Bangkok (SIB)
Menteri Pertahanan Thailand Jenderal Prawit Wongsuwon Jumat (30/7) menyerukan pertemuan keamanan darurat dan unit-unit intelijen untuk mendiskusikan situasi secara menyeluruh di negara itu, kantor berita TNA melaporkan.
Pertemuan tersebut dilakukan sebagai respon atas ledakan granat tangan di ibukota Bangkok, hanya beberapa hari setelah ledakan di ibu kota itu, menewaskan satu orang dan sembilan orang lagi cedera. Jenderal Prawit menyatakan bahwa ia mengkhawatirkan bahwa situasi itu dapat meningkatkan ketegangan.
Ledakan tersebut terjadi sekitar pukul 1.30 waktu setempat di Jalan Rangnam dekat pusat perbelanjaan bebas pajak, King Power, di pusat kota Bangkok. Diskusi itu bertujuan untuk memberi jaminan kepada publik bahwa pihak keamanan mampu mengendalikan situasi dan perintah, kata Jenderal Prawit. “Beberapa kalangan tidak ingin perdamaian dan stabilitas kembali pulih, namun pemerintah tidak akan mengendorkan upaya untuk memberi jaminan keamanan kepada masyarakat,” ujar Jenderal Prawit.
Suratkabar Bangkok Post di laman internetnya mengutip Deputi Perdana Menteri Urusan Keamanan Suthep Thaugsuban mengatakan perkembangan terkini di Bangkok merefleksikan suatu usaha untuk mendiskreditkan pemerintah koalisi.
Sementara itu pemimpin kaos Merah dibebaskan dengan jaminan, lebih dari dua bulan setelah ditahan dengan tuduhan terorisme sehubungan dengan kekerasan unjukrasa jalanan. Pengadilan Banding memutuskan pembebasan sementara ketua gerakan itu, Veera Musikapong, sesudah ia memasukkan jaminan senilai enam juta baht (sekitar 1,86 miliar ruiah).
Ia dilarang bepergian keluar Bangkok tanpa izin pengadilan, melakukan pertemuan lebih dari lima orang -kecuali dengan keluarganya- dan berbicara kepada media, kata pejabat tersebut. Veera harus melapor ke pengadilan setiap 15 hari.
Ia salah satu pemimpin Kaos Merah tingkat atas, yang menyerah kepada polisi setelah tentara menyerbu perkemahan luas gerakan itu di jantung kota Bangkok pada 19 Mei, yang mengakhiri unjukrasa dua bulan mereka. Pemimpin tinggi Kaos Merah saat ini dipenjara atau bersembunyi.
Unjukrasa menentang pemerintah yang bertujuan memaksakan pemilihan umum dini, memicu serangkaian benturan antara pengunjukrasa dengan pasukan bersenjata, yang menewaskan sekitar 90 orang -kebanyakan warga- dan hampir 1.900 lagi luka.
Setelah tindakan keras tentara itu, pemimpin mereka meminta ribuan pendukungnya bubar, tapi pengunjukrasa marah lalu mengamuk, membakar puluhan bangunan, termasuk pusat perbelanjaan dan bursa. Pihak berwenang menggunakan kekuasaan darurat mereka untuk menangkap ratusan tersangka, termasuk pemimpin tertinggi Kaos Merah.
Suthep, yang bertanggung jawab atas keamanan negara, menyatakan Kaos Merah “menjadi lebih garang”, dengan menuduh mereka merendahkan raja. Keadaan darurat itu, yang diberlakukan pada April setelah unjukrasa besar lawan pecah di ibukota, dipertahankan di Bangkok dan 18 propinsi lain, dari seluruh 76 provinsi. (Ant/Rtr/AFP/q)

Print This Post
Share on Facebook

