Teheran/Washington (SIB)
Iran menegaskan penolakannya atas pembahasan pabrik nuklir keduanya saat dimulainya perundingan internasional pekan ini. Namun AS telah berjanji akan membawa masalah pabrik kedua Teheran itu dan menuntut republik Islam tersebut membuktikan bahwa mereka tidak sedang mengembangkan senjata nuklir.
Para pejabat Iran dan perwakilan enam negara kuat termasuk AS, China dan Rusia, akan bertemu membahas ambisi nuklir Teheran di Jenewa hari Kamis (1/10). Ini merupakan pertemuan pertama sejak Presiden AS Barack Obama berkuasa yang menjanjikan diplomasi negaranya lebih aktif.
Kepala Organisasi Energi Atom Iran, Ali Akbar Salehi, menegaskan Iran merasa pabrik pengayaan uranium yang dibangun dengan pengamanan maksimum dari serangan udara tidak untuk dibahas. “Kami tidak akan membicarakan apa pun yang terkait hak-hak nuklir kami. Namun kami bisa membicarakan perlucutan, non-proliferisasi dan isu-isu umum lainnya,” tegas Salehi dalam jumpa pers seperti dilaporkan Reuters, Rabu (30/9).
“Pabrik nuklir baru itu adalah bagian dari hak kami. Oleh karena itu, tidak perlu dirundingkan,” ujarnya seraya menambahkan Teheran tidak akan membekukan pengayaan uranium karena aktivitas itu merupakan hak “kedaulatannya”. “Bila kami memiliki hak untuk pengayaan uranium, bila kami memiliki hak untuk menggantikan uranium, bila kami memiliki hak untuk memproduksi minyak, makan kami akan memanfaatkan hak-hak tersebut. Kami tidak membekukannya. Ini adalah hak kedaulatan kami. Kami tidak bakal menggadaikan hak-hak kedaulatan kami,” ujarnya menegaskan.
Sebelumnya Obama bersama Perdana Menteri Inggris Gordon Brown dan Presiden Perancis Nicolas Sarkozy pekan lalu mendesak Iran menjelaskan keberadaan pabrik nuklir keduanya dan meminta Teheran mengijinkan Badan Tenaga Atom Internasional (IAEA) memeriksanya. Washington sedang mempertimbangkan menjatuhkan sanksi energi dan keuangan jika Teheran gagal menghilangkan kecemasan Barat bahwa mereka sedang mengembangkan senjata nuklir. AS yakin sanksi baru itu akan lebih efektif.
AL Iran Gunakan Kapal Canggih
Sementara itu, angkatan Laut Iran mulai menggunakan kapal misil yang paling canggih buatan dalam negeri yang diberi nama Sina, dalam upaya untuk meningkatkan kemampuan pertahanan maritimnya. Sina resmi berlayar di Laut Kaspia di utara Iran dalam sebuah upacara yang dihadiri oleh Menteri Pertahanan Iran Ahmad Vahidi dan komandan Angkatan Laut Iran Laksamana Habibollah Sayyari.
Kapal itu dirancang dan dibangun oleh ahli dari Departemen Pertahanan, bekerja sama dengan angkatan bersenjata Iran. Sina memiliki lebih dari 100 radar, artileri, sistem elektronik dan telekomunikasi, juga dilengkapi dengan sistem navigasi modern.
Seperti dikutip dari Press TV, Rabu (30/9), hasil kemajuan teknologi dan penelitian ini membawa pesan perdamaian dan persahabatan dari Iran bagi negara-negara kawasan. Sementara itu, seorang komandan militer senior Iran mengatakan bahwa negerinya akan menghasilkan versi lanjutan dari rudal Sejil.
“Sebuah generasi baru rudal Sejil yang dioptimalkan akan diproduksi,” kata Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) Panglima Angkatan Udara Brigadir Jenderal Hossein Salami. “Rudal jarak jauh Sejil yang berbahan bakar padat telah diuji sejak tahun lalu dan telah dikirimkan khususnya kepada angkatan bersenjata dan angkatan udara IRGC,” katanya.
“Sejil memiliki akurasi tinggi dan kemampuan merusak, dan merupakan yang paling maju di antara sistem rudal yang dimiliki angkatan bersenjata.” Salami menekankan bahwa produksi rudal Iran tidak akan berhenti. Dia pun menegaskan bahwa industri rudal Iran terus meningkat setiap harinya.
Pada Senin kemarin Iran berhasil menguji-tembak rudal jarak jauh Shahab-3 dan Sejil pada tahap terakhir lanjutan latihan militer yang diberi nama Nabi Besar IV, yang dilaksanakan oleh IRGC. Rudal Shahab-3 memiliki jangkauan 1.300 hingga 2.000 kilometer. Sementara Sejil adalah rudal dua tahap yang didukung oleh bahan bakar padat yang diuji oleh IRGC untuk pertama kalinya dalam latihan tersebut. Kedua proyektil itu mengenai sasaran yang ditetapkan dengan akurat.
IRGC berhasil menguji beberapa model rudal jarak menengah Shahab-1 dan Shahab-2 selama tahap pertama dan kedua latihan militer di pusat Iran Minggu malam. Salami mengatakan rudal Shahab-2 dapat memukul target setidaknya pada jarak 300 kilometer hingga 700 kilometer.
Uji coba rudal tersebut dilakukan seiring langkah Israel yang berulang kali mengancam perang dan akan memborbardir sejumlah fasilitas nuklir Iran. Iran telah bernazar akan merespons tegas setiap tindakan militer oleh Israel, yang mengklaim bahwa Teheran secara diam-diam mengembangkan senjata nuklir. Padahal tuduhan tersebut telah dibantah Iran maupun pengawas nuklir PBB. (Ant/Rtr/AP/WH/y)

Print This Post
Share on Facebook

