Jumat, 24 Jan 2020

Renungan

Bagaimana Hidup di Jalan Tuhan? (Mazmur 25:8-15)

Oleh Pdt Sunggul Pasaribu
bantors Minggu, 13 Oktober 2019 11:15 WIB
Pdt. Sunggul Pasaribu,STh,MPAK
Selama kita hidup di dunia pastilah menemukan persimpangan jalan yang terbentang di depan mata. Jika kita bertemu persimpangan jalan yang belum kita ketahui arah ke mana tujuan akhirnya maka kita bisa menjadi tersesat bila malu bertanya. Jalan hidup masa lalu si pemazmur hampir membawanya tersesat tetapi di pertengahan jalan ia sadar, mengaku dan segera berpaling menempuh jalan Tuhan sehingga ia beroleh selamat.

Si pemazmur mulai dengan seruan bahwa ia mengarahkan jiwanya kepada Tuhan. Ia mau mempercayakan hidupnya kepada Allah. Ia mau mengandalkan Allah, agar hidupnya bermakna, tidak sia-sia, hidup yang memalukan dan memilukan. Ia menaruh harapan dan kepercayaannya kepada Allah karena berdasarkan pengalaman ternyata orang yang berharap pada Allah tidak dipermalukan (ay 3). Selanjutnya, si pemazmur memohon pengajaran dan kebenaran, yang diungkapkan dalam metafor jalan. Ia meminta agar Allah sudi menuntun dia di jalan-jalan Allah. Yang menarik ialah bahwa ia mendasarkan permohonan ini pada pengalaman sejarah: Ingatlah segala rahmat-Mu dan kasih setia-Mu, ya TUHAN, sebab semuanya itu sudah ada sejak purbakala.

Dalam ayat 7 ia memohon pengampunan dosa, terutama dosa masa muda. Mungkin pada masa muda orang melakukan kesalahan dan keteledoran dalam semangat muda yang berlebihan. Atas dosa seperti itu ia memohon pengampunan Allah. Menarik juga bahwa ia mendasarkan keberanian memohon pengampunan dosa ini atas dasar pengalaman sejarah. Ia meminta kepada Tuhan agar dosanya dihapuskan berdasarkan kasih setia dan kebaikan Allah.

Setelah mengajukan dua permohonan dalam penggal terdahulu, kini pemazmur membentangkan pemahaman dan pengalamannya akan Allah. Pemahaman dan pengalaman ini juga yang mendorong dia berani menyampaikan permohonan tadi. Beginilah pengakuan si pemazmur : TUHAN itu baik dan benar. Dalam martabat seperti itu Tuhan menunjukkan jalan, membimbing orang, mengajarkan jalanNya. Jalan Tuhan itu sendiri adalah kasih setia dan kebenaran. Maka sekali lagi berdasarkan paham Allah seperti ini, ia berani memohon ampun atas dosanya (ay 11). Walau dimulai dengan pertanyaan dalam ayat 12-14 ini sesungguhnya adalah suatu pemaparan tentang keyakinan teologis bahwa orang yang takut akan Tuhan akan dituntun Tuhan, akan menjadi bahagia, akan berkuasa di bumi ini. Tuhan sudi menjalin relasi persahabatan dan keakraban setiap orang.

Oleh karena itu nats ini hendak mengajarkan agar kita menempuh tiga jalan sebagaimana pengakuan sang penulis kitab mazmur ini, yaitu ;

1. Mau merendahkan diri
Dalam pengakuannya berkata, "Ia menunjukkan jalan kepada orang yang sesat. Ia membimbing dan Ia mengajarkan jalanNya kepada orang-orang yang rendah hati" (ay 8-9). Tuhan tidak menghendaki kita tersesat, kita dibimbing dan diajarkan jalan-Nya. Meski Allah berjanji tetapi dibutuhkan kerendahan hati kita! Apa arti rendah hati? Bahasa Yunani "praios" memiliki arti, disamping rendah hati juga lemah lembut, yaitu seseorang yang menyerah atau tergantung total kepada Tuhan! Maka orang yang rendah hati tidak sombong, tidak mengandalkan kekuatan sendiri, mau dibimbing, mau diajar, mau dinasihati dan mau melayani sesamanya. Tuhan Yesus, berkata, "Aku membasuh kakimu …kamupun wajib saling membasuh kaki sesamamu" (Yoh 13: 14). Siapa yang bertugas membasuh kaki?. "Tetapi orang-orang yang rendah hati akan mewarisi negeri dan bergembira karena kesejahteraan yang berlimpah-limpah" (Maz 37:11).

2. Mau mengakui kesalahan
Pemazur mengaku dan bermohon, "ampunilah kesalahanku, sebab besar kesalahan itu" (ay 11). Penulis kitab ini dengan kerendahan hati menyadari dan mengakui kesalahan serta mau meminta pengampunan. Tujuannya adalah agar kiranya Tuhan berkenan mengampuni kesalahan dan dosanya! Karena dosa adalah "yang merupakan pemisah antara kamu dan Allahmu" (Yes 59:2). Pemazmur menyadari betapa banyak perilaku dan perbuatan dosa pada masa lalunya! Rasul Yakobus berkata "Karena itu hendaklah kamu saling mengaku dosamu supaya kamu sembuh" (Yak 5:16), sembuh secara jasmaniah dan rohaniah! Marilah kita saling mengampuni! Tuhan Yesus berkata "Tetapi jikalau kamu tidak mengampuni orang, Bapamu juga tidak akan mengampuni kesalahanmu" (Mat 6:15). Jika kita tetap hidup dalam dosa dan tidak terampuni maka dikatakan "membuat Dia menyembunyikan diri terhadap kamu, sehingga Ia tidak mendengar" (Yes 59:2) dan Rasul Paulus berkata, "upah dosa ialah maut" (Rom 6:23)!
3. Mau membina keakraban

Inilah kesaksian peMazmur tentang kebaikan Tuhan dengan orang yang dikasihi-Nya, "Tuhan bergaul karib dengan orang yang takut akan Dia" (ay 14). Kemauan Tuhan "bergaul karib" dalam arti kata seperti yang dinyatakan Tuhan Yesus "Tinggallah di dalam Aku dan Aku di dalam kamu" (Yoh 15:4). Dalam hal ini orang yang bergaul dengan Tuhan akan merasa akrab, karib! Dengan keakraban kita kepada Tuhan maka akan ada rasa hormat dan takut akan Tuhan. Dengan adanya rasa takut kita menghargai dan menghormati Tuhan yang Maha Kuasa dan yang Maha Dahsyat! Dengan rasa takut kita tidak berbuat dosa lagi! Penulis Amsal berkata, "jikalau engkau mencarinya, mengejarnya maka engkau akan memperoleh pengertian tentang takut akan Tuhan" (Ams 2:4-5). Amin!
T#gs
Berita Terkait
Komentar
Komentar
Silakan Login untuk memberikan komentar.
FB Comments