Jumat, 24 Jan 2020

Renungan

Akhir Tahun Gerejawi dan Peringatan Orang Meninggal

Oleh Pdt Dr Pahala J Simanjuntak
redaksi Minggu, 24 November 2019 19:39 WIB
Sib/Doc
Pdt Dr Pahala J Simanjuntak
Tidak terasa satu tahun kalender gerejawi telah berlalu dengan baik dan kini kita sudah tiba di akhir tahun gerejawi tersebut, tepatnya Minggu 24 Nopember 2019 hari ini. Tahun gerejawi berbeda dengan kalender tahunan yang kita miliki secara nasional maupun internasional (Januari sampai Desember). Tahun gerejawi dimulai dari masa Advent pertama, atau masa sebelum Natal sampai kepada Minggu ke XXII setelah Trinitatis. Berakhirnya tahun gerejawi ini seiring dengan peringatan orang yang sudah meninggal dunia. Upacara keagamaan seperti ini sudah lama dilaksanakan dalam tradisi gerejawi Lutheran khususnya di Indonesia. Tentu kedua peringatan ini mengandung makna yang sangat penting dalam pertumbuhan iman orang Kristen dalam memaknai hidup sebagai umat Allah di segala zaman.

Akhir Tahun Gerejawi
Gereja adalah milik Allah dan Allah mengutus anak-Nya Yesus Kristus menjadi kepala gereja. Sehingga gereja menjadi tubuh Kristus dan kita masing-masing adalah anggota-anggotanya yang terdiri dari berbagai macam latar belakang, status sosial dan ras. Kristus sendirilah pemimpin atau kepala gereja itu bukan manusia. Manusia hanya sebagai alat atau perpanjangan tangan Allah untuk merealisasikan tugas panggilan gereja, yakni: Koinonia (Persekutuan), Marturia (kesaksian) dan Diakoni (pelayanan). Perjalanan gereja sebagai tubuh Kristus tentu diwarnai oleh banyak hal baik suka maupun duka. Namun semuanya itu akan mendewasakan gereja dalam pertumbuhannya di dunia ini. Sambil mengikuti perjalanan gereja kita juga menyaksikan banyak hal-hal yang terjadi di dalam gereja itu termasuk hal-hal yang dialami oleh anggota-anggotanya. Tidak satupun yang terjadi itu di luar pengetahuan Allah.
Maka akhir tahun gerejawi ini mengajak kita untuk mensyukuri karya Allah di dalam gereja-Nya melalui pelayanan anggota-anggotanya di dalam gereja maupun di luar gereja (masyarakat luas). Allah Bapa, Anak dan Roh Kudus bekerja di dalam hati setiap orang percaya dan memampukannya untuk bersekutu, melayani dan bersaksi dengan baik di tengah zaman yang berubah-ubah.
Perjalanan kehidupan kita (gereja) dalam satu tahun ini harus kita saksikan dengan jujur bahwa Allah kita selalu menyertai dan memelihara hidup kita. Memang tidak dapat kita melupakan bahwa ada suka dan duka yang terjadi dalam hidup kita secara bergantian. Kadang kita menangis di tengah-tengah kesulitan atau kesedihan kita. Terkadang tidak dapat kita ceritakan kepada siapapun, hanya kepada Tuhanlah yang dapat kita sampaikan. Sebab Dialah tempat kita mengadu. Bila kita sendirian terkadang kita menangis, tetapi di tengah keramaian kita berusaha tampak bahagia dan ceria seolah-olah tidak ada masalah. Sebab bila kita bersedih atau menangis di depan orang tidak akan merubah keadaan, malah kita ditertawai orang lain.

Peringatan orang meninggal
Sebagaimana kita sebutkan di atas bahwa dalam satu tahun gerejawi ini ada suka dan duka yang kita alami. Tetapi yang paling menyedihkan adalah ada di antara sahabat, keluarga, orangtua atau orang yang kita cintai telah dipanggil Tuhan. Mereka yang sudah dipanggil Tuhan dari dunia yang fana ini menuju tempat yang kekal yang sudah dipersiapkan Tuhan Yesus ketika Dia naik ke sorga. Memang kematian membuat kita bersedih dan menangis sebab kematian itu datang dengan tiba-tiba tanpa seorangpun manusia mengetahuinya. Namun bagi orang beriman tentulah kematian bukan akhir dari segalanya tetapi justru menjadi awal dari kehidupan yang baru. Allahlah yang empunya kehidupan kita dan kita tidak dapat menambah dan mengurangi hidup kita. Hanya Allah sang pemilik hidup kita yang mengetahuinya dan atas rencananyalah semua terjadi. Kitab Pengkhotbah berkata: "Dan debu kembali menjadi tanah seperti semula dan roh kembali kepada Alah yang mengaruniakannya" (Pengk. 12:7). Injil Matius mencatat bahwa Yesus bersama dengan murid-Nya pergi ke taman Getsemani untuk berdoa. Di sanalah Yesus menyerahkan hidup-Nya kepada bapa-Nya sebelum Dia ditangkap dan menghadapi kematian-Nya (Mat. 26:39-44).
Demikian juga rasul Paulus mengajarkan kepada jemaat mula-mula dan jemaat yang ada di perantauan (diaspora) apa arti hidup dan kematian itu. Misalnya kepada jemaat di Filipi, Paulus berkata: "Bagiku Hidup adalah Kristus mati adalah keuntungan" (Fil. 1:21). Paulus mendasarkan pemikiran ini dari kitab Injil yang menuliskan tentang kehidupan Yesus yang sudah mengalaminya. Yesus akan mati tetapi pada hari yang ketiga Dia bangkit dan menunjukkan diri-Nya kepada para murid dan orang banyak (Mark 16:14-18; Luk. 24:36-49; Yoh. 20:19-22). Penampakan ini bertujuan agar semua orang percaya bahwa Yesus tidak mati untuk selamanya melainkan Dia hidup dan Dia dibangkitkan oleh Allah. Dalam nasihatnya kepada Timotius, rasul Paulus berpesan: Benarlah perkataan ini, jika kita mati dengan Dia, kitapun akan hidup dengan Dia (2 Tim. 2:11).
Dalam salah satu dokumen gereja disebutkan: "Pada waktu peringatan orang yang meninggal, baiklah kita mengingat untuk mengucap syukur kepada Allah, akan segala perbuatannya yang baik pada waktu masih hidup, tetapi tidak untuk memohon berkat dan tanda kesurupan dari yang telah meninggal itu (Konfesi HKBP Pasal 16). Pernyataan ini mengingatkan kita bahwa ketika peringatan terhadap orang meninggal dilaksanakan dalam kebaktian Minggu bukan berarti kita membuat orang bersedih. Tetapi peringatan seperti ini juga mengingatkan orang percaya juga akan menghadapi kematian (memento mori: Latin. Artinya, ingatlah akan kematianmu)

Bersyukur
Kedua tradisi gerejawi tersebut di atas mengingatkan kita untuk selalu bersyukur dan dapat memaknai hidup ini. Kita diajak untuk bertumbuh dalam iman dan memiliki pengharapan bahwa kita akan selalu dalam pemeliharaan Tuhan. Gereja sebagai tubuh Kristus mengingatkan kita akan kesetiaan Allah yang senantiasa hadir dalam sejarah umat Allah. Sekalipun gereja menghadapi banyak persoalan baik dari dalam maupun dari luar dirinya namun Allah tidak membiarkan gereja-Nya mati. Penderitaan yang kita alami sebagai anggota tubuh Kristus tidak akan membuat kita menjauh dari Tuhan dan melemahkan iman kita. Tetapi kita harus bangkit dan memiliki semangat yang berkobar-kobar disertai dengan iman percaya kita kepada Allah maha Pengasih.
Pemazmur berkata: Ajarlah kami menghitung hari-hari kami sedemikian, hingga kami beroleh hati yang bijaksana (Maz. 90:12).
T#gs
Berita Terkait
Komentar
Komentar
Silakan Login untuk memberikan komentar.
FB Comments