stmiksmxii
Print This Post Print This Post
Share on Facebook

Produksi Jagung di Sumut Meningkat dari 804.850 Ton Menjadi 1.102.454 Ton

Posted in Ekonomi & Keuangan by Redaksi on Juni 19th, 2009

T Karo (SIB)
Perubahan cuaca dan kurangnya pupuk serta tidak tepatnya pemberian pupuk terhadap tanaman jagung tidak semata menjadi dampak menurunnya produksi jagung di Sumut, melainkan meningkat. Peningkatan terjadi tahun 2007 dari produksi 804.850 ton menjadi 1.102.454 ton pada tahun 2008 atau meningkat 36,98 persen. Sedangkan target produksi jagung di Sumut 2009 diharapkan tercapai 1.135.148 ton.
Produksi jagung di Karo 2009 diharapkan 286.331 ton dan bila ini tercapai, kebutuhan jagung di Sumut yang diperkirakan 842.739 ton dapat terpenuhi sehingga Sumut surplus jagung sebanyak 292.403 ton.
Hal ini dikatakan Plt Dinas Pertanian Sumut, Ir Sugeng Prasetyo melalui Kasubdis Produksi Ir Lintong Sitorus dalam sambutannya pada panen perdana jagung Bisi 816 dimotori Pt Tanindo Intertraco di perladangan Kawar Brahmana, Senin (15/6) di Desa Perbesi, Tigabinanga.
Karenanya, harap Sitorus melanjutkan di hadapan ratusan petani, termasuk petani dari Kecamatan Bandar Pusaka, Aceh Tamiang, NAD, pemerhati masyarakat pedesaan (PMP) Alexander Hr Ginting agar, pemerintah dan stakeholdernya, BUMN dan pihak produsen meningkatkan pengembangan agribisnis jagung dan komoditi lainnya di Sumut dan khususnya di Karo. Sitorus juga menghimbau petani, mengingat gas alam yang merupakan cadangan bahan utama pembuatan pupuk urea terancam krisis 15 tahun mendatang, agar petani diharapkan menggunakan pupuk organik.
“Selain pupuk organik pasti berpotensi menyuburkan tanah sebagai areal pertanian, produksi pertanian dari pupuk organik juga cukup berpeluang diterima pasar luar,” ungkap Sitorus mengakhiri.
Pemakai pupuk kimia dan pestisida terbanyak di Sumut
Demikian juga Plt Kadis Pertanian dan Perkebunan Kabupaten Karo, Ir Noumi Sinuhaji menyatakan pihaknya cukup prihatin dengan pola pikir petani di Karo yang terus memprioritaskan penggunaan pupuk kimia dan pestisida pada setiap tanaman. Petani di Karo merupakan pengguna pupuk kimia dan pestisida terbanyak di Sumut dan bahkan terbesar di tingkat nasional.
Karenanya, dalam pertemuan ini, harap Noumi didampingi Kasi Pemerintahan Kecamatan Tigabinanga, Permanen Purba, Area manager PT Tanindo Intertraco, Ir Alam Sembiring dan Ir Lintong Sitorus agar, paradigma tradisional pertanian di Karo perlu segera diubah dari pemakaian kimia menjadi organik. Di samping gas alam sebagai bahan baku utama pembuatan pupuk urea terancam 15 tahun mendatang, pupuk organik merupakan solusi utama sektor pembangunan pertanian ke depan, harap Noumi.
Sementara itu, Areal Manager PT Tanindo Intertraco didampingi Marketing Executive Edi Surya memaparkan bahwa, walau curah hujan sejak musim tanam sampai musim panen di wilayah desa Perbesi hanya 4 kali, tidak membuat panen fuso. Secara geografis wilayah pertanian jagung di Karo, mulai dari daerah Perbesi-Kabanjahe, diperkirakan produksi turun mencapai 20 persen. Sementara wilayah dari Perbesi sampai ke Mardinding diperkirakan fuso dan paling tidak hanya berproduksi rata-rata 30 sampai 40 persen.
“Nyatanya, dari hasil ubinan bisi 816 pada panen perdana tadi, berat pipil mencapai 19,3 kg dari 64 tongkol. Hasilnya cukup memuaskan bila pun cuaca kemarau terjadi selama musim tanam,” ujar Alam Sembiring dan dilanjutkan dialog mengatasi beragam penyakit menyerang tanaman jagung di Karo dan di Aceh Tamiang. (M37/h)

Comments are closed.