Protes Penjualan Senjata ke Taiwan, China Batalkan Kontak Militer Dengan AS
Washington (SIB)
China membatalkan serangkaian kontak militer dan diplomatik dengan AS sebagai bentuk protes rencana negara Paman Sam itu menjual peralatan senjata senilai 6.5 miliar dolar kepada Taiwan. Beijing telah memberitahu Washington bahwa Beijing tidak akan melanjutkan kunjungan perwira militer setingkat senior dan kerja sama rencana militer karena penjualan senjata tersebut. Walau demikian, pejabat-pejabat AS mengatakan China tetap berpartisipasi bersama AS dan dunia internasional dalam upaya mengakhiri krisis program nuklir Iran dan Korut.
“Dalam menanggapi pengumuman Jumat lalu atas penjualan senjata ke Taiwan, Republik Rakyat China membatalkan atau menunda beberapa pertukaran militer. Aksi Cina yang selalu mempolitisi hubungan militer kedua negara menyebabkan hilangnya kesempatan,” jelas Mayor Marinir Stewart Upton, jubir Pentagon seperti dilaporkan Associated Press, Senin (6/10).
Pembatalan itu termasuk rencana kunjungan seorang jenderal senior China ke AS, kunjungan ke masing-masing pelabuhan dan pertemuan mengenai profilerasi senjata penghancur masal. China juga tidak akan berpartisipasi dalam pertukaran bantuan kemanusiaan dan bencana bersama AS yang dijadwalkan digelar akhir November nanti. “Ini langkah yang disayangkan,” ujar wakil juru bicara departemen luar negeri Amerika, Robert Wood.
Beijing mengaku kecewa atas keputusan AS menjual paket senjata ke Taiwan yang diantaranya termasuk 182 rudal darat dan 20 unit peluncur, 32 rudal harpon, 330 rudal Patriot dan 30 helikopter serang Apache. China yang menganggap Taiwan sebagai provinsi pemberontak, menyatakan penjualan itu telah mencampuri urusan dalam negeri China dan melukai kerjasama keamanan nasional.
AS merupakan pemasok senjata terbesar bagi Taiwan. Washington mengatakan kesepakatan itu tidak akan mengubah keseimbangan militer di wilayah tetapi merupakan “pertanda komitmen pemerintah Amerika untuk memasok Taiwan dengan senjata untuk pertahanan yang diperlukan agar lebih kuat”.
“Pemerintah dan rakyat China menentang keras dan menolak tindakan pemerintah AS yang melukai kepentingan China dan hubungan Sino-AS,” ungkap kementerian luar negeri dalam pernyataannya, seraya menambahkan diplomat-diplomat AS telah dipanggil untuk mendengarkan protes keras Beijing.
China masih menganggap Taiwan sebagai wilayahnya sejak 1949 setelah partai Komunis pimpinan Mao Zedong memenangkan perang sipil dan partai Nasionalis (KMT) pimpinan Chiang Kai-shek melarikan diri ke Taipei. Beijing telah bersumpah akan menggunakan kekuatan, jika perlu, untuk membawa kembali negara kepulauan itu ke pangkuan ibu pertiwi. AS mengalihkan pengakuan diplomatiknya dari Taipei ke Beijing tahun 1979 dan mengakui kebijakan “satu China”. Namun Washington tetap mempertahankan Taiwan sebagai sekutu utamanya.
Kebanyakan penjualan senjata-senjata itu adalah bagian dari paket yang diumumkan Presiden George W. Bush sesaat setelah menjabat sebagai presiden tahun 2001. Belum lama ini, para pembantu anggota Kongres mengutarakan kekhawatiran penjualan senjata tersebut akan mendorong China membalasnya. (AP/WH/e)




Komentar