Sabtu, 14 Des 2019
  • Home
  • Agama Kristen
  • Kandepag Gelar Sosialisasi Pembinaan Intern Kerukunan Umat Kristen se Kab Asahan

Kandepag Gelar Sosialisasi Pembinaan Intern Kerukunan Umat Kristen se Kab Asahan

Minggu, 01 Juni 2014 19:53 WIB
Kisaran (SIB)- Dalam mendukung terwujudnya masyarakat Asahan beriman, berkarakter serta rukun dalam kehidupan berbangsa dan bernegara, kantor Kementerian Agama  setempat mengadakan sosialisasi  pembinaan intern kerukunan umat Kristen mengikutsertakan pendeta, sintua maupun guru jemaat dari berbagai gereja se-Asahan. Kegiatan berlangsung di Sabty Garden Kisaran selama satu hari, Rabu (21/5). Moderator, Josafat Marbun SPAK MPdK, Kasi Pendidikan Keagamaan Bimas Kristen Kanwil Kementerian Agama Sumut.

Kakan Depag Asahan Drs Safii MA melalui Kasi Penyelenggara Kristen Paruntungan Pakpahan SPdK mengatakan, Indonesia merupakan negara multikultural dengan wilayah serta budaya yang berbeda-beda menjadikan masyarakatnya memiliki kepercayaan serta agama yang dianut berbeda pula. Dengan adanya perbedaan, bisa melahirkan konflik seperti terjadi di beberapa daerah di tanah air.

Konflik antar umat beragama menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari kehidupan berbangsa dan bernegara. Konflik berwajah agama perlu dilihat dalam kaitan-kaitan bermuatan politis, ekonomis maupun sosial budaya. Permasalahan tersebut tidak hanya menjadi tanggung jawab pemerintah semata tetapi harus pula menjadi tanggung jawab semua komponen bangsa terutama lingkungan tokoh-tokoh agama.

Konsep Tri Kerukunan antar umat beragama yang diberdayakan selama ini bertujuan supaya masyarakat Indonesia khususnya Asahan bisa hidup dalam kebersamaan sekalipun ada perbedaan. Salah satu bagian kerukunan itu adalah dialog agar lebih  komunikatif serta terhindar dari perdebatan teologis antar pemeluk  (tokoh) agama. Pesan-pesan agama yang sudah diinterpretasikan selaras dengan universalitas kemanusiaan menjadi modal terciptanya dialog yang harmonis.

Josafat Marbun dalam sesi tanya jawab dengan para peserta menyelaskan, faktor terpenting sebagai kendala dalam mencapai tujuan sebuah kerukunan antar umat beragama di Indonesia adalah rendahnya sikap toleransi. Munculnya sikap toleransi lazy tolerance sebagaimana diungkap P Knitter disebabkan dari pola perjumpaan tidak langsung (Indirect encounter) antar agama khususnya menyangkut persoalan teologi yang sensitif sehingga kalangan umat beragama merasa enggan mendiskusikan masalah-masalah keimanan.

Ditambahkannya, Data BPS tahun 2010 dari total jumlah penduduk sebanyak 15.812.324 jiwa. Keadaan umat beragama di Provsu, Agama Islam memiliki 10.450.232 jiwa atau 66,09%, Kristen 4.274.815 jiwa atau 27,03 %, Katholik 619.336 jiwa atau 3,97 %, Hindu 17.836 jiwa atau 0,11 %, Budha 308.101 jiwa atau 2,34 %, Konghucu 1.197 jiwa atau 0,01 % serta lainnya 6.196 jiwa atau 0,04 %.

Sementara untuk jumlah anggota gereja-gereja aras nasional, Persekutuan Gereja-Gereja di Indonesia ( PGI) sebanyak 87, Persekutuan Gereja-Gereja dan Lembaga-Lembaga Injili Indonesia (PGLiI) 84, Persekutuan Gereja-Gereja Pentakosta Indonesia (PGPI) 74, Gereja Orthodox di Indonesia (GOI) 1, Gereja Masehi Advent Hari Ketujuh Daerah Sumatera kawasan Utara (GMAHK) 1, Gereja Bala Keselamatan 1, Persekutuan Baptis Indonesia (PBI) 6 dan Persekutuan Tiongkok Indonesia 15.

Peserta dalam kegiatan tersebut, Pdt Yatos Ghoho STh (GKI Sumut), Pdt Okuli Letera Silitonga STh (GMI Amos), St H Hasibuan (GKPI Rawang), Pdm Lambok Hatigoran STh (GPDI Immanuel), Pdt Lammartua Simamora (Gereja Baptis Indonesia), Pdt Odor Sitohang STh 9 Gereja Bethel Indonesia), Pdt Kepos Dongoran STh (GPMI), Pdt Ibrahim Barus STh (GBKP), St Amir Hasibuan (HKBP Aek Tarum), Pdt Naftali Daily ( Gereja Pantekosta Tabernakel). (D3/f)




T#gs
Komentar
Komentar
Silakan Login untuk memberikan komentar.
FB Comments