan pengajaran kepada anak akan Taurat Tuhan, sedikitnya ada dua pengertian, Pertama, Pengajaran itu sebagai hukum. Artinya, si anak harus tunduk, taat, wajib menghayati dan melakukan Taurat Tuhan. Dalam hal ini, seorang anak dilarang untuk melawan nasehat, perintah, petunjuk orangtua. Adapun akibat yang diterima seorang anak yang berani melawan akan mendapat kutuk. Namun sebaliknya jika seorang anak melakukan Taurat Tuhan maka ia akan mendapat berkat dan panjang umur. Kedua, Pengajaran itu adalah Ibadah. Artinya, ketaatan kepada orangtua sama nilainya (disetarakan) dengan menaati Allah dan Taurat, karena orangtua dianggap adalah sebagai guru, yang mengajarkan Taurat itu di rumah.

Belakangan hari di Perjanjian Baru, pengajaran itu berubah terutama di zaman Tuhan Yesus. Model dan isi pengajaran yang dibawa Tuhan Yesus sedikit lebih radikal karena Tuhan Yesus menantang orangtua yang tidak melakukan Taurat. Artinya, isi pengajaran dan perilaku pengajar bukan pribadi yang terpisah. Hal itu dapat kita ketahui, ketika Tuhan Yesus dicari oleh orangtua-Nya dan akhirnya mereka bertemu Yesus di Synagoge. Kita mengetahui pernyataan Yesus di Synagoge, dikatakanNya : "OrangtuaKu adalah yang melakukan kehendak Bapa di surga, dialah saudaraKu, dialah Bapa, dan IbuKu." Tentu saja, alamat statemen Tuhan Yesus adalah mereka yang tidak melakukan kehendak Bapa di surga, bukan berarti Tuhan Yesus meniadakan faktor genealogis dan biologis.
Bukan itu maksudnya. Sebab seorang anak lahir dan hidup adalah bersama orangtua, keluarga dan lingkungan di mana seseorang itu bertumbuh dan berkembang. Di sini Tuhan Yesus menegur dan menasehati orangtua juga supaya turut melakukan kehendak Tuhan. Sebab orang tua bukan hanya sebagai pengajar tetapi juga sebagai pelaku Firman Tuhan.

Perlu menjadi perhatian kita bersama bahwa salah satu cara menangkal kejahatan sosial terhadap anak kita dewasa ini nampaknya gereja dan keluarga harus lebih memperhatikan pengajaran Firman Tuhan di rumah dan gereja. Pengajaran tidak boleh hanya diserahkan kepada institusi formal (sekolah) belaka. Panggilan kepada orangtua, pendidik, gereja dan pemerintah, supaya lebih meluangkan waktu, tenaga dan perhatian yang lebih serius terhadap pengajaran agar anak sebagai anugerah Allah menjadi berkat. Jikalau kita mengasihi anak maka kita harus memperhatikan pengajaran kepada mereka. Amin..! (q)
T#gs
Berita Terkait
Komentar
Komentar
Silakan Login untuk memberikan komentar.
FB Comments