Jumat, 24 Jan 2020

Refleksi Advent dan Natal 2019

Diakonia Gereja Sebagai Upaya Pemberantasan Kemiskinan

Oleh Pdt Dr Andar Gomos Pasaribu (Pendeta HKBP, saat ini bertugas di UEM Jerman)
redaksi Minggu, 01 Desember 2019 18:48 WIB
Foto: SIB/Dok
Oleh Pdt Dr Andar Gomos Pasaribu (Pendeta HKBP, saat ini bertugas di UEM Jerman)
Pengentasan kemiskinan telah menjadi bagian pergumulan bersama sejak lama walaupun masih berlangsung hingga kini. Kampanye Perserikatan Bangsa-bangsa (PBB) yang dikenal dengan Sustainable Development Goal (SDG) 2015-2030 telah mencanangkan pilar pertamanya yaitu: "Mengakhiri segala bentuk kemiskinan di setiap tempat" (End poverty in all its forms everywhere). Kampanye pengentasan kemiskinan PBB sebelumnya yakni Millenium Development Goals 2005-2015 tentang pemberantasan kemiskinan dan kelaparan dinilai belum memenuhi harapan. Walaupun kemiskinan telah mengalami penurunan drastis sejak tahun 1990, namun hingga saat ini, satu dari 10 orang masih hidup di bawah pendapatan perkapita terendah yang diakui secara internasional, yaitu 1,90 US $ perhari. Fakta bahwa kemiskinan akan terus menjadi bagian dari masyarakat, membuat Kristus pun harus mengakuinya: "Karena orang-orang miskin selalu ada padamu" (Matius 26:11).

Diakonia Mengentaskan Kemiskinan
Di dunia Barat khususnya di Jerman, lembaga-lembaga diakonia memang berdiri sendiri di luar struktur gereja. Diakonia sendiri berakar dari pengajaran dan pelayanan Yesus Kristus yang murah hati. Tanpa empati dan solidaritas maka makna Diakonia akan kehilangan tujuan teologisnya. Sikap yang perlu dimiliki oleh para pelayan di ladang Diakonia adalah kesabaran untuk mendengar, kesediaan menuntun mereka yang buta, mau mencium keringat anak-anak jalanan, menghibur mereka yang dirampas lahannya, ada waktu khusus untuk berdoa dan beribadah, terus belajar dari orang-orang pinggiran dan yang miskin.

Mengapa orang-orang miskin dan masyarakat pinggiran dapat menjadi guru, inspirator dan teladan terbaik? Sebab dengan kekurangan dan kemiskinan mereka mengajar kita bahwa ternyata mereka mampu bertahan hidup di tengah segala bentuk ketidakadilan. Bukankah di sekeliling kita menemukan tentang orang-orang yang berstatus sosial yang mapan dan terhormat, memiliki pekerjaan menetap, menduduki sejumlah jabatan, memiliki warisan, namun justru dari kalangan mereka yang terlihat miskin rohani, serba kekurangan dalam kecukupan, tamak, tidak pernah berkata cukup. Pemahaman ini ditegaskan kembali oleh Dewan Gereja-gereja se-dunia (WCC) melalui pesan teologisnya: "Mission from the Margins" (Misi dari orang-orang pinggiran).

Dengan gambaran dan realitas warga gereja dewasa ini maka gereja harus meninggalkan mentalitas diakonia lama yang meletakkan orang-orang miskin dan kaum papa sebagai obyek dari pelayanan diakonia. Memang benar, Alkitab sendiri memahami kaum pinggiran sebagai pemeran utama dalam perjalanan sejarah umat Kristen, sebagaimana tertulis dalam Surat 1 Korintus 1 ayat 27, mengatakan: "Tetapi apa yang bodoh bagi dunia, dipilih Allah untuk memalukan orang-orang yang berhikmat dan apa yang lemah bagi dunia, dipilih Allah untuk memalukan apa yang kuat...."

Faktor Penyebab Kemiskinan
Pertama, kemiskinan yang disebabkan oleh ketidakadilan sistem perekonomian dan korupsi adalah kejahatan dan dosa. Kedua, kemiskinan tidak selalu disebabkan oleh kemalasan dan kebodohan. Kemiskinan sering muncul sebagai dampak dari proses ketidakadilan yang diakibatkan oleh sejarah kelam kolonialisme barat di masa yang lalu. Ketidakadilan sistem ekonomi telah menciptakan dunia yang penuh dengan diskriminasi dalam berbagai bentuk yang kemudian menciptakan jurang antara "the haves" sebagai minoritas dan masyarakat miskin sebagai mayoritas. Ketiga, gereja sendiri sering menjadi tempat yang tidak nyaman bagi orang-orang miskin dan terpinggirkan. Gereja sering lebih memilih berdiri bersama dengan para pemegang kekuasaan dan pemilik modal yang tidak berpihak kepada warga miskin.

Diakonia Transformatif
Secara umum, kita mengelompokkan tiga jenis pelayanan diakonia: Diakonia karitatif, reformatif dan transformatif. Dalam pelayanan diakonia dewasa ini, pendekatan yang paling efektif adalah diakonia transformatif. Strategi yang diterapkan adalah memberdayakan kehidupan umat dalam menjalani kehidupan yang lebih layak. Diakonia hendaknya dipahami bukan sekedar pelayanan gawat darurat dan distribusi bantuan bagi para korban atau mereka yang terimbas bencana. Peran diakonia transformatif adalah pendampingan dan pemberdayaan warga gereja dan masyarakat miskin agar mereka mampu hidup normal di tengah-tengah masyarakat.

Diakonia transformatif tidak sekedar diterjemahkan di dalam pelayanan altar, namun harus menyentuh pergumulan sosial dan politik dari berbagai kelompok masyarakat. Pendekatan Diakonia ini mampu menelusuri akar dari kemiskinan dan mencari berbagai solusi sosial, politik dan ekonomi bagi usaha pengentasan kemiskinan. Pelayanan Diakonia bertugas sebagai pengawal dan mengkritisi kebijakan pengambil keputusan di level lokal dan nasional bahkan di dunia internasional bila tidak berpihak kepada masyarakat miskin.

Misi Kristus
Masalah global kemiskinan adalah sebuah realita keji yang harus diperangi, karena kemiskinan bukan hanya merusak standard kehidupan manusia, namun yang terburuk adalah memporak-porandakan harga diri kemanusiaan yang telah dibentuk oleh Allah dengan sangat baik (Kejadian 1 ayat 31). Kemiskinan harus dilihat sebagai tergerusnya nilai-nilai kehidupan yang vital seperti makanan, pakaian, pekerjaan, kearifan lokal, sukacita, hidup yang berkeutuhan, keadilan, kebebasan dan perdamaian. Kemiskinan secara teologis dipahami sebagai keberdosaan dan pelanggaran hak-hak asasi manusia yang harus dihentikan. Alkitab berkata, Allah sendiri membela dan membebaskan mereka yang tertindas dan yang lemah (Lukas 4 ayat 18-19).

Para pekerja dan pimpinan gereja seyogyanya memahami bahwa faktor kemiskinan masyarakat dan warga gereja adalah bagian dari realita kemiskinan dan ketidakadilan sistem perekonomian yang mengakibatkan pertumbuhan ekonomi menjadi sangat liar dan tidak terkendali. Dalam dokumen "Together towards Life: Mission and Evangelism in Changing Landscapes" yang dikeluarkan oleh Dewan Gereja-gereja Sedunia (DGD) terdapat sebuah rekomendasi bagi terciptanya sebuah keadilan ekonomi yang tentu harus menjadi bagian pelayanan diakonia transformatif bagi gereja-gereja di Indonesia. Berdiakonia bertujuan menghadirkan "Ekonomi Allah" yang dilandaskan oleh nilai-nilai cinta kasih dan keadilan.

Kita prihatin dengan kemiskinan yang merajalela dewasa ini seperti "mammonisasi", yang men-tuhankan pasar bebas kapitalisme, di mana kemakmuran dan kekayaan selalu menjadi tolak ukur dari sistem kapitalisme ekonomi. Diakonia yang berkeutuhan merupakan perjuangan untuk menghadirkan ekonomi ke-Tuhanan, di mana kemiskinan hanya dapat dibabat jika umat Tuhan terpacu dalam mewujudkan ekonomi yang berbelas kasih, yang berbagi dan yang berkeadilan.
Rekleksi Advent dan Natal

Bila selama ini gereja alpa mengangkat derajat orang miskin maka dalam merayakan advent dan natal yang sudah diambang pintu maka tema dan kebajikan advent dan natal saat ini hendaknya dialamatkan kepada kaum miskin, yatim piatu, orang pinggiran, penyapu jalan, orang sakit, yang di penjara. Inilah kiranya menjadi panggilan komunitas Kristen di Indonesia bersama dengan kelompok masyarakat lintas agama dalam mewujudkan sebuah rumah bersama (Oikumene) di mana seluruh penghuninya hidup di dalam naungan keadilan dan perdamaian dalam momentum Advent dan Natal yang sedang dan akan kita rayakan. Semoga. (q)
T#gs
Berita Terkait
Komentar
Komentar
Silakan Login untuk memberikan komentar.
FB Comments