Jumat, 24 Jan 2020

158 Tahun HKBP, Menjadi Berkat Bagi Dunia

* Oleh Jonson Rajagukguk (Mahasiswa S3 Manajemen Pendidikan Unimed Medan)
bantors Minggu, 13 Oktober 2019 11:00 WIB
Jonson Rajagukguk
Gereja sebagai mitra kerja pemerintah yang kritis, idealis, dan konstruktif sudah seharusnya mampu menampilkan dirinya pemberi solusi (problem solving) dalam segala persoalan berbangsa dan bernegara. Mengingat jemaat gereja juga adalah warga negara, sudah sepatutnya gereja menjadi wadah bagaimana membangun warga jemaat yang taat, sadar hukum, peduli lingkungan, dan juga punya pribadi yang tangguh agar bisa jadi penyokong kekuatan negara. HKBP sebagai gereja suku terbesar di negara ini setidaknya sudah mengemban visi dan misi pembangunan kejemaatan di negara ini. Bagaimana agar peran sentral HKBP sebagai garam dan terang, dan juga sebagai gereja yang visioner bisa berjalan dengan baik dan maksimal. Tentu ini sebuah pemikiran baru bagi HKBP secara organisatoris, agar HKBP bisa punya kemanfaatan yang betul betul dirasakan jemaat kehadirannya.

Perjalanan HKBP sebagai sebuah gereja yang lahir di Tanah Batak karena peran misionaris DR IL Nommensen telah mencapai usia yang ke 158 (7 Okotober 1861-2019), tentu menjadi sebuah perjalanan yang panjang sebagai catatan sejarah. Gereja HKBP lebih dulu lahir daripada NKRI (17 Agustus 1945) dan kini terus mengambil sebuah peran yang sangat strategis dalam membangun sebuah peradaban manusia, khususnya orang Batak dari aspek spritualitas Kristen.

Begitu juga HKBP, sebagai sebuah gereja yang lahir dari anugerah Tuhan kepada orang Batak selalu menekankan aspek spritualitas kekristenan kepada jemaat dengan tujuan, agar jemaat HKBP mengenal Tuhan dengan baik. Dengan demikian, jemaat HKBP akan berguna (berkat) bagi orang lain dengan bekal yang bagus, manusia yang berTuhan. Manusia yang ber-Tuhan adalah manusia yang mau mengasihi, toleran dan menghargai hukum. Dari sini dapat kita lihat, betapa kelahiran HKBP sangat berguna dan bermanfaat bagi bangsa ini. Sekali lagi, betapa dahsyat rencana Allah Bapa kepada orang Batak dengan menghadirkan sebuah gereja bernama HKBP. Bahkan, dalam perkembangannya HKBP telah ikut memberikan kontribusi yang sangat besar bagi pembangunan bangsa ini.
Kini HKBP telah berusia 158 Tahun. Dalam usia yang sangat panjang tersebut, bagaimana posisi HKBP dalam berbangsa, bernegara , dan bermasyarakat. Apakah HKBP sudah jadi berkat bagi dunia yang sebenarnya? Terlebih Visi dan Misi HKBP adalah menjadi berkat bagi dunia. Secara sederhana, berkat bagi dunia dalam konteks kekinian adalah bahwa jemaat HKBP di mananpun berada selalu membawa perubahan, berguna bagi sesama, membawa damai, kesejukan, dan toleransi. Intinya bahwa HKBP merupakan garam dan terang.

Memang visi dan misi itu sangat agung, tetapi masalah internal HKBP tentu sebuah dinamika dalam organisasi. Masalah internal harus dibereskan sebelum kita keluar. Problematika yang bersifat internal mesti dituntaskan dengan tujuan, agar misi HKBP jadi berkat bagi luar dirinya bisa terwujud dengan baik , sesuai dengan panggilan kita sebagai orang Kristen. Terlebih lagi, realitas sosial yang kita hadapi adalah bahwa HKBP hidup dalam keberagaman (pluralisme) dan berdampingan dengan berbagai latar belakang sosial, suku, dan agama yang berbeda.

Bagaimana HKBP menjadi berkat bagi sesama adalah tugas dan panggilan HKBP. Untuk itu, harus ada desain, strategi, dan komitmen untuk mendorong HKBP agar bisa jadi berkat bagi dunia. Untuk itu, kita tidak salah belajar dari dua organisasi kegamaan yang juga saudara kita, yaitu NU dan Muhammadyah. Dalam muktamar terakhir NU mengusung sebuah tema yang sangat visioner, Islam Nusantara.

Dalam hal ini ajaran agama Islam diselaraskan dengan budaya nusantara. Islam adalah rahmat bagi alam semesta negara Indonesia. Dengan mengusung Islam nusantara, diharapkan kearifan lokal dan budaya yang ada di nusantara ini terjaga dengan baik. Dengan demikian masyarakat akan saling membangun persaudaraan untuk kemajuan bangsa dengan menyelaraskan ajaran Islam dengan kearifan lokal (budaya), sehingga Islam adalah rahmat bagi nusantara Indonesia.

Hal yang sama dilakukan oleh saudara kita dari PP Muhammadyah. Mereka mengusung Islam berkemajuan dimana Muhammadyah dengan seluruh umatnya harus mampu beradaptasi dengan kemajuan. Menyelaraskan Islam dengan sains untuk kemanusiaan adalah hal yang dilakukan oleh Muhammdyah. Muhammadyah sangat visioner dalam membangun visi kedepan dan mendorong umatnya beradaptasi dengan kemajuan jaman dan mengakomodir nilai -nilai yang dianggap membangun umat.

Kita (HKBP) dengan usia yang ke 158 patut mengapresiasi apa yang dilakukan oleh dua organisasi agam Islam terbesar ini untuk jadi masukan dan pembelajaran yang sangat penting demi kemajuan bersama. HKBP sebagai organisasi gereja terbesar di Asia Tenggara saatnya menampilkan jati dirinya sebagai gereja yang membawa berkat di tengah -tengah kehidupan bernegara dengan sebuah visi cemerlang (sebagai panggilan Kristen

Ada beberapa hal yang musti dilakukan HKBP di usianya ke 158 tahun ini sehingga HKBP ikut mendorong peradaban bangsa ke peradaban yang bermartabat. Pertama, perlu sebuah orientasi pelayanan dengan kosep pemberdayaan dan pengembangan jemaat sebagai paradigma baru dalam pelayanan. Artinya cerita surga dan akhirat bukan lagi topik sentral dalam bergereja, tetapi bagaimana pengembangan kejemaatan dan pemberdayaan jemaat sehingga punya peran yang strategis dalam kehidupan masyarakat. HKBP harus fasih dan lugas menguraikan bagaimana kosep pemberdayaan dan pengembangan jemaat , termasuk pemberdayaan Pendeta dengan membuat pelatihan -pelatihan bagi pendeta (rohaniawan yang punya skill) supaya punya keahlian di tengah jemaat. Konsep pemberdayaan jemaat dengan melihat teori Indeks Pembangunan Manusia (IPM) dimana sektor pendidikan, kesehatan, dan daya beli jemaat harus ditingkatkan atau grafiknya naik kalau kita ingin melihat jemaat punya potensi kedepan.

Kedua, memanfaatkan segala potensi jemaat yang ada dalam tubuh HKBP sebagai upaya mendorong perubahan dan pengembangan. HKBP harus bisa menguraikan dengan jelas dan mudah dipahami bahwa selama ini potensi HKBP kurang diberdayakan. Padahal banyak jemaat yang punya potensi hebat, baik di bidang ekonomi, politik, hukum, teknologi, yang bisa dimanfaatkan untuk saling menolong dan menguatkan. Konsep pemberdayaan potensi jemaat HKBP tetap dalam koridor pelayanan kepada semua jemaat. Perlu sebuah pemikiran yang baru bagaimana supaya segala potensi dalam HKBP didata, atau dibangun database sehingga ini bisa menjadi modal dasar dalam membangun jemaat HKBP atas dasar keinginan untuk maju bersama.

Ketiga, HKBP harus bisa naik kelas (next grade) dan jangan lagi tinggal kelas. Kalau HKBP hanya berguna untuk jemaatnya saja ini merupakan kemunduran bagi HKBP. Ke depan HKBP harus mampu mendorong perubahan dimana HKBP juga berguna bagi semua orang (termasuk suku dan agama yang berbeda), berguna untuk bangsa di tengah masyarakat yang plural. Jemaat HKBP harus berguna bagi umat yang lain. Bagaimana supaya sampai kesana tentu butuh pemikiran yang baru. Maka pembenahan internal yang harus dilakukan sebelum berbicara pada manfaat HKBP bagi umat lain (berkat bagi dunia). HKBP harus mampu mengambil peran strategis peran sentral mendorong keberagaman, toleransi yang tinggi atas dasar kejujuran, mitra kerja bagi siapa saja yang berguna untuk kemanusiaan. Dengan demikian HKBP ke depan akan semakin kuat dan diperhitungkan (punya bargaining posision) dalam pengambilan keputusan dan kebijakan di negara ini. Di Sumatera Utara peran HKBP semakin terpinggirkan, maka perlu membangun jati diri agar dapat menentukan masa depan Sumatera Utara ini dengan segala dinamika yang terjadi.

Keempat, revitalisasi dan reaktualisasi kepemimpinan dalam HKBP. Kepemimpinan di tubuh HKBP perlu dipersiapkan dengan baik dan matang untuk mendapingi jemaat dalam melihat tantangan jaman yang makin kompleks. Krisis pelayanan sebagai sebuah realitas baru karena berbagai faktor harus bisa diakhiri dengan tujuan membuat jemaat makin berpengharapan dengan baik. Untuk itu, perlu sebuah proses kaderisasi kepemimpinan yang baik dan tepat. Profesionalisme, integritas, loyalitas, intelektualitas atas dasar kasih sudah saatnya dikedepankan dengan tujuan untuk memberikan pelayanan yang holistik di HKBP.

Kelima, HKBP harus jadi mitra yang membangun dan positif bagi negara. HKBP tidak akan lepas dari pemerintah, dan harus bergandeng tangan dengan pemerintah untuk mewujudkan tujuan negara. Tujuan negara dan tujuan gereja pada prinsipnya bisa diselaraskan untuk kepentingan bersama. Bahkan kalau kita lihat amanat Alkitab, bahwa manusia dipanggil untuk mengelola, memelihara dan melestarikan kehidupan (Kejadian 1:26-28); bahwa gereja disuruh ke dalam dunia untuk memberitakan Injil Yesus Kristus, bahwa kehidupan masyarakat harus diba ngun berdasarkan keadilan dan kesejahteraan, adalah amanat yang mau tidak mau memberi arah bagi pentingnya keterlibatan gereja di bidang politik dan pemerintahan.

Gereja yang berada di dalam dunia adalah gereja yang hidup dan berinteraksi dengan dunia politik. Gereja tak bisa lagi apatis terhadap kehidupan politik. Gereja juga garam dan terang dalam dunia politik. Gereja-gereja di Indonesia makin lama makin sadar terpanggil dalam bidang politik agar politik yang acap dikatakan kotor, dapat tetap memiliki moral yang kuat. HKBP harus mampu terlibat mendorong politik yang bermoral dengan orientasi nilai dan ideologi untuk melayani masyarakat.

Dokumen Pokok-pokok Tugas Panggilan Bersama (PTPB) 2004 disebutkan gereja mempunyai tanggung jawab politik dalam arti turut serta secara aktif di dalam mengupayakan kehidupan berbangsa, bernegara, dan bermasyarakat berdasarkan Pancasila dan UUD 1945 dengan memperjuangkan keseimbangan antara kekuasaan, keadilan, dan kasih. Orang Kristen terpanggil untuk membangun kesejahteraan di mana mereka berada karena kesejahteraan mereka adalah kesejahteraan kita, bahkan menjadi kesejahteraan bersama (Yer 29:7).

Kita sangat berharap, usia ke 158 HKBP menjadi perenungan khusus bagi kita semua. Harapan kita tentu sama, ada perubahan dalam tubuh HKBP sehingga kita mampu ber-HKBP dalam konsep pelayanan yang holistik. Melayani dengan kasih untuk tujuan penyelenggaraan kerajaan Allah di dunia ini. Semoga kita semua (dari jemaat biasa sampai Ephorus) mampu mempersiapkan HKBP sebagai rumah pelayanan untuk kemuliaan Tuhan. Mari mengambil setiap peran dalam tubuh HKBP, sekecil apapun itu sehingga dengan usia HKBP yang ke 158 HKBP mampu membawa perubahan di tengah -tengah bangsa ini. (c)
T#gs
Berita Terkait
Komentar
Komentar
Silakan Login untuk memberikan komentar.
FB Comments