usxii
Print This Post Print This Post

Pancasila (Tetap) Sakti

Posted in Tajuk Rencana by Redaksi on Oktober 5th, 2008

Perayaan Hari Kesaktian Pancasila berlangsung Rabu (1/10) dini hari. Perayaan tersebut dipindahkan ke malam hari—untuk pertama kalinya—karena bersamaan dengan Hari Raya Idul Fitri 1429H. Perayaan Hari Kesaktian Pancasila itu sebenarnya untuk mengenang peristiwa Gerakan-30-September 1965 yang menelan korban jenderal-jenderal tewas dibunuh di Lubang Buaya.
Bagi kita, kapan pun waktunya, sebenarnya tidak masalah, karena yang namanya seremonial hanyalah sebuah simbol dari makna sesungguhnya. Tetapi yang lebih penting adalah bagaimana semangat di balik perayaan itu. Entah pun malam hari, entah di siang hari, yang namanya perayaan tetap hanyalah sebuah peristiwa reguler. Sebenarnya, di baliknya banyak hal yang perlu kita pikirkan.
Kesaktian Pancasila tentunya hanyalah kalimat yang dikeramatkan oleh penguasa Orde Baru dulu, untuk menciptakan suasana kebatinan membenci komunisme dan antek-anteknya, dan mendengar penguasa kala itu. Tetapi lama kelamaan terbuka lebarlah bahwa tafsir sejarah ala penguasa memang penuh dengan kelemahan dan banyak bolongnya. Masyarakat kemudian memperoleh informasi baru mengenai kejadian tersebut, termasuk dari para saksinya yang banyak dilepaskan dari penjara pasca reformasi 1998.
Pasca reformasi Pancasila ”sakti” kemudian digugat karena selama ini dianggap sebagai alat dan tangan penguasa untuk menindas logika dan perkembangan politik masyarakat. Pancasila bahkan sempat tidak dianjurkan untuk diajarkan di sekolah dan digeser sebagai sebuah dasar negara.
Persoalan kemudian terasa ketika setelah satu dekade terjadi reformasi, apa yang kemudian menyatukan kita? Apa yang membuat kita masih tetap merasa bahwa kita adalah satu bangsa dan satu negara (nation-state) yang harus berada dalam satu wilayah sebagai payung bersama?
Banyak pakar sudah mengingatkan para pemimpin kita bahwa dibutuhkan satu konsep yang mewadahi seluruh jalan berpikir kita, dan Pancasila masih tetap relevan untuk tujuan itu. Yang namanya Pancasila adalah roh bersama dari sebuah komitmen untuk membangun negeri ini, demikian beberapa pendapat menyatakan.
Memang untuk bisa maju, diperlukan sebuah semangat bersama. Semangat itulah yang nampak dari kebangkitan China kini, dan di masa lalu dialami pula oleh Jepang dan juga Korea Selatan. Ada satu simbol yang berasal dari kultur mereka sendiri untuk mendorong, memberikan inspirasi dan mengarahkan seluruh komitmen bangsa tersebut untuk mengejar ketertinggalannya.
Harus jujur kita akui bahwa kita ini adalah bangsa yang gamang dengan diri sendiri. Begitu banyak nilai datang dari luar tanpa mampu kita cegah. Dan nilai-nilai itu justru memberikan efek negatif kepada kita yang sebenarnya juga sedang belajar memaknai kebebasan pasca reformasi. Akibatnya jelas, kita kehilangan pegangan dan melakukan banyak hal, termasuk dalam pembangunan yang sedang kita jalankan ini.
Bagaimanapun, episode baru dimana Pancasila hanya dijadikan alat politik tidak ingin kita ulangi lagi. Tetapi membiarkan negeri ini tanpa payung bersama yang nantinya akan mudah diingat dan dijadikan pegangan juga sama risikonya. Andaikan bangsa ini tidak bisa melupakan bahwa Pancasila adalah alat politik penguasa Orde Baru, marilah kita mengingat bahwa Pancasila adalah ide yang ditawarkan Bung Karno di masa lalu ketika kebuntuan mengenai Dasar Negara terjadi. Ia katakan bahwa nama Pancasila itu diperoleh dari seorang teman yang mencoba menyerap gambaran dari seluruh nilai yang ada di bumi nusantara ini. Kalau lahirnya Pancasila begitu besar maknanya, mengapa kesaktiannya kita biarkan begitu saja? (***)

Leave a Reply

You must be logged in to post a comment.