Senin, 22 Jul 2019

RENUNGAN

Iman dan Keberanian yang Mengagumkan

* (Ester 5:1-8) Oleh Pdt Sunggul Pasaribu
admin Minggu, 14 Juli 2019 16:38 WIB
Apabila kita berada dalam kondisi yang menegangkan, kita harus berusaha tetap tenang. Sebab ketenangan dapat meminimalisir ketegangan. Orang yang terlatih untuk tenang dalam kondisi apapun lebih mudah tidak terpengaruh oleh situasi yang terjadi. Mereka sadar bahwa ketegangan hanya menimbulkan ketakutan dan kepanikan yang berujung pada kekacauan dan konflik batin. Karena itu dalam situasi yang menegangkan dibutuhkan orang-orang yang bisa mengambil keputusan positif, arif dan bijaksana.

Ester merupakan orang yang memiliki sosok tenang, cerdas, sehingga ia dapat meminimalisir rasa takut dalam dirinya. Melihat kondisi bangsanya yang berada di ambang kebinasaan, ia menyusun strategi untuk menghancurkan kejahatan Haman. Pertama, ia harus mendapatkan kasih dan restu dari raja untuk bisa menjebak Haman masuk dalam perangkapnya (Ester 5:1-3). Kedua, dengan sengaja ia mengundang raja dan Haman untuk menghadiri jamuan makan malam di kediamannya (Ester 5:4-5). Strategi ini dipakai Ester untuk menyenangkan hati raja. Mungkin saja ia belajar dari kesalahan Wasti. Sebab sedikit kesalahan dapat berakibat fatal. Jika hati raja senang, maka Ester lebih mudah memasukkan sugestinya kepada raja. Kalau raja murka, bisa saja kesempatan itu dipakai Haman untuk menghancurkan posisi Ester sebagai ratu.

Namun, Ester terlihat sangat hati-hati, tenang, dan penuh perhitungan yang matang. Hal ini terlihat ketika Ester tidak langsung menyampaikan maksudnya, tetapi meminta kepada Raja untuk berkenan menerima jamuan yang berikutnya (6-8). Selain itu, tujuan jamuan itu adalah untuk membuat Haman lupa diri dan terbuai oleh kesombongannya (9a).

Ketenangan yang diperlihatkan oleh Ester patut diacungi jempol dan dapat dijadikan teladan. Tanpa ketenangan seperti itu mustahil semua pihak dapat menyampaikan idenya dengan baik. Selain perasaan tenang, dibutuhkan juga kemurnian hati. Dengan kolaborasi dua sikap ini, maka bangunan dialog dapat terjaga dengan baik dan memberikan hasil yang positif dan konstruktif.

Strategi dan tindakan Ratu Ester di tengah-tengah situasi kritis yang dihadapi oleh bangsanya sebenarnya ia dapat memilih untuk tidak peduli. Ester dapat memilih mempertahankan zona nyamannya (comfort zone) sebagai seorang ratu. Usaha pembelaan Ratu Ester kepada bangsanya mengandung risiko tinggi yaitu dia berada di bawah ancaman hukuman mati karena berani menghadap raja Ahasyweros tanpa diundang.

Namun apabila ia tidak menghadap raja Ahasyweros, Ester dipastikan akan selamat. Ratu Ester akan menikmati hidup yang aman dalam kelimpahan seorang ratu. Tetapi tidaklah demikian sikap Ester sebagai seorang ratu. Dia memilih untuk berpihak membela dan menyelamatkan nyawa bangsanya walau dengan mempertaruhkan nyawanya sendiri. Kedudukan, kekuasaan dan kelimpahan fasilitas sebagai seorang ratu tidak menjadikan Ester silau dan takabur, atau lupa diri. Dia sadar akan identitas dirinya sebagai orang Yahudi dan tidak dapat dilepaskan dari kecintaannya untuk menyelamatkan bangsanya.

Tetapi keberanian dan perasaan nasionalisme untuk membela bangsanya tidaklah cukup. Sekadar modal nekat justru akan menghasilkan kematian yang sia-sia. Sebaliknya keberanian Ratu Ester didasari dengan sikap iman, hikmat dan kecerdasan, serta kecantikannya. Pembelaan Ratu Ester membuahkan hasil karena sikap imannya yang total kepada Allah sehingga dikaruniai hikmat -kecerdasan untuk menyikapi suatu ancaman dan bahaya yang begitu mengerikan. Ratu Ester juga menggunakan kecantikannya untuk memengaruhi persepsi dan daya tariknya di hadapan raja Ahasyweros. Dia menggunakan seluruh daya untuk menyelamatkan bangsanya dari ancaman genosida. Cinta kepada bangsanya lebih besar daripada cintanya kepada diri sendiri.

Spirit tokoh Haman yang merencanakan dan melakukan genosida kepada orang-orang Yahudi pada era milenial dinyatakan dalam bentuk ujaran kebencian kepada etnis, suku dan agama. Ujaran kebencian yang mematikan itu kini dipraktikkan melalui media sosial, mitra kerja, hubungan personal, hubungan senior-yunior, hubungan sosial antar umat beragama, dan sebagainya. Dengan kecanggihan Artificial Intelligence (kecerdasan buatan) saat ini kita mampu melakukan pekerjaan yang super cepat (efisien), tepat (efektif) dan berkualitas.

Sikap yang perlu kita memiliki dengan mengandalkan anugerah Tuhan kita dapat memilih peran menjadi media manifestasi seperti tokoh Ratu Ester yang mencintai sesamanya tanpa syarat. Di dalam Kristus kita dimampukan untuk menghadirkan kembali spirit tokoh Ratu Ester yang berani meninggalkan zona nyamannya, membela, dan memperjuangkan keselamatan bangsanya. Syaratnya adalah apabila kita bersedia mencintai sesama lebih besar daripada kita mencintai diri sendiri. Panggilan itu dapat kita laksanakan apabila hidup kita hanya berlandaskan iman kepada Allah di dalam Kristus, menerapkan hikmat-kecerdasan dan kompetensi yang dianugerahkan Tuhan.

Relevansi makna hari penentuan yang dinarasikan dalam Kitab Ester 5:1-8 yang kita hadapi pada masa kini bukan hanya menyangkut keselamatan pribadi atau anggota keluarga, tetapi juga berkaitan dengan keselamatan orang-orang yang di sekitar kita. Dewasa ini warga gereja dan masyarakat sedang menantikan tokoh seperti Ester yang beriman dan berani menerobos zona nyaman diri sendiri demi memperjuangkan kepentingan publik dan jemaat. Marilah kita doakan dan kita bangun komitmen untuk menumbuhkan sikap solidaritas dan soliditas kepada sesama manusia. Amin.! (d)
T#gs
Berita Terkait
Komentar
Komentar
Silakan Login untuk memberikan komentar.
FB Comments