Rabu, 18 Sep 2019

RENUNGAN

Ajaran Kasih Revolusional (Lukas 6:27-36)

Oleh Pdt Sunggul Pasaribu
admin Minggu, 25 Agustus 2019 11:43 WIB
Pdt Sunggul Pasaribu
Dalam dunia ilmu matematika dikenal deret hitung atau deret ukur. Adapun kelipatan secara deret hitung yaitu dengan angka satu, dua, tiga, empat, lima dan seterusnya. Sedangkan kelipatan secara deret ukur yaitu dengan jumlah pelipatan angka dua, empat, delapan, enam belas, dua ratus lima puluh enam dan seterusnya. Model perhitungan secara deret hitung mengartikan suatu pertumbuhan secara normal, tumbuh secara evolusi. Sedangkan model perhitungan secara deret ukur mengartikan suatu pertumbuhan yang drastis, tumbuh secara revolusional.

Demikian juga halnya tentang hal mengasihi sesama sebagaimana ajaran Yesus. Dikatakan-Nya,: "Kasihilah musuhmu, berbuatlah baik kepada orang yang membenci kamu; mintalah berkat bagi orang yang mengutuk kamu; berdoalah bagi orang yang mencaci kamu. Barangsiapa menampar pipimu yang satu, berikanlah juga kepadanya pipimu yang lain, dan barangsiapa yang mengambil jubahmu, biarkan juga ia mengambil bajumu. Berilah kepada setiap orang yang meminta kepadamu; dan janganlah meminta kembali kepada orang yang mengambil kepunyaanmu. Dan sebagaimana kamu kehendaki supaya orang perbuat kepadamu, perbuatlah juga demikian kepada mereka (Lukas 6:27-31).

Adapun ajaran Kasih secara revolusional dalam Injil Lukas ini, yaitu mengajarkan supaya berdoa bagi orang yang mencaci kamu. Demikian juga halnya tentang kasih yang terlihat kontroversi, yaitu, di mana kita supaya berbuat baik kepada orang membenci dan senantiasa mengasihi musuh. Sedangkan kasih yang menerobos logika (akal sehat), yaitu, barangsiapa menampar pipimu yang satu, berikanlah juga kepadanya pipimu yang lain, dan barangsiapa yang mengambil jubahmu, biarkan juga ia mengambil bajumu.

Sebagai anak-anak Allah kita harus memiliki sifat-sifat Allah. Ada pun salah satu sifat Allah adalah maha pengampun. Seperti kata pemazmur, "Sebab Engkau, ya Tuhan, baik dan suka mengampuni..." (Mazmur 86:5), bahkan "Sekalipun dosamu merah seperti kirmizi, akan menjadi putih seperti salju; sekalipun berwarna merah seperti kain kesumba, akan menjadi putih seperti bulu domba." (Yesaya 1:18).

Seperti Yesus, agar Ia layak menjadi Putera Kerajaan Allah, Ia tidak membalas meskipun dicaci-maki, dihujat, diejek, diludahi dan dipermalukan; Ia sanggup mengampuni dan mengasihi musuh-musuhNya. Ia berkata, "Ya Bapa, ampunilah mereka, sebab mereka tidak tahu apa yang mereka perbuat," (Lukas 23:34). Ia telah meninggalkan teladan hidup yang luar biasa.

Menjadi Kristen berarti menjadi pengikut Kristus, dan sudah sepatutnya kita mengikuti jejak-Nya dan meneladani kehidupan-Nya. Alkitab dengan tegas menyatakan; "Barangsiapa mengatakan, bahwa ia ada di dalam Dia, ia wajib hidup sama seperti Kristus telah hidup." (1 Yohanes 2:6). Tuhan menghendaki agar kita mengasihi musuh-musuh kita. Kata-kata Yesus dari atas salib bukan kata-kata kutuk atau keluhan atau tentang penghinaan atas kematian-Nya yang terkutuk, tetapi adalah doa untuk mereka yang menyalibkan Dia, Putera Allah yang benar, tanpa dosa. Stefanus adalah contoh orang yang mengikuti teladan Yesus. Ketika ia dilempari batu dan hampir menghembuskan nafas terakhir, ia berdoa, "Tuhan, janganlah tanggungkan dosa ini kepada mereka!" (Kisah Rasul 7:60).

Kalau kita mengasihi dan berbuat baik kepada orang yang mengasihi kita, apakah jasa kita? Yang dikehendaki-Nya: "Kasihilah musuhmu, berbuatlah baik kepada orang yang membenci kamu; mintalah berkat bagi orang yang mengutuk kamu; berdoalah bagi orang yang mencaci kamu." (Lukas 6:27-28). Banyak orang Kristen meremehkan pengajaran-Nya ini. Mungkin ada kasih, tapi terhadap kawan sendiri, grup sendiri atau denominasi sendiri. Terhadap saudara seiman yang tak dikenal secara pribadi saja kita sulit mengasihi, apalagi musuh?.

Penulis pernah mengenal seorang hamba Tuhan, beliau adalah teman satu angkatan penulis ketika kuliah di salah satu Sekolah Tinggi Teologia, ia sangat diberkati Tuhan, dan menjadi teladan yang baik. Dia eksis untuk mendukung pembangunan dan pengembangan Sekolah Teologi (Sekolah calon hamba Tuhan) dan para Hamba Tuhan yang kekurangan dalam hal keuangan, secara khusus mereka yang kesulitan dalam biaya pengobatan. Mengapa? Karena waktu dulu ia sekolah Teologi di Asia dan Eropa, ada seorang dosennya yang telah mendukung dia, ia mendapat beasiswa melanjutkan studinya hingga tingkat doktoral, dan ia merasa sangat digerakkan oleh pertolongan itu. Setelah lulus dan menjadi hamba Tuhan yang baik, ia ingat pernah ditolong orang lain, tapi tidak kembali kepada nenek yang menolongnya tadi - yang sudah mati juga - lalu bagaimana, membalas kepada keluarganya? Tidak! Tetapi Hamba Tuhan ini tidak membalas kepada nenek itu ataupun keluarganya, karena ia percaya hutangnya kepada Tuhan. Kemudian dia membalas kepada orang yang lain, dengan cara selalu menolong para hamba Tuhan yang sakit, menolong mereka yang kekurangan biaya sekolah anak-anak dari hamba Tuhan, menolong para mahasiswa Teologia (calon hamba Tuhan). Itulah kekristenan, ada kecerdasan spiritualitas, yaitu melipatgandakan perbuatan dan tindakan kasih terhadap sesama menembus logika, kebiasaan, atau adat-istiadat. Percayalah.! (f)
T#gs
Berita Terkait
Komentar
Komentar
Silakan Login untuk memberikan komentar.
FB Comments