unita
Print This Post Print This Post
Share on Facebook

Pertemuan APEC di Singapura, SBY: Ekonomi Global Tak Boleh Lagi Bergantung Pada AS * Pengamanan Ketat Tapi Santai

Posted in Berita Utama by Redaksi on November 15th, 2009

Singapore APEC
BERJABAT TANGAN: PM Singapura Lee Hsien Loong (kanan) berjabat tangan dengan presiden RI Susilo Bambang Yudhoyono di istana kepresidenan Singapura untuk mengikuti KTT APEC. (AP Photo/Vincent Thian)

Singapura (SIB)
Pertemuan Tingkat Tinggi Negara-Negara Asia Pasifik (AFEC) dengan para pemimpin usaha dari seluruh penjuru dunia di Singapura telah berlangsung pada hari pertama, Jumat (13/11).
Presiden RI Susilo Bambang Yudhoyono mendapat kesempatan menyampaikan paparan terkait masalah pertumbuhan dan keseimbangan ekonomi Indonesia sehingga menjadi perhatian utama dari para peserta karena pada ajang kali ini hanya China dan Indonesia pertumbuhan ekonominya masih positif. India sendiri tidak ada.
Susilo Bambang Yudhono berprinsip apa yang akan dilakukan terkait paparan program 100 harinya mendapat tanggapan bahkan mengundang perhatian investor asing. Presiden juga mengajak para pebisnis untuk melihat komoditi dalam rangka menanamkan modalnya.
Dikatakan, di saat ekonomi negatif pertumbuhan ekonomi masih 4,3 persen bahkan mencapai 5-6 persen. Kesimpulannya dari perbicangan sejumlah pemimpin dunia yang berkumpul di AFEC menyepakati bahwa krisis ekonomi global sudah hampir berakhir.
Meski demikian, masih ada beberapa hal yang harus diwaspadai, misalnya pengangguran masih tinggi. Namun mereka telah menyepakati bahwa krisis global telah menghantui selama 5 tahun terakhir dinilai akan berakhir khususnya di Asia.
SBY: Ekonomi Global Tak Boleh Lagi Bergantung Pada AS
Presiden Susilo Bambang Yudhoyono menyatakan dalam menentukan arah ekonomi global yang baru pasca krisis ekonomi global yang cukup dalam, dunia tidak bisa lagi bergantung pada sebuah mesin ekonomi saja seperti AS.
Dikatakan SBY, negara-negara di Asia dan kawasan Asia-Pacific Economy Cooperation (APEC) harus bisa berperan dalam perekononomian global ke depan.
“Asia dan kawasan APEC amat penting dalam penentuan arah baru ekonomi global. Ekonomi global tidak bisa lagi bergantung pada 1 mesin ekonomi, seperti USA. Kita harus menciptakan keseimbangan baru dalam pertumbuhan ekonomi dunia,” tutur SBY dalam pidatonya pada pertemuan APEC di Singapura, Jumat (13/11).
SBY mengatakan, Asia bisa berperan penting dalam penentuan arah perekonomian global ke depan karena mencatat pertumbuhan ekonomi yang positif meskipun terjadi krisis keuangan di tahun 2008, dan pemulihan ekonomi di Asia juga termasuk yang paling cepat di antara kawasan lainnya.
“Termasuk dalam kategori ini Indonesia yang mencatat pertumbuhan ekonomi ke tiga tertinggi di dunia setelah Cina dan India. Pada 2008 ekonomi kami tumbuh 6,1% dan tahun ini diharapkan bisa 4,3%. Ekonomi Asia juga diharapkan pulih pada 2010, dan pada saat itu pertumbuhan ekonomi Indonesia ditargetkan antara 5 sampai 5,5%,” tutur SBY.
“Yang harus kita lakukan sekarang bagaimana agar negara-negara surplus menanamkan surplusnya ke sektor-sektor produktif seperti infrastuktur, pendidikan dan kesehatan untuk mendorong produktivitas,” imbuhnya.
Sedangkan bagi negara yang mengalami defisit anggaran, SBY menyarankan untuk melakukan reformasi struktural yang bertujuan memperbaiki kelanjutan pertumbuhan ekonominya.
Sedangkan bagi negara-negara yang defisit harus melakukan reformasi struktural yang bertujuan memperbaiki kelanjutan pertumbuhan ekonominya.
Pengamanan Ketat Tapi Santai
Bila kebetulan Anda berkunjung ke Singapura pekan ini, jangan terlalu risau bila di hampir setiap titik ada polisi bersenjata lengkap. Bukan karena huru hara, melainkan mengamankan gelaran KTT APEC 2009.
Sebaran aparat berseragam biru tua tersebut paling banyak terlihat di kawasan Marina. Paling mencolok di komplek SUNTEC dan hotel-hotel tempat menginap para kepala negara anggota APEC.
Ada polisi yang ditempatkan di bawah pohon, di atas jembatan pertokoan dan di berbagai tempat terbuka. Di pinggang mereka terselip pistol, borgol, radio komunikasi dan pentungan.
Contohnya di Istana Singapura yang menjadi tempat PM Lee Hsien Loong menyambut resmi para Kepala Pemerintahan negara anggota APEC yang hadir.
Misalnya saja ketika menjamu Presiden SBY pada Kamis malam, seluruh anggota rombongan yang meski berkalung id card resmi KTT APEC tetap dicocokan dengan daftar tamu.
Celakanya dua staff KBRI yang bertugas sebagai liason officer tidak tercantum dalam daftar itu.
Si sopir yang mengemudikan mobil van wartawan juga tidak tercantum namanya di daftar yang jadi pegangan polisi Singapura sehingga dilarang masuk kompleks Istana.
Maka perlu usaha cukup panjang menyakinkan bila tiga orang tersebut adalah unsur pendukung bagi delegasi Indonesia.
Setelah melakukan pemeriksaan silang ke pihak panitia penyelenggara APEC, tidak berapa lama seluruh rombongan dipersilahkan masuk ke kompleks Istana.
Uniknya meski dalam kondisi siaga penuh, para polisi yang mayoritas muda usia itu nampak santai. Mereka tidak memasang sorot mata penuh selidik apalagi wajah seram bahkan warga dan pelancong tidak dilarang lalu lalang di sekitar kompleks SUNTEC.
Bisa jadi ini merupakan bagian standar operasi terkait image Singapura sebagai kota wisata belanja. Jadi ketatnya pengamanan ketat jangan sampai membuat wisatawan jadi masam. (detikfinance/TVOne/M11/u)

Comments are closed.