stmiksmxii
Print This Post Print This Post
Share on Facebook

George: Yayasan Terkait SBY Perlu Diaudit Independen

Posted in Berita Utama by Redaksi on Desember 28th, 2009

Jakarta (SIB)
Kontroversi seputar buku ‘Membongkar Gurita Cikeas: Dibalik Skandal Bank Century’ tidak terlepas dari catatan penulisnya George Aditjondro yang mengkritisi yayasan- yayasan di sekitar SBY. Ada dugaan aliran dana yang tidak jelas mengalir ke yayasan tersebut sehingga perlu dilakukan audit independen.
“Maksud saya soal yayasan itu adalah semua yayasan yang berafiliasi ke SBY dan Ani Yudhoyono harus diaudit independen, karena ada kemungkinan dana BUMN mengalir ke situ,” kata George saat dihubungi lewat telepon, Sabtu (26/12).
Dugaan George bukannya tak berdasar. Dalam struktur kepengurusan beberapa yayasan, terdapat sejumlah nama yang pernah dan masih aktif di lingkungan BUMN. Selain itu, sokongan dana dari pengusaha hitam juga sempat dikabarkan masuk ke salah satu yayasan.
“Itu semua pengurusnya terpampang jelas di situs-situs yayasan. Bahkan sudah sempat termuat di media, ada yayasan yang mendapat US$ 1 juta dari Joko Tjandra,” urainya.
Dengan melakukan audit pada yayasan seperti Yayasan Puri Cikeas, Yayasan Mutu Manikam Nusantara, Majelis Dzikir SBY, dan Yayasan Kepedulian dan Kesetiakawanan, maka publik bisa tahu berapa besar dana yang masuk serta darimana sumbernya. Termasuk juga adanya dugaan dana dari LKBN Antara yang masuk ke tim kampanye SBY.
“Jangan kita berdebat soal berapa jumlahnya. Tapi ada tidak aliran dana itu? Dibantah enggak? Karena saya juga punya sumber yang valid dari orang dalam Antara,” jelasnya.
George mengklaim, masih banyak data yang belum ia ungkap di dalam buku terkait sumber dana kampanye SBY. Ia juga menyayangkan pihak KPU dan Bawaslu yang tidak meneliti secara mendalam tentang tim kampanye dan dana kampanye yang digunakan SBY. “Ini dianggap sebagai partai besar. Jadi mereka tidak hiraukan,” tutupnya.
Terkait persoalan yayasan, juru bicara Presiden SBY Julian Aldrin Pasha mengatakan ada fakta yang tidak akurat. Saat ini, pihak SBY sedang mempelajari isi buku tersebut. Belum ada rencana gugatan maupun melarang penjualan buku.
Sementara, dana yang dikabarkan mengalir dari LKBN Antara ke tim kampanye SBY di Bravo Media Centre, telah dibantah oleh mantan tim sukses SBY Andi Arief. Andi menegaskan, tidak ada aliran dana sebesar itu dan data yang digunakan George cenderung fitnah.
Buku Hilang dari Peredaran, George Tak Khawatir
Buku ‘Membongkar Gurita Cikeas: Dibalik Skandal Bank Century’ kini telah hilang dari peredaran, meski pemerintah tidak membuat larangan. Sebagai penulis, George Aditjondro mengaku tidak khawatir dan akan tetap memasarkan bukunya lewat jalur lain.
“Saya tahunya yang di Gramedia ditarik. Tapi saya rasa penjualannya masih ada,” kata George saat berbincang lewat telepon, Sabtu (26/12) malam.
Menurut George, ada pembeli yang langsung menghubungi pihak distributor. Ada juga sejumlah toko buku yang menjualnya di titik-titik tertentu.
“Pokoknya selama belum ada surat dari Kejaksaan Agung kalau buku saya dilarang. Maka distributor akan tetap melayani pemesanan,” jelasnya.
Jika bukunya nanti dilarang beredar, George menilai justru akan semakin menciderai proses demokrasi di Indonesia. Buku tersebut akan menjadi buku keenam yang dilarang peredarannya oleh pemerintahan SBY.
“Apa kita masih mau mengatakan ini negeri demokrasi?,” tanya pria yang pernah dicekal saat era Soeharto ini.
Tidak gentar dengan reaksi negatif dari kubu SBY, George bahkan berencana menggelar bedah buku untuk mengupas semua hal yang ditulisnya. Kegiatan tersebut akan digelar pada tanggal 30 Desember mendatang di Dukun Cafe, Jakarta. “Saya akan beberkan semuanya nanti,” tutup pria berjanggut ini.
George: Buku Harus Dilawan dengan Buku
Penulis buku ‘Membongkar Gurita Cikeas: Dibalik Skandal Bank Century’ George Aditjondro meminta pada siapa pun yang tidak terima dengan bukunya agar memberikan jawaban dengan cara ilmiah. Tulisan investigatif di dalam buku, harus dibantah pula dengan buku tandingan.
“Saya mengusulkan karena SBY kan doktor, lalu punya tim sukses lagi. Saya juga doktor. Kalau buku dilawanlah dengan buku,” kata George, saat berbincang lewat telepon, Sabtu (26/12) malam.
George menilai, segala sesuatu yang dituis dalam bukunya berasal dari sumber yang valid dan bisa dipercaya. Ia juga didukung dengan data-data yang kebenarannya tidak perlu diragukan. Bahkan, proses pengumpulan data sudah ia lakukan sejak tahun 2003. “Semenjak SBY menjabat sebagai Menkopolkam,” imbuhnya.
Untuk itu, segala respons negatif atau keprihatinan dari kubu SBY harus disikapi dengan cara ilmiah. Sebab, pria yang lahir di Pekalongan ini menganggap, banyak keganjilan dalam proses pemenangan SBY sebagai presiden. Terlebih hanya satu putaran.
“Inti dari buku saya adalah kemenangan SBY dalam satu putaran itu ditopang oleh hal-hal yang berbau pelanggaran hukum. Kalau itu tidak betul, bikin buku yang secara ilmiah menyatakan itu adalah kemenangan murni,” jelasnya.
Sebelumnya, George juga pernah menulis tentang korupsi di kepresidenan. Pada tahun 2006, pria yang pernah dicekal oleh rezim Soeharto ini menulis buku yang berjudul ‘Reproduksi Oligarki Berkaki Tiga: Istana, Tangsi dan Partai Penguasa’. Ia juga pernah menulis buku berjudul ‘Guru Kencing Berdiri Murid Kencing Berlari’. Buku itu mengkritik habis perilaku koruptif di era Soeharto dan Habibie.
“Jadi ini buku ketiga saya tentang korupsi kepresidenan. Tadinya mau Oligarki Cikeas, tapi isitilah Gurita lebih terkenal karena sering dipakai dalam gurita bisnis dan gurita korupsi,” pungkasnya.
Launching di Jakarta 30 Desember, Cikeas Dipersilakan Datang
Keluarga atau pihak yang mewakili Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) dipersilakan menghadiri launching buku “Membongkar Gurita Cikeas: Di Balik Skandal Bank Century’. Launching buku kontroversial itu di Jakarta akan dilakukan pada Rabu (30/12) mendatang.
“Tanggal 30 akan ada bedah buku di Doekoen Cafe. Saya nggak tahu siapa saja yang datang tanya saja sama panitianya,” kata George Aditjondro.
Harry Roeslan, panitia bedah buku ‘Membongkar Gurita Cikeas’ yang juga menjadi distributor buku itu untuk Jakarta menyatakan tidak secara khusus mengundang pihak Cikeas. Tapi bila pihak SBY ingin datang untuk memberikan klarifikasi, panitia mempersilakannya.
“Audiencenya terbuka, kalau (Cikeas) mau hadir untuk klarifikasi akan lebih baik,” kata Harry kepada detikcom.
Dalam launching buku nantinya, George Aditjondro akan menjadi pembicara tunggal. Sementara audience berasal dari organisasi pemuda antara lain dari Himpunan Mahasiswa Islam (HMI).
‘Membongkar Gurita Cikeas’ sebelumnya telah dilaunching di Yogyakarta pada Rabu (23/12) lalu. Dalam salah satu bab, Aditjondro menyebutkan keterlibatan SBY dan keluarganya dalam kasus Century.
Presiden SBY prihatin dengan terbitnya buku yang isinya menyudutkan keluarganya itu. Juru bicara Presiden SBY Julian Aldrin Pasha mengatakan ada fakta yang tidak akurat. Saat ini, pihak SBY sedang mempelajari isi buku tersebut. Belum ada rencana gugatan maupun melarang penjualan buku.
Percakapan Anggodo-Ong Yuliana Jadi Pengantar
Buku “Membongkar Gurita Cikeas, Di Balik Skandal Bank Century” karya Dr George Junus Aditjondro menuai kontroversi. Seperti apa buku ini? Buku ini di halaman pengantar antara lain mengutip percakapan Ong Yuliana dan Anggodo Widjojo.
Buku Aditjondro ini setebal 183 halaman. Buku diterbitkan oleh PT Galangpress. Rencananya buku itu akan dilaunching secara resmi di Jakarta. Sedang acara prelaunching telah dilakukan di kantor Galangpress pada Rabu (23/12) lalu.
Kutipan percakapan Ong Yuliana dan Anggodo yang dikutip dalam pengantar antara lain berbunyi, “Pokoke saiki (pokoknya sekarang) SBY mendukung. SBY itu mendukung Ritonga lho”. Percakapan yang merupakan sadapan Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) itu sebenarnya sudah diperdengarkan di dalam sidang Mahkamah Konstitusi (MK).
Sementara di bagian daftar isi di antaranya berisi, “Membongkar Gurita Cikeas di Balik Skandal Bank Century, Bantuan Grup Sampoerna untuk Harian Jurnas, Pemanfaatan PSO LKBN Antara untuk Bravo Media Center, Yayasan-Yayasan yang Berafiliasi dengn SBY, Kaitan dengan Bisnis Keluarga Cikeas, Yayasan-Yayasan yang berafiliasi dengan Ny Ani Yudhoyono, Pelanggaran-Pelanggaran UU Pemilu oleh Caleg-Caleg Partai Demokrat. Di bagian akhir buku berupa kesimpulan dan sejumlah bahan referensi dan lampiran-lampiran.
Menurut Aditjondro, buku ini merupakan hasil riset bersama sejumlah anggota tim peneliti. Buku ini juga dilengkapi dengan berbagai data-data yang bisa dipertanggungjawabkan. Buku tersebut sama dengan buku-buku karangan Aditjondro sebelumnya yang membahas masalah korupsi di lingkaran kepresidenan mulai Soeharto, Habibie, Gus Dur, Megawati hingga Presiden SBY sekarang ini.
“Ini adalah ilmiah dan berdasarkan riset. Kalaupun ada kekurangan akan kami munculkan dalam edisi revisi. Kalau ada yang tidak setuju bisa menjawab dengan tradisi ilmiah yaitu menulis buku,” kata Aditjondro.
Menurut Aditjondro, setelah SBY menjadi presiden pada tahun 2004 dan terpilih kembali pada Pilpres 2009, ada banyak yayasan membonceng di Cikeas. Dua yayasan itu di antaranya Yayasan Puri Cikeas dan Yayasan Kesetiakawanan Dan Kepedulian (YKDK) yang diketuai Jero Wacik. Dari dari penelusuran yayasan-yayasan itu bukan di tangan orang-orang yang punya latar belakang khusus bidang kemanusiaan, tapi terdiri sejumlah menteri, mantan menteri, purnawirawan perwira tinggi yang kebanyakan seangkatan dengan SBY, sejumlah pengusaha dan anggota keluarga besar SBY-Ani Yudhoyono yang terjun ke bisnis.
“Di dua yayasan yang bergerak di sosial ini ada banyak menteri yang masih menjabat yang ikut menjadi pengurus serta ada pula keluarga besar SBY,” kata dosen Universitas Sanata Dharma (USD) Yogyakarta itu.
Aditjondro mengaku terpancing untuk menulis buku ini setelah kasus Bank Century yang mencuat dan semakin tidak jelas arahnya. Dia juga memperkirakan ada banyak mobilisasi dana saat pemilu legislatif dan pilpres yang tidak terekam oleh Komisi Pemilihan Umum (KPU).
Buku Membongkar Gurita Cikeas Menghilang di Yogya
Meski baru di launching secara terbatas di Yogyakarta, buku “Membongkar Gurita Cikeas” karangan George Junus Aditjondro menghilang dari peredaran di sejumlah toko buku. Beberapa toko buku besar di Yogyakarta seperti Gramedia sudah tidak memajang buku terbitan PT Galangpress itu.
Berdasarkan pantauan detikcom, buku setebal 183 halaman tersebut baru beredar di toko buku besar seperti Gramedia. Namun di tiga tempat toko buku tersebut yakni di Jalan Sudirman, Ambarrukmo Plaza (Amplaz) dan Malioboro Mal, Minggu (27/12), buku itu sudah tidak ditemukan di tempat memajang buku-buku baru.
Sedang di toko buku lainnya seperti Toga Mas, Social Agency, Shopping Center dan kios buku Terban tidak ditemukan. Di toko-toko buku tersebut memang belum didistribusikan oleh pihak distributor buku.
Buku ini menjadi kontroversi sebab menguliti ‘borok’ Cikeas. Dalam salah satu bab, Aditjondro menyebutkan keterlibatan SBY dan keluarganya dalam kasus Century. (detikcom/o)

Comments are closed.