Surya Tour
Print This Post Print This Post
Share on Facebook

Pemanfaatan Kearifan Lokal dalam Penanganan Ekosistem Danau Toba

Posted in Opini by Redaksi on Juni 23rd, 2009

Oleh Ir Bezalel Siagian MSi

Bagian Pertama : Danauku Sayang…Danauku Malang
Danau Toba adalah salah satu danau air tawar terbesar didunia, yang memiliki luas areal perairan mencapai puluhan kilometer persegi dengan kedalaman sampai 900 meter, pada bagian yang terdalam. Danau Toba terletak pada daerah dataran tinggi Toba di Sumatera Utara dengan ketinggian permukaan airnya mencapai 698 meter dari permukaan laut. Secara geografis Danau Toba terletak pada kawasan Danau Toba yaitu pada area antara : 2010’LU sampai dengan 3000’LU dan antara : 98020’BT sampai dengan 99050’ BT. Danau Toba tercakup dalam wilayah administrasi dari tujuh kabupaten yang terletak didaerah dataran tinggi Sumatera Utara.
Danau Toba dahulu tercatat sebagai danau air tawar kebanggaan masyarakat Indonesia khususnya masyarakat Sumatera Utara karena : keindahan panorama alamnya, kenyamanan dan kesegaran udaranya, keasrian dan keterpaduan lingkungan alam, keramah-tamahan penduduk yang bermukim disekitarnya , serta nilai-nilai budaya dan adat tradisional yang tinggi, yang kesemuanya itu menarik perhatian dan respon masyarakat internasional. Tetapi sekarang ini…., Danau Toba telah menjadi danau yang jauh dari kebanggaan . Danau Toba telah ditimpa malapetaka karena dirusak oleh orang atau masyarakat yang memiliki kepentingan dengan ekosistem danau tersebut. Danau Toba telah diperkosa secara tragis oleh : kepentingan industri, keserakahan investor, ketidakpedulian masyarakat sekitar, ketidak-berdayaan pemerintah ,serta faktor-faktor perusak lainnya.
Tinggi permukaan air Danau Toba secara nyata terus menurun karena volume air yang keluar melalui hulu sungai Asahan lebih besar dari volume air yang masuk ke Danau Toba melalui daerah tangkapan airnya. Sekilas penurunan tinggi permukaan air Danau Toba tidak memberi gambaran yang signifikan atau tidak menurun dengan kontras. Penurunan permukaan air Danau Toba secara visual memang terlihat lambat seiring perjalanan waktu, namun keadaan itu adalah karena hamparan air danau itu sangat luas sehingga memberi kesan bahwa penurunan permukaan air danau terlihat pelan. Bila memperkirakan luas Danau Toba yang sangat besar, serta tinggi permukaan air danau yang telah turun maka sebenarnya volume air yang turun atau hilang, telah mencapai jumlah yang sangat besar sekali.
Sebagai warga yang berasal dari kawasan Danau Toba, maka dari pengamatan penulis, dapat diketahui bahwa penurunan permukaan air Danau Toba telah mencapai lebih dari tiga meter selama dua dekade terakhir. Pemerintah mungkin sulit untuk bertindak mengurangi volume air yang keluar melalui hulu sungai Asahan, karena hal itu dapat menimbulkan dampak negatif terhadap pembangkit tenaga listrik untuk kepentingan perusahaan aluminium (INALUM) yang berada di daerah pesisir Timur Sumatera Utara. Dalam ketidak – berdayaan , pemerintah justru mengambil solusi yang tidak menarik yaitu mengalihkan muara Sungai Lae Renun ke Danau Toba, dengan harapan sumbangan air dari sungai Lae Renun tersebut dapat menutupi defisit air Danau Toba. Pemerintah dinilai tidak memperdulikan adanya material berupa pasir dan kerikil yang terbawa sungai Lae Renun kedalam Danau Toba karena efek negatifnya mungkin baru terlihat setelah jangka waktu yang agak lama dimasa mendatang.
Pencemaran terhadap air Danau Toba, sebenarnya sudah dimulai sejak puluhan tahun silam, Hampir semua penduduk yang bermukim dipesisir pantai Danau Toba membuang limbah langsung kedalam Danau Toba. Kalau dahulu, volume limbah mungkin masih sangat kecil, demikian juga jenis limbahnya bukanlah dari bahan kimia yang berbahaya. Tetapi sesuai dengan perjalanan waktu yang diikuti oleh pertambahan jumlah penduduk, juga perubahan jenis dan bentuk kegiatan aktivitas , maka volume dan jenis limbah yang masuk Danau Toba jelas sangat meningkat dan sangat membahayakan. Sejak tahun enam puluhan, petani di sekitar Danau Toba telah terbiasa menggunakan pupuk kimia secara tidak terkontrol , padahal semua aliran air dari persawahan bermuara ke Danau Toba. Pada masa tahun enam puluhan juga terdapat banyak industri textile (pabrik tenun) di sekitar pesisir Danau Toba seperti di Balige, Pangururan dan Nainggolan. Semua saluran pembuangan limbah industri textile ini secara faktual bermuara ke Danau Toba.
Pada masa pesatnya kedatangan turis manca – negara ke Pulau Samosir, pernah dilakukan penelitian terhadap kualitas air disekitar kota Tomok, Ressort Tuktuk Siadong, serta areal disekitarnya. Dari hasil penelitian itu diketahui bahwa bakteri e-coli yang sumbernya berhubungan dengan tinja manusia, telah memiliki jumlah yang sangat luar biasa diperairan danau. Jumlah bakteri e-coli yang sangat besar ini, adalah ancaman langsung terhadap kesehatan manusia. Kondisi ini menunjukkan bahwa instalasi Septic-tank dihotel-hotel dan perumahan penduduk diwilayah tersebut berhubungan langsung dengan perairan Danau Toba.
Memperhatikan perkembangan pemukiman penduduk dipinggiran Danau Toba terutama mengenai : jumlah bangunan yang bertambah , populasi penduduk yang semakin besar , saluran irigasi, sistem pembuangan limbah, maka dapat diperkirakan bahwa volume limbah berbahaya yang masuk ke dalam Danau Toba akan semakin meningkat setiap tahunnya.
Pemeliharaan ikan nila di dalam keramba apung merupakan alternatip terbaik bagi masyarakat, setelah timbulnya wabah terhadap ikan mas yang dipelihara dalam keramba. Sementara menangkap ikan yang bebas didalam danau, sulit memberi hasil menggembirakan karena populasi dan ukuran ikan sudah sangat kecil. Pemeliharaan ikan dalam keramba apung harus diakui memberi efek negatif kepada lingkungan Danau Toba terutama efek dari bahan pakan ikan (berupa pelet) yang tidak terkonsumsi oleh ikan piara dan terbuang secara kontinue ke dalam danau. Jumlah kumulatif bahan pakan ikan yang terbuang dari seluruh keramba apung diperkirakan sudah sangat besar. Dapat dibayangkan masalah yang mungkin terjadi bila keadaan tersebut masih terus berlanjut. Di sisi lain, adanya perusahaan asing yang memelihara ikan nila dalam keramba apung di Danau Toba, diduga berperan sangat besar memberi sumbangan limbah kedalam danau baik berupa pellet terbuang maupun limbah jenis lainnya. Perusahaan ini diyakini memiliki jumlah ikan peliharaan sangat banyak, dengan demikian jumlah limbah terbuang dari seluruh keramba apung yang dimiliki perusahaan ini diperkirakan sangat besar setiap harinya. Sebagai perusahaan perikanan yang memberi banyak devisa bagi negara, maka diduga pemerintah akan sulit mengontrol langsung pembuangan bahan beracun yang mungkin dilakukan perusahaan tersebut.
Seandainya seluruh area yang mengelilingi Danau Toba ditumbuhi oleh pepohonan dan vegetasi lainnya yang membentuk hutan, maka diyakini bahwa hutan sekeliling Danau Toba akan menambah keindahan panorama dan kenyamanan lingkungannya . Demikian halnya dengan puncak dan lereng dari Pulau Samosir yang secara faktual tandus dan gundul, akan berubah menjadi hijau dan lebih subur bila ditumbuhi pepohonan. Adanya hutan disekeliling Danau Toba diharapkan akan memberi sumbangan air ke Danau Toba. Hutan akan menyimpan air dan selanjutnya mendistribusikannya secara teratur ke area yang lebih rendah. Tetapi gambaran adanya hutan disekeliling Danau Toba mungkin sulit terwujudkan atau upaya reboisasi didaerah ini dapat dikatakan mustahil. Hal ini didasarkan pada kenyataan bahwa area sekeliling Danau Toba dan Pulau Samosir dari tahun ke tahun semakin kritis, demikian juga halnya dengan hutan yang dulunya ada, sekarang sudah habis.
Secara faktual, Danau Toba yang dahulu sangat indah dan sangat dibanggakan, telah mengalami degradasi nilai berupa penurunan permukaan air dan penurunan kualitas air akibat limbahnya seperti limbah rumah tangga, limbah keramba apung dan limbah lainnya. Lingkungan sekitar Danau Toba juga sudah kritis dan gundul, yang semuanya itu menambah beban dan derita Danau Toba yang malang. (Penulis Adalah Pemerhati Adat Batak, Dosen UHN Medan/p)

Comments are closed.