Kamis, 19 Sep 2019

Apa Makna Hari Pentakosta yang Sesungguhnya?

Catatan Pdt Dr Luhut P Hutajulu
admin Minggu, 09 Juni 2019 09:53 WIB
Kita manusia tidak bisa lepas dari kebutuhan. Kita butuh dikagumi, dicintai, dipelihara, dijaga, disembuhkan, dipulihkan, dikasihi, dikasihani, Selanjutnya, kita butuh ditemani, diterima, diampuni, didamaikan, didampingi, dimengerti, ditolong, diakui, disambut, dihargai, dan dirangkul. Kita pun butuh dibimbing, dihibur, dibesarkan hati, diarahkan, dibisiki, ditopang, diberi petunjuk, diberi masukan, diberi pegangan dan diberi kebebasan.

Semua itu merupakan kebutuhan dasar kita. Bagaikan sudah menyelami semua kebutuhan kita. Tuhan lalu memenuhi kebutuhan itu satu persatu. Kita butuh dikagumi. Maka Tuhan pun mengagumi kita sehingga pada awal Alkitab sudah tertulis bahwa kita dinilai "sungguh amat baik" (Kej.1:31). Kita butuh dihibur. Maka pada akhir Alkitab tercatat bahwa Tuhan pun "menghapus segala air mata" (Why 21:4).. Begitu banyak yang Tuhan perbuat. Kita sulit membayangkannya. Ada kemungkinan bahwa sesuatu yang terlalu banyak jadi membingungkan dan akhirnya diremehkan. Karena begitu banyak yang Tuhan perbuat, mungkin sulit memahaminya. Untuk menolong agar kita bisa memahami kepelbagaian pekerjaan Tuhan, gereja abad -abad pertama bergumul dan mengembangkan sebuah ajaran. Allah yang terus mengasihi dan menyelamatkan kita. Gereja merumuskan bahwa Allah yang satu hadir dengan tiga cara berada, yaitu sebagai Allah Bapa, Allah Putra, dan Allah Roh. Dengan pemahaman inilah kita memahami arti hari raya Pentakosta.

Pentakosta, artinya "Lima puluh. 50 berarti 40+10, 40 hari setelah Paskah adalah hari Kenaikan Yesus ke Sorga. Dan 10 hari setelah hari Kenaikan itu adalah hari Pentakosta. Artinya, 50 hari setelah Paskah. Itu makna semantiknya. Namun apa makna hari Pentakosta yang sesungguhnya?

Dengan kebangkitan-Nya, Yesus telah menyelesaikan misi khusus-Nya. Tapi masih ada pekerjaan yang harus dilanjutkan oleh murid-murid-Nya. Oleh sebab itu, selama 40 hari Ia mempersiapkan mereka. Tidak langsung kembali ke sorga. Dan mereka tak boleh langsung bekerja. Sebab yang perlu bagi mereka bukan saja dibina, tetapi juga membina diri. Sepuluh hari lamanya mereka mempersiapkan diri dalam persekutuan dan dalam doa. Mengendapkan pengalaman masa silam. Membuka diri menyongsong masa depan.

Siapakah sesungguhnya Roh Kudus itu? Untuk menjawab ini, akan dijelaskan melalui pertanyaan-pertanyaan ini. Tanya: Sejak kapan ada Yesus? Jawab: Sejak Natal. Tanya: Sejak kapan ada Roh Kudus? Jawab: Sejak Pentakosta. Kedua jawaban itu salah. Mungkin tampak sepele, tetapi kesalahan itu bisa menjadi penyebab berbagai kerancuan paham tentang Roh Kudus dan penyalahgunaan nama Roh Kudus. Di belakang kesalahan itu ada anggapan sebagai berikut. Mula-mula ada Allah, lalu ada Yesus, dan setelah itu ada Roh Kudus. Kitab Kejadian menceritakan tentang Allah, kitab Injil menceritakan Yesus, dan Kisah Para Rasul menceritakan Yesus, dan Kisah Para Rasul menceritakan Roh Kudus. Dengan anggapan itu kita telah memisahkan Roh Kudus dari Yesus dan memisahkan Yesus dari Allah. Itulah akar kesalahannya. Yesus bukan baru ada sejak Natal, melainkan sudah ada sebelum penciptaan alam. Kalimat pertama Injil Yohanes berbunyi, "Pada mulanya adalah Firman, Firman itu bersama-sama dengan Allah dan Firman itu adalah Allah…Firman itu telah menjadi manusia dan diam di antara kita…"(Yoh.1:1,14). Pengakuan iman Nicenium (rumusan tahun 325 s.d 451) menegaskan,'Dan kepada satu Tuhan, Yesus Kristus, Putra Allah yang tunggal, yang lahir dari Sang Bapa sebelum ada segala zaman…"

Roh Kudus bukan baru ada sejak Pentakosta, melainkan sudah ada sebelum penciptaan. Kalimat pertama Kitab Kejadian berbunyi, "Pada mulanya Allah menciptakan langit dan bumi. Bumi belum berbentuk dan kosong, gelap gulita menutupi samudera raya, dan Roh Allah melayang-layang di atas permukaan air" (Kej.1:1,2). Niceanum merumuskan, "Aku percaya kepada Roh Kudus, yang jadi Tuhan dan yang menghidupkan…" Oleh sebab itu, kita keliru jika menganggap Natal dan Pentakosta sebagai urutan kronologi.

Pengakuan Iman Athanasium (rumusan abab ke-6 s.d ke-8) menegaskan, "Dalam ketritunggalan ini tidak ada lebih dahulu, atau yang lebih kemudian, tidak ada yang lebih tinggi, atau yang lebih rendah…"Mungkin salah anggapan itu disebabkan karena kita terjebak pada kronologi yang dibuat oleh Lukas dalam Kisah Para Rasul 2:1-13. Ia menghubungkan manifestasi Roh Kudus dengan hari raya panen Yahudi yang bernama Pentakosta, lima puluh hari setelah kebangkitan Yesus. Yohanes tidak membuat selang waktu seperti itu. Ia menghubungkan manifestasi Roh Kudus langsung dengan kebangkitan Yesus pada penampakan di depan para rasul. Tulis Yohanes, "Dan sesudah berkata demikian, Ia menghembusi mereka dan berkata: "Terimalah Roh Kudus".(Yoh.20:22) Rasul Paulus menguraikan dengan lebih berbobot, namun lebih susah. Ia tidak menghubungkan Roh Kudus dengan Pentakosta, tetapi langsung dengan penderitaan dan kebangkitan Yesus, di mana Yesus dipermuliakan sehingga kita juga ikut dipermuliakan. Tulisnya, "Semua orang yang dipimpin Roh Allah, adalah anak Allah …dan jika kita adalah anak, maka kita juga adalah ahli waris, maksudnya orang-orang yang berhak menerima janji-janji Allah, yang akan menerimanya bersama-sama dengan Kristus, yaitu jika kita menderita bersama-sama dengan Dia, supaya kita juga dipermuliakan bersama-sama dengan Dia" (Rm.8:14,17). Tema perikop ini (ay 1-17) adalah kehidupan baru yang diberikan kepada kita sebagai buah Roh Allah dan Roh Yesus pada penyaliban dan kebangkitan Yesus. Juga dalam beberapa surat lain, Paulus menunjukkan Roh Kudus sebagai Roh Yesus yang bermanisfestasi pada kematian dan kebangkitan Yesus.

Pegangan apa yang hendak dikemukakan di sini? Pegangan itu adalah bahwa Roh Kudus tidak boleh dipandang terpisah dari Yesus. Lukas pun tidak memisahkan Roh Kudus dari Yesus, meskipun ia membuat selang waktu antara Paskah dan Pentakosta, sebab dalam pasal yang sama ia menggarisbawahi khotbah Petrus tentang kaitan Roh Kudus dengan Yesus yang 'ditinggikan'melalui kebangkitan-Nya (lih.Kis.2 terutama ay.24,32,33, dan 36).

Memahami Roh Kudus sebenarnya terletak di luar kemampuan kita. Oleh sebab itu, kita diberi pegangan berbentuk kaitan Roh Kudus adalah Roh Yesus. Niceanum merumuskan, "Aku percaya kepada Roh Kudus…yang keluar dari Sang Bapa dan Sang Putra. "Implikasinya adalah bahwa anggapan kita tentang Roh Kudus selalu perlu diuji dan diukur dengan diri Yesus, yaitu dengan pikiran, perkataan dan perbuatan Yesus selagi hidup-Nya di bumi.

Jika kita merasa dipimpin oleh Roh ketika berdoa semalam suntuk minta keberhasilan dan sukses, ujilah diri dengan bertanya, "Seandainya Yesus berada di ruangan ini, apakah ia akan berdoa seperti ini, minta sukses ini dan sukes itu?" Jika merasa persidangan gereja yang kita hadiri dipimpin oleh Roh, ujilah diri dengan bertanya, "Seandainya Yesus menghadiri rapat ini, apakah ia akan menganggap keputusan ini berhati nurani adil, dan objektif?"

Jika kita berserah meminta pimpinan Roh sebelum berkhotbah, padahal naskah khotbah belum utuh dan matang, ujilah diri dengan bertanya, "Apakah penilaian Yesus tentang kinerjaku ini? Kita bilang penyerahan, tetapi Kristus bilang ini nggak becus ngatur waktu.
Betapa gampang kita merasa benar dan berada di pihak yang benar karena menganggap diri dipimpin oleh Roh siapa? Jangan-jangan itu bukan Roh Yesus. Jangan-jangan itu Roh yang kita pisahkan dari Yesus. Jangan-jangan itu roh kita sendiri.
Nah sekarang apakah sesungguhnya Roh Kudus itu?

Pertama, Roh Kudus adalah Allah sendiri. Perwujud-nyataan dari kehadiran dan kegiatan Allah yang terus menerus di dalam dunia dan di antara manusia. Allah bukan hanya menuntun kita dari atas atau dari samping, tetapi juga dari dalam. Allah yang menopang dari dalam itu adalah Roh Kudus.

Yang kedua, Roh Kudus bekerja di dalam kita untuk memberi kehidupan dan bukan hanya memberi kehidupan. Roh Kudus itu adalah kehidupan itu sendiri. Lalu Allah "menghembuskan nafas hidup ke dalam hidungnya; demikianlah manusia itu menjadi makhluk yang hidup". Jadi salahlah orang yang beranggapan bahwa fungsi utama dari Roh Kudus adalah membuat manusia berada dalam keadaan 'in trance", menggelepar-gelepar, tak sadarkan diri. Fungsi utama Roh kudus ternyata adalah justru untuk menjadi manusia yang pada dirinya ringkih, lemah, dan mudah pecah itu, menjadi benar-benar manusia. Penuh vitalitas dan hidup.

Yang ketiga, Roh kudus bekerja di dalam kita untuk memberi penjelasan. Menjelaskan apa yang tidak jelas. Ketika Roh kudus dicurahkan pada hari Pentakosta yang pertama, maka orang-orang dari beraneka-ragam tempat asal dan kebangsaan mendengar para murid berbicara dalam bahasa mereka masing-masing. Oleh Roh kudus, jurang antara manusia, yang disebabkan oleh kesulitan berkomunikasi melalui bahasa, sama-sama dimengerti dan dijembatani. Jadi, salahlah orang yang beranggapan, bahwa fungsi utama Roh Kudus adalah menciptakan bahasa sendiri yang tak dapat dimengerti. Sebaliknya, fungsi utama-Nya adalah membuat apa yang tidak dimengerti kini dimengerti oleh semua orang dan setiap orang.

Yang keempat, Roh Kudus adalah Allah yang bekerja di dalam kita untuk membebaskan. Membebaskan manusia dari penjara-penjara primordialnya. Oleh Roh Kudus, para murid diberi kuasa untuk menjadi saksi di Yerusalem, Yudea, Samaria, dan sampai ke ujung bumi. Roh Kudus membebaskan para murid dari penjara ke-Yahudi-an mereka, penjara kewilayahan mereka, bahkan dari penjara keagamaan mereka. Menerobos ke luar, sampai ke ujung dunia, untuk memberitakan Injil.

Allah yang tunggal bertindak dengan tiga cara berada sebagai Allah Bapa, Allah Putra, dan Allah Roh. Oleh sebab itu, gereja sepanjang masa bersorak dan bernyanyi,

Hormat bagi Allah Bapa; Hormat bagi Anak -Nya; Hormat bagi Roh Penghibur; Ketiganya Yang Esa; Haleluya, haleluya; Ketiganya yang Esa. (Mazmur dan Nyanyian Rohani 3). (f)
T#gs
Berita Terkait
Komentar
Komentar
Silakan Login untuk memberikan komentar.
FB Comments