Minggu, 08 Des 2019

Aldersgate: Momentum Kebangkitan Gerakan Methiodist Sedunia

Oleh: Pdt Estomihi Hutagalung, MTh
Minggu, 01 Juni 2014 19:55 WIB
Peringatan Aldersgate (24 Mei), sebagai momentum kebangkitan gerakan Methodist sedunia, secara khusus Gereja Methodist Indonesia (GMI), ditandai adanya pelaksanaan perdamaian di GMI. Dan perayaan Aldersgate tahun ini ditandai dengan kesibukan masyarakat dalam memilih "Presiden bersih", serta maraknya kasus korupsi, kejahatan sosial yang melibatkan oknum pejabat dan pemimpin bangsa.

Fakta demikian, menjadi realitas yang dihadapi gereja (GMI) dalam mewujudkan tugas panggilannya untuk menghadirkan tanda-tanda kerajaan Allah; perdamaian, keadilan, makmur dan sejahtera. Pemaknaan fungsi tersebut mesti dilihat pada upaya maksimal gereja dalam mencari akar penyebab dan solusi persoalan dimaksud.

Sebab, kejahatan sosial tersebut dilakukan oleh orang berpendidikan, mempunyai gelar akademis yang baik dan menempati pos-pos penting dalam struktur pemerintahan negara ini. Jika demikian halnya, dalam konteks pemaknaan fungsi gereja pada masa perayaan Aldersgate, maka faktor spiritualitas penting dikemukakan. Imperatif kesadaran demikian didasarkan pada paradigma spiritualitas umat beriman yang memengaruhi kehidupan etika, cara berpikir dan bertindak dalam memaknai kehadirannya pada dunia berpijaknya.

Spiritual Aspek Fundamental
Setidaknya, peringatan Joseph Allegretti, penegak hukum Amerika Serikat, dalam "The Lawyers Calling: Christian Faith and Legal Practice", menjadi acuan alternatif solusi atas kejahatan sosial dimaksud. Menurutnya, kejahatan sosial yang marak terjadi dan melibatkan kaum intelektual, bukan hanya menjadi fakta adanya krisis etika, tetapi secara fundamental menjadi bukti adanya krisis spiritual umat beriman.

Imperatif etis demikian akan menempatkan gereja pada pemaknaan ulang, prinsip dan praktek etika hidup moral umat beriman. Sebuah pergulatan dialektis dan berkelanjutan dalam kaitannya pada aspek spiritualitas sebagai faktor fundamental umat beriman.

Dan spiritualitas adalah suatu sikap hidup dan kesadaran diri yang bersumber pada roh sebagai nafas hidup. Menurut McIntosh, spiritualitas Kristen, adalah "a pattern of life in search of ultimate meaning. For Christians this practice most usually involves the belief that communion with Jesus Christ is the way of encountering ultimate meaning….to live their lives, discovering in this particular unsubstitutable path the transforming companionship of God.
Aldersgate: Pengalaman Iman

Spiritualitas bermakna adanya perjumpaan dengan yang maha kuasa sehingga umat merasakan suatu perasaan menakutkan, ketakjuban dan gembira secara luar biasa. Sebuah makna religiositas sebagi suatu perjumpaan umat beriman dengan "The Holy", yang kudus dalam "Tremendum et Fascinacum", proposisi Rudolf Otto. Suatu momentum perjumpaan yang mentransformasi hidup orang beriman. Allah berjumpa dengan Yakub melalui mimpi, menjadi suatu momentum komitmen iman dan komitmen hidup yang ditandai adanya pendirian sebuah monumen sebagai bukti pengalaman iman. Maka, Yakub mendirikan batu sebagai Betel (Kej. 28: 19).

Pengalaman iman demikian, pernah dirasakan John Wesley, pendiri gerakan Methodist yang mewarisi kekristenan Anglikan. Bagi Wesley, orang Kristen harus mempunyai kualitas rohani yang baik dan mewujudkan imannya dalam realitas berpijaknya. Praktek kekudusan tersebut harus diwujudkan dengan berbagai methode sesuai kebutuhan konteksnya. Itulah awal terminology Methodist.

Gerakan Methodist oleh John Wesley berkembang dari Inggris sampai ke benua Amerika. Tetapi harus dicatat, dalam kemajuan pelayanannya, ternyata Wesley mengalami kegalauan iman. Wesley selalu gelisah, menginginkan iman yang sempurna sehingga dengan sekuat tenaga dia mengabarkan Injil.
Kegalauan iman Wesley, ternyata membawanya pada pemahaman sesungguhnya makna iman. Kesadaran spiritualitas demikianlah yang selalu diperingati Gereja Methodist se-Dunia sebagai perayaan Aldersgate, 24 Mei 1738. Pdt.Robert Tobing dalam bukunya, "John Wesley dan Pokok-pokok Penting dari Pengajarannya", membuat catatan Wesley:

"Saya pergi dan mengikuti suatu kumpulan di jalan Aldersgate dimana ada seseorang membacakan bagian pengantar tulisan Luther untuk surat kepada jemaat di Roma. Kira-kira jam sembilan kurang lima belas, ketika bacaan tersebut tentang perobahan yang dijadikan Tuhan dalam hati orang melalui iman kepada Yesus Kristus, saya merasakan hati saya dihangatkan secara ajaib. Saya merasa bahwa saya meyakini Kristus, hanya Kristus untuk keselamatan dan suatu kepastian diberikan kepada saya bahwa Dia telah mengambil dosa saya dan menyelamatkan saya dari hukuman dosa dan kematian."

Imperatif Eskatologis
Pengalaman itu diwarisi orang-orang Methodist dan momentum menggelorakan spiritualitas agar mentransformasi rohani dan pelayanan gereja walau menghadapi tantangan sebagaimana dialami Wesley. Dan gelora spiritualitas Aldersgate membuat Wesley lebih kreatif bertindak atas motto: "seluruh dunia adalah ladang pelayananku". Dan pernah dicatat dalam sejarah bahwa transformasi rohani orang-orang Methodist, berdampak sosial yang baik bagi masyarakat Inggris.

Dengan demikian, dalam memakanai panggilan gereja pada realitas saat ini, maka aspek spiritualitas mendapat peranan utama. Sehingga ritual ibadah, pelayan Minggu, pelayanan rohani, kegiatan seksi-seksi gereja tidak berlangsung ritunitas yang akan kehilangan spiritnya.

Maka perayaan Aldrsgate adalah momentum menggelorakan spiritualitas umat beriman guna mentransformasi rohani (diri) sehingga berdampak pada realitas sosialnya. Dan, jika John Wesley dan gerakan Methodist, pernah menyelamatkan Inggris Raya dari kerusuhan sosial, hal itu menjadi spirit imperatif bagi GMI dalam mewujudkan perdamaian dan pelayanan sosialnya, semoga!. Selamat Merayakan Aldersgate.

 (Penulis: Pendeta Gereja Methodist Indonesia/h)
T#gs
Komentar
Komentar
Silakan Login untuk memberikan komentar.
FB Comments