Sabtu, 19 Okt 2019

RENUNGAN

Berawal Tanpa Berakhir

* (Wahyu 22: 12-17) Oleh Pdt Sunggul Pasaribu
admin Minggu, 23 Juni 2019 16:27 WIB
Menurut kitab Pengkhotbah 3:1, "Untuk segala sesuatu ada masanya, untuk apapun di bawah langit ada waktunya". Artinya, tidak ada yang abadi di dunia ini, ketika kita mengawali sesuatu pekerjaan atau jabatan namun pada waktunya harus diselesaikan dan berakhir juga. Oleh karena itu, segala sesuatu yang kita awali hendaknya berangkat dengan niat yang baik, setiap langkah dan pekerjaan yang kita lakukan didahului dengan semangat dan doa, agar Tuhan tidak menghentikan makna dan tujuan perbuatan kita.

Penulis kitab Wahyu, yaitu Yohannes sebagai penerima wahyu ini berinspirasi tentang hakekat keIllahian tentang masa depan orang percaya sebelum kita tiba di hadirat-Nya kelak. Kitab Wahyu ditulis sekitar tahun 95-96 M pada zaman pemerintahan Domitianus yang ditujukan kepada ketujuh jemaat di dataran Asia Kecil, pada waktu itu terjadi penganiayaan yang menjangkau wilayah-wilayah yang lain dari kekuasaan Roma. Domitianus mengasingkan orang ke berbagai tempat pengasingan. Inilah latar belakang kitab ini ditulis untuk orang-orang Kristen ketika mengalami penganiayaan pada waktu itu (Wahyu 1:9), juga bagi gereja sepanjang masa, dalam pengharapan eskatologisnya. Tujuannya untuk meneguhkan orang percaya dalam berbagai pergumulan karena imannya, dengan mengungkapkan bahwa Mesias tetap memegang kendali dan pada akhirnya akan menjadi pemenang. Sejalan dengan tujuan ini, maka orang yang menafsirkan Wahyu dengan satu aliran saja akan kehilangan banyak yang disiratkan dalam kitab ini.

Kata Alfa dan Omega dalam kitab Wahyu (Wahyu 22:13) menunjuk kepada otoritas Tuhan atas dunia dan ciptaan-Nya. Otoritas yang dikemukakan oleh penulis kitab ini dimaksudkan supaya orang percaya senantiasa tabah, tahan uji, setia sampai akhir, dan berani mati sahid (martir) demi mempertahankan kebenaran Kristus yang diimani. Sebab Allah sendiri mengawali perbuatan-Nya tidak akan menelantarkan manusia. Artinya, bagi umat Tuhan yang menderita oleh berbagai hal di dunia ini maka akhir dari segala sesuatu akan diselesaikan Tuhan dengan keselamatan, kebahagiaan dan hidup kekal. Akhir dari segala sesuatu tidaklah kematian, bukan hukuman atau kutuk duniawi. Allah justru akan mengakhiri-Nya dengan keselamatan badani dan jiwa.

Oleh karena otoritas awal dan akhir tersebut maka Tuhan pun berjanji, memberi keyakinan, Aku datang segera (Bahasa Yunani, erchomai tachy, dalam bentuk present tense, yaitu; waktu kekinian). Artinya, kedatangan-Nya sudah dekat - sudah berlangsung. Namun kedatangan Kristus tidak mudah untuk dipahami, kata 'datang segera' mengisaratkan tentang "pengadilan dan penghakiman". Pada waktunya, Dia akan memberikan "upah, hadiah, reward (penghargaan)" sesuai dengan perbuatan kita, pada saat itulah keadilan akan benar-benar diberlakukan. Istilah segera menunjukkan kepastian datangnya parousia (kedatangan kedua kalinya) di mana Tuhan memberikan upah kepada mereka yang menunjukkan dan berperilaku baik sebagai hadiah namun Tuhan akan memberi hukuman atas perbuatan dosa dan kejahatan manusia. Adapun punish (hukuman) atau reward (penghargaan atau hadiah) diberi kepada penilaian secara individu.

Kita patut bersyukur kepada Allah, oleh karena iman dan kesetiaan kita di dalam Yesus Kristus kita beroleh keselamatan secara cuma-cuma. Ingatlah pesan ini : "Sebab karena kasih karunia kamu diselamatkan oleh iman; itu bukan hasil usahamu, tetapi pemberian Allah," (Efesus 2:8). Jadi kita harus menyadari bahwa tidak ada sesuatu yang baik di dalam diri manusia yang membuat kita layak untuk diselamatkan. Keselamatan yang kita terima itu bukan karena kita melakukan perbuatan baik. "Dialah yang menyelamatkan kita dan memanggil kita dengan panggilan kudus, bukan berdasarkan perbuatan kita," (2 Timotius 1:9). Jadi "...jangan ada orang yang memegahkan diri." (Efesus 2:9). Kita telah memeroleh kasih karunia ini (keselamatan) maka kita wajib untuk melakukan perbuatan-perbuatan baik yang telah dipersiapkan oleh Allah sebelumnya (Efesus 2:10).

Allah menyediakan upah bagi orang-orang yang percaya. Namun upah akan diberikan bagi mereka yang bekerja bagi Tuhan, "Sebab Anak Manusia akan datang dalam kemuliaan Bapa-Nya diiringi malaikat-malaikat-Nya; pada waktu itu Ia akan membalas setiap orang menurut perbuatannya" (Matius 16:27). Marilah kita mengerjakan keselamatan yang telah kita terima itu dengan ketaatan, dan gunakan waktu yang ada untuk bekerja bagi Tuhan dan melayani Dia. Hendaknya yang mendorong dan memotivasi kita untuk berkarya bagi Tuhan bukan semata-mata karena upah, melainkan karena kita mengasihi Tuhan yang rela mengorbankan nyawa-Nya untuk menebus dosa-dosa kita. Jerih lelah kita untuk melayani Tuhan itu tidak akan pernah sia-sia. Sekecil apa pun yang kita perbuat kepada salah seorang yang kecil di bumi dan juga untuk Kerajaan Allah, Tuhan berkata, "Sesungguhnya ia tidak akan kehilangan upahnya dari padanya" (Matius 10:42b). Rasul Paulus juga menyatakan, "Baik yang menanam maupun yang menyiram adalah sama; dan masing-masing akan menerima upahnya sesuai dengan pekerjaannya sendiri." (1 Korintus 3:8).

Oleh karena Allah adalah yang bermula dan yang mengakhiri maka hendaknya kita jangan putus atas, jangan jemu-jemu berbuat baik, jangan tawar hati menantikan kedatangan-Nya. Sebab Ia segera datang untuk memberikan hadiah yaitu hidup yang kekal. Amin.!
T#gs
Berita Terkait
Komentar
Komentar
Silakan Login untuk memberikan komentar.
FB Comments