stmiksmxii
Print This Post Print This Post
Share on Facebook

BOCAH JALANAN JADI BUDAK SEKS KAUM HOMO

Posted in Berita Utama by Redaksi on Juli 25th, 2010

Jakarta (SIB)
Anak jalanan yang hidup bebas di sekitar kawasan tempat hiburan malam, di kawasan Menteng, Jakarta Pusat, banyak diincar pria blue yang mengidap pedofilia maupun homoseksual. Bocah, baik lelaki maupun perempuan, itu sering dijadikan pemuas nafsu syahwat dengan biaya murah.
Anak yang sehari-hari hidup menggelandang di jalanan dan tidur di emperan Stasiun KA Gambir maupun Pasar Senen tersebut tidah butuh biaya besar untuk memenuhi kehidupannya. Mereka cukup diberi uang beberapa puluh ribu rupiah, dibelikan pakaian murah, maupun diajak minum bir bersama, akan mudah diajak ke tempat penginapan maupun homestay untuk kencan.
Keberadaan anak jalanan (anjal) yang tidak terlalu menuntut kebutuhan material ini dikendalikan germo untuk ‘menjual’ mereka kepada wisatawan asing yang berkunjung di kafe Kawasan Menteng. Jadi, anjal yang sehari-hari mengais uang receh dengan cara mengamen maupun jadi tukang semir sepatu, terkadang mendapat order dari ‘germo’ untuk melayani pria bule.
Seperti dituturkan Irwin (bukan nama sebenarnya-red) yang sering menawarkan bocah kepada wisatawan asing bahwa cukup banyak tamu asing yang mengidap kelainan seks pedofili (bernafsu terhadap anak ingusan) maupun homoseks (menyukai sesama lelaki).
“Bahkan pernah juga saya dapat order dari wanita bule yang butuh teman anak lelaki”, ungkap pria jebolan SD namun sangat lancar berbahasa Inggris itu, kemarin.
Untuk sekali kencan, mereka tidak pasang tarif mati. “Tarifnya sangat fleksibel, yang penting tamu bisa bersenang-senang”, tambah Irwin yang menjual anjal dengan tarif kencan mulai dari Rp 100 ribu.
Tiap malam, sekelompok anjal yang berjumlah belasan orang, keluar dari “sarangnya” menuju Jalan Jaksa untuk mendapatkan makan. Tapi kalau saat dibutuhkan mereka tidak ada, maka Irwin atau temannya terpaksa menjemputnya pakai sepeda motor di kawasan Pasar Senen maupun Stasiun KA Gambir.
KE APARTEMEN
Beberapa anjal yang sering mendapat order menemani orang bule, biasanya untuk sementara meninggalkan pekerjaan hariannya sebagai pengamen maupun tukang semir sepatu. Bahkan kadang-kadang, mereka terlihat menemani tamu asing minum bersama di salah satu kafe. “Selain menemani menginap di home-stay, saya juga sering diajak ke apartemen”, ujar Ton, salah satu anjal berusia 15 tahun.
Meski tidak bisa baca-tulis, namun dia sudah cukup lumayan berkomunikasi dalam bahasa Inggris. Selama menemani tamu, dia pasrah diperlakukan apapun, karena dengan begitu, dia bisa dapat makan burger, beefsteak, dan makanan enak lainnya, serta membawa pulang uang yang menurutnya lumayan besar.
Sebagai anjal, Ton berperawakan tinggi langsing berkulit putih menjadi salah satu primadona. Dia punya pelanggan dari Belanda yang tiap tiga bulan datang ke Jakarta.
“Di saat bos ada di Jakarta, saya bisa hidup enak, tapi kalau pulang ke negerinya, saya terpaksa ngamen lagi atau menyemir sepatu”, kata anjal yang sering ‘ngaibon’ alias mabuk menghirup lem merek Aibon yang merupakan cara murah buat teler kalangan anjal. (PK/c)

Comments are closed.