unita
Print This Post Print This Post
Share on Facebook

Tersangka Peledakan Pesawat AS Putra Konglomerat Nigeria dan Pernah Kuliah di Inggris

Posted in Luar Negeri by Redaksi on Desember 28th, 2009

Detroit (SIB)
Abdul Farouk Abdulmutallab (23), pria yang mencoba meledakan pesawat Northwest Airlines masih menjalani pemeriksaan. Namun, jejak pria asal Nigeria tersebut terus ditelusuri hingga ke Inggris. Ia diduga pernah berkuliah sebagai mahasiswa teknik. Percobaan peledakan pesawat ini terjadi pada pesawat Northwest Airlines jurusan Amsterdam-Detroit. Jumlah penumpang saat itu mencapai 278 orang.
Seperti dilansir AFP, Sabtu (26/12), laporan awal tentang status mahasiswa Abdul dikabarkan oleh pihak intelijen. Ia tercatat dengan nama Umar Farouk Abdulmutallab di University College London (UCL) jurusan mekanik pada tahun 2005-2008. Namun, pihak universitas belum bisa memastikan apakah orang yang ditangkap oleh petugas sama dengan Abdul yang berkuliah di UCL.
Pihak kepolisian Inggris juga saat ini telah melakukan penggeledahan terhadap sebuah flat yang diduga milik Abdul. Para wartawan sempat melihat petugas membawa sebuah kotak berisi sejumlah barang dari tempat tersebut. “Pencarian lokasi rumah tinggal dilakukan tidak hanya pada satu alamat,” kata salah seorang petugas kepolisian.
Pemerintah Inggris telah melarang Abdul kembali ke Inggris awal tahun ini. Menurut laporan The Sunday Times, yang dikonfirmasi oleh satu sumber pemerintah, Badan Perbatasan Inggris telah menolak untuk memberi visa kepada Abdulmutallab untuk masa enam bulan karena kepentingan perguruan tinggi itu dianggap palsu. “Ia tak diberi izin masuk dengan alasan bahwa ia mengajukan permohonan untuk kuliah di satu lembada pendidikan yang kami padang tidak asli,” kata seorang pejabat pemerintah kepada surat kabar itu.
Putra Konglomerat Nigeria
Sementara itu, di negara asalnya, Abdul dikenal sebagai putra konglomerat pemilik Bank bernama Umaru Mutallab. Hal ini dibenarkan oleh Umaru Mutallab kepada AFP. “Saya telah menerima telpon dari seluruh dunia mengenai anak saya yang telah ditangkap karena diduga berupaya membom pesawat,” Muthallab menceritakan pada AFP dalam perjalanannya ke Abuja, tempat ia telah dipanggil oleh agen keamanan. Hal ini juga dibenarkan oleh salah seorang keluarga terdekat pelaku. “Dia memang saudara laki-laki saya,” kata Abdul Mutallab, putra Umaru lainnya, saat dihubungi Reuters.
“Saya benar-benar kacau. Saya tidak ingin mengatakan apapun pada saat ini hingga saya mempersiapkan diri saya. Saya akan memberikan konferensi pers mengenai masalah itu pada hari Senin. Saya telah dipanggil oleh keamanan Nigeria dan saya sedang dalam perjalanan ke Abuja untuk menjawab panggilan itu,” ia menjelaskan.
Ia menyatakan ia baru saja meninggalkan kotanya Funtua di negara bagian Katsina ke ibukota Nigeria. Nigeria Sabtu telah memerintahkan penyelidikan tingkat tinggi setelah upaya gagal seorang pemuda Nigeria untuk meledakkan pesawat AS ketika pesawat itu siap untuk mendarat di Detroit Jumat, kata pernyataan pemerintah
Media lokal di Nigeria sempat memberitakan bahwa keluarga sempat memprotes kegiatan Abdul yang dinilai ekstrim. Bahkan, pihak keluarga telah melaporkan Abdul ke kedutaan besar AS di Nigeria 6 bulan lalu. “Sekarang Ayah (Umaru) sedang rapat. Nanti akan bertemu dengan polisi,” lanjutnya.
Tersangka Peledakan Northwest Airlines Mulai Diadili
Tersangka teroris yang pada Sabtu (26/12) diduga akan meledakkan pesawat Northwest Airlines menjelang pendaratan di Detroit, Amerika Serikat, mulai diadili. Si tersangka berkebangsaan Nigeria kelahiran 22 Desember 1986 dengan nama Umar Faruk Abdul Mutallab itu pada Sabtu di Pengadilan Distrik Timur Michigan dikenai dua dakwaan.
Yang pertama adalah atas tindakannya mencoba meledakkan pesawat Northwest Airlines ketika pesawat yang sedang membawa 279 penumpang itu hendak mendarat di Bandara Detroit Metropolitan, Jumat. Ia juga didakwa menempatkan bahan peledak di pesawat.
Menurut pernyataan tertulis pengadilan, Umar Faruk mengikatkan bahan peledak itu ke tubuhnya. Ketika pesawat dengan nomor penerbangan 253 yang berangkat dari Amsterdam, Belanda, itu akan mendarat di Detroit Metropolitan Airport, Umar Faruk mulai mengoperasikan alat peledak itu hingga mengeluarkan api dan ledakan.
Menurut pernyataan, Biro Investigasi Federal AS (FBI) dalam hasil penyelidikan awalnya menemukan bahwa alat yang dibawa Umar Faruk mengandung sebuah unsur yang disebut PETN atau ‘pentaerythritol’, yaitu peledak berdaya tinggi.
Agen-agen FBI juga dilaporkan menemukan serpihan yang diduga sebagai sisa-sisa semprotan di sekitar tempat duduk Umar Faruk. Serpihan itu diyakini merupakan bagian dari alat peledak. Menurut catatan pengadilan, Umar Faruk naik pesawat Northwest Airlines 253 di Amsterdam. Pesawat tersebut membawa 279 penumpang dan 11 awak.
Dalam upayanya meledakkan pesawat, Umar Faruk berhasil diringkus dan dilumpuhkan oleh beberapa penumpang dan awak pesawat. Setelah mendarat, ia diamankan oleh para petugas dari Customs dan Border Protection (CBP) dan karena mengalami luka-luka, ia kemudian dibawa ke Pusat Medis Universitas Michigan.
Keamanan di Seluruh Bandara Diperketat
Para penumpang pesawat terbang di seluruh dunia kini tidak bisa leluasa bergerak menyusul diperketatnya keamanan mencegah serangan atas upaya peledakan pesawat AS.Bandara Amsterdam-Schipol juga tengah menyelidiki bagaimana Abdul bisa memasukkan bahan peledak yang diduga akan diledakkan saat pesawat mendarat di Detroit.
Pemerintah AS langsung meminta seluruh maskapai penerbangan dunia memperketat keamanan. Namun otoritas bandara mengeluhkan kurangnya alat pemeriksaan dan dibatasinya pemeriksaan barang-barang bawaan penumpang.
Maskapai Singapore Airlines langsung mengeluarkan peraturan baru bagi penerbangan ke AS. “Satu jam sebelum mendarat di bandara AS, semua penumpang harus tetap duduk di bangkunya, dan tidak membawa barangnya atau menutupnya dengan selimut. Sistem hiburan juga akan dimatikan,” ujar jubir maskapai seperti dilansir AFP, Minggu (27/12).
Langkah-langkah ekstra pencegahan termasuk memeriksa tas-tas penumpang. Sedangkan di bandara-bandara di AS, Departemen Keamanan Dalam Negeri memperketat pemeriksaan penumpang penerbangan domestik dan internasional.
Di London, jubir maskapai British Airways mengatakan peraturan baru akan dikeluarkan. “Peraturan itu termasuk menambah pemeriksaan semua penumpang menuju AS dan tas bawaan sebelum mendarat. Penumpang yang menuju AS hanya diizinkan membawa satu tas.”
Di bandara Charles de Gaulle, Paris, para penumpang diberitahu bahwa semua tas bawaannya harus diperiksa. Bandara-bandara di Roma dan Stockholm juga memperketat keamanan bagi pesawat-pesawat menuju AS. Pesawat Cathay melarang penumpang menggunakan telepon kabin selama penerbangan. Di Selandia Baru, para penumpang yang menuju AS akan dipisahkan dari penumpang lainnya. Sedangkan pihak berwenang di Jepang mendesak para penumpang tiba lebih cepat.
Abdulmutallab lolos dari pemeriksaan di bandara Schipol dengan membawa bahan peledak. Sejak pembajakan pesawat 11 September 2001 silam, keamanan di bandara telah diperketat. Tahun 2003, seluruh maskapai penerbangan terpaksa menambah pintu kokpit guna mencegah teroris mengambil alih pesawat, dan di tahun 2006 banyak negara melarang para penumpang membawa benda cair. Pada 2008, Parlemen Eropa memberikan wewenang kehadiran petugas keamanan di penerbangan-penerbangan komersial. (ANt/AFP/Detikcom/WH/m)

Comments are closed.