Rabu, 18 Sep 2019
  • Home
  • Agama Kristen
  • 7 Tahun Ibadah Tanpa Atap dan Dinding, 2 Gereja Ini Ibadah ke 200 Kalinya di Depan Istana Negara

7 Tahun Ibadah Tanpa Atap dan Dinding, 2 Gereja Ini Ibadah ke 200 Kalinya di Depan Istana Negara

* Wali Kota Bogor Janji "Kabar Baik"
admin Minggu, 25 Agustus 2019 11:45 WIB
Katharina R. Lestari/ucanews.com
Jakarta (SIB) -Selama 7 tahun Gereja Kristen Indonesia yakni GKI Yasmin Bogor dan HKBP Filadelfia Bekasi melakukan ibadah gabungan di depan Istanan Bogor. Tepat Minggu (18/08) mereka melakukan ibadah lagi untuk ke-200 kalinya sambil melakukan upacara bendera dalam memperingati hari kemerdekaan Indonesia.

Selama 7 tahun, para jemaat berharap pemerintah memenuhi hak mereka untuk bisa melakukan ibadah di gereja masing-masing.
"Tujuan kita tentu agar kelompok terdiskriminasi dan korban intoleransi seperti jemaat HKBP Filadelfia dan GKI Yasmin juga dapat memperoleh haknya untuk menyelenggarakan ibadahnya di gereja masing-masing yang sampai sekarang belum bisa dipakai," kata Jayadi Damanik sebagai koordinator Pelaksana Kegiatan Ibadah Jamaah GKI Yasmin Bogor dan HKBP Filadelfia Bekasi.

Ternyata ibadah ini sudah dilakukan sejak tahun 2012, persis semenjak akses beribadah di gereja masing-masing dicabut.

"Yang pertama bahwa sekali dua minggu sejak Februari 2012 kita melakukan ibadah disini. Hari ini berketepatan ibadah ke-200 yang bertepatan juga perayaan hari raya kemerdekaan RI yang ke-74, jadi kami juga akan melakukan upacara bendera," ujar Jayadi
Meski sudah dilakukan selama bertahun-tahun, tampaknya kedua gereja ini masih terus gigih dan berharap pemerintah benar-benar mau memenuhi hak mereka.

Setelah selesai ibadah, jemaat tidak langsung pergi. Mereka bersama-sama melakukan upacara bendera yang dipimpin Wakil Ketua Komnas Perempuan yakni Budi Wahyuni.

Seperti upacara pada umumnya, jemaat menyanyikan lagu Indonesia raya, mengheningkan cipta serta bersama-sama membaca UUD serta naskah proklamasi tahun 1945.

Dengan kegiatan dan ibadah yang dilakukan oleh jemaat gereja ini, mereka berharap pemerintah benar-benar serius dalam menindaklanjuti dan memenuhi hak-haknya mereka bisa melakukan ibadah setiap hari Minggu di gereja masing-masing.

Sebenarnya, pada tahun 2011, kedua gereja ini sudah memenangkan putusan hukum dari Mahkamah Agung terkait hak izin membangun dan menggunakan gereja. Namun yang menjadi masalahnya adalah, aksi pemutusan tersebut sama sekali nggak ditidaklanjuti oleh Walikota Bogor dan juga Bupati Bekasi dan jemaat hanya bisa berharap bantuan dari pemerintah sehingga hak ini terpenuhi.

"Harapan saya pemerintah daerah dan pemerintah pusat berkenan hatinya tergugah supaya kita semua bisa menikmati suka cita tentang kemerdekaan ini, dengan memenuhi hak kami untuk membangun gereja kami," kata Jayadi.

Kabar Baik
Sementara itu, Walikota Bogor Bima Arya Sugiarto merasa optimis bahwa kasus penyegelan gedung Gereja Kristen Indonesia (GKI) Yasmin yang sudah berlangsung selama lebih dari sembilan tahun akan selesai akhir tahun ini.

"Jadi dua hal yang menjadi kemajuan bagi GKI Yasmin," katanya kepada wartawan di sela-sela seminar bertajuk "Mendorong dan Memperkuat Kebijakan Toleran dan Anti-Diskriminatif di Indonesia" yang digelar SETARA Institute pada Selasa (13/8) di Jakarta.

Pertama, katanya, semua pihak sepakat untuk fokus pada opsi solusi dan bukan perdebatan soal hukum di masa lalu. Kedua, GKI Yasmin membentuk Tim 7 tahun lalu untuk berunding bersama Tim Pemerintah Kota (Pemkot).

Ia mengaku komunikasi antara Tim 7 dan Tim Pemkot berlangsung secara intensif dalam beberapa hari terakhir. "Saya optimis Natal akan ada kabar baik," katanya.

Namun ia enggan menyebut strategi yang akan diambil. "Saya tidak mau bicara soal strategi karena ini masih dalam proses komunikasi, terlalu prematur," lanjutnya. (Jb.com/Ucanews/c)
T#gs
Berita Terkait
Komentar
Komentar
Silakan Login untuk memberikan komentar.
FB Comments