Iklan - Geser ke atas untuk melanjutkan
Rabu, 04 Februari 2026

Tajuk Rencana

Network untuk Menduniakan Danau Toba
- Jumat, 25 Juli 2014 10:04 WIB
7.674 view
Tajuk Rencana
Pembicaraan-  mengenai Danau Toba mencuat kembali setelah diskusi mengenai rencana proposal Danau Toba sebagai bagian dari Global Geopark Network digagas oleh RE Foundation. Tidak tanggung-tanggung. Targetnya adalah pada tahun 2015, proposal tersebut sudah masuk untuk didaftarkan ke UNESCO, menyusul GGN Batur di Bali, GGN Gunung Sewu serta Hutan Fosil Merangin di Jambi yang sudah dipersiapkan untuk didaftarkan juga ke UNESCO.

Apa kepentingannya? Menurut situs GGN, bahwa anggota dari seluruh jaringan ini akan membantu wilayah-wilayah yang bercita-cita dalam pengembangan GGN dimana pariwisata berkelanjutan, seperti yang dikembangkan dalam geopark, mengarah ke penciptaan lapangan kerja di masyarakat pedesaan setempat, untuk manfaat dari jaringan ini.

Keikutsertaan dalam GGN juga akan menyediakan platform untuk kerjasama dan pertukaran antara pakar serta praktisi warisan geologi, dan sebagai media promosi. Di bawah payung UNESCO, dan melalui kerjasama dengan mitra jaringan global, situs geologi lokal dan nasional yang penting akan mendapatkan pengakuan di seluruh dunia dan manfaat dari pertukaran pengetahuan dan keahlian dengan staf geopark lainnya. Jika sebuah situs masuk ke dalam GGN, UNESCO dan GGN mengembangkan model praktek terbaik dan standar kualitas yang ditetapkan untuk wilayah yang mengintegrasikan pelestarian warisan geologi ke dalam strategi pembangunan ekonomi yang berkelanjutan regional. Pembentukan geopark bertujuan untuk membawa keberlanjutan dan manfaat ekonomi yang nyata bagi penduduk setempat, biasanya melalui pengembangan pariwisata berkelanjutan serta kegiatan ekonomi dan budaya lainnya.

Danau Toba jelas menyimpan sebuah warisan geopark yang luar biasa besar. Sebagai area yang terbentuk jutaan tahun lalu, Danau Toba mewarisakan kekayaan yang luar biasa. Kekayaan itu, hebatnya, bersifat endemik. Di antaranya anggrek endemik yang hanya ada di kawasan Danau Toba. Demikian juga dengan bebatuan dan jenis tanaman lainnya.

Ini jelas memperlihatkan bahwa endemiknya flora dan fauna di kawasan Danau Toba amat penting untuk dilestarikan dan dijadikan sebuah geopark yang bersifat penting. Warisan inilah yang kini digagas untuk dijadikan sebuah kegiatan bersama dalam bentuk GGN tadi.

Beruntung untuk Danau Toba masih ada peduli. Salah satu di antaranya adalah RE Foundation. Didukung oleh media massa semisal Kompas dan SIB serta media televisi dan radio, kita berharap terjalinnya network kerjasama untuk menduniakan Danau Toba.

 Dengan masuk ke dalam list GGN-nya UNESCO, maka Danau Toba akan berperan sebagai lokasi pendidikan dan tempat mempopulerkan ilmu pengetahuan. Bukan hanya itu, Danau Toba juga akan menjadi lokasi geo-science yang menjadi objek penelitian para akademisi dan ilmuwan dunia.

Juga Danau Toba akan menjadi lokasi pengembangan budaya,  sekaligus sebagai media dan strategi meningkatkan promosi Danau Toba di mata dunia.

Sayangnya, sampai  sekarang komitmen untuk mengembangkan Danau Toba dapat dikatakan semakin lama semakin minim. Untuk menjadikan even tahunan Pesta Danau Toba dalam agenda pariwisata Provinsi Sumatera Utara saja, panitia nyaris senin-kemis di dalam mengumpulkan dana dan komitmen.
Beginilah kalau sebuah warisan dunia dan global yang berbau pra-sejarah dalam berbagai konteks tidak dilihat dalam kepentingan masyarakat dan penduduk serta kemajuannya saat ini.

 Cara pandang para stakeholder masih perlu diperluas. Alangkah jadi sebuah penyesalan, jika dalam even seperti diskusi terfokus yang diselenggarakan, para peserta dari daerah-daerah di sekitar Danau Toba, terutama kepala daerahnya masih ada bersikap tidak peduli. (***)



SHARE:
Tags
komentar
beritaTerbaru