stmiksmxii
Print This Post Print This Post

Kontekstualisasi Spirit Kepahlawan

Posted in Tajuk Rencana by Redaksi on Agustus 17th, 2008

Salah satu pertanyaan penting untuk kita sekarang ini adalah, siapakah yang sebenarnya dimaksud sebagai pahlawan itu? Kita patut merenungkan ulang mengenai hal ini karena kita selalu saja menyebut bahwa seseorang bisa menjadi pahlawan karena jasa-jasanya kepada negara ini. Merujuk kepada peraturan pemerintah, memang ada aturan yang menjelaskan serangkaian panduan untuk mengkategorikan seseorang sebagai pahlawan.
Tetapi pertanyaan lebih jauh, apakah memang tidak ada seseorang yang bisa menjadi pahlawan bagi negerinya dan patut dihargai atas jasa-jasanya itu. Kelihatannya memang kita harus meredefinisi ulang makna kepahlawanan ini lebih dari hanya sekedar penganugerahan tanda jasa.
Di dalam banyak budaya dan negara, pahlawan lebih sering didefinisikan sebagai seseorang yang menjadi simbol negara dan berkorban demi memperjuangkan dan membawa kebanggaan nasionalnya. Itu sebabnya maknanya bagi mereka lebih “ringan” dibandingkan dengan kita, tetapi penghargaannya lebih signifikan.
Negara lain punya pahlawan dalam berbagai bidang, yang sekarang masih hidup tentunya. Dalam bidang science, ekonomi, olahraga bahkan seni, mereka kerap menyebut mereka-mereka yang berjasa sebagai pahlawan, dengan istilah “hero” bagi pria, atau “heroine” bagi wanita. Mereka disebut demikian, bukan hanya karena mereka menumpahkan darahnya bagi negaranya, tetapi juga karena menumpahkan keringatnya kepada negaranya. Di Inggris, penganugerahan simbol “Sir” atau “Lord” merupakan cara menyatakan bahwa seseorang itu memiliki jasa yang sangat luar biasa kepada negaranya sehingga patut disebut demikian. Di Amerika, pengucapan “honour” kepada seseorang, amat lazim untuk menjelaskan bahwa seseorang itu memang menerima penghargaan yang sangat besar.
Negara kita kaya pahlawan di masa lalu, yang hanya bisa dikenang pusarannya dan diberikan anugerahnya dalam bentuk nama dan sebuah sertifikat kepada ahli warisnya. Sesudahnya apa? Negara bahkan tidak peduli kepada masa depan mereka. Banyak pahlawan PETA dan pejuang kemerdekaan yang kini hanya bisa meratap hidup di pinggir sungai dan memiliki kehidupan yang sangat menyedihkan. Negara sama sekali tidak peduli karena memang niat untuk menghargai seseorang sangat tidak ada. Niat yang ada hanyalah memberikan penghargaan, sesudah itu selesai. Apa yang pernah mereka berikan melalui curahan darahnya, ternyata tidak setimpal dengan penghargaan oleh negara meski mereka memang tidak memikirkannya dari awal.
Karena itulah kemudian yang namanya anak-anak bangsa tidak ingin menjadi pahlawan. Mereka tidak ingin menumpahkan keringatnya untuk membawa bangsa ini jaya. Mereka yang pernah berjaya di olahraga misalnya, kemudian banyak yang hengkang. Mereka memilih aman di negeri orang dan mendapatkan jaminan yang sangat penuh di sana. Banyak anak-anak bangsa ini yang mendapatkan gaji sangat besar di berbagai perusahaan minyak besar dunia, termasuk di Petronas. Bahkan profesor termuda di Amerika adalah orang Indonesia yang sampai sekarang belum ingin kembali karena tidak bisa mengembangkan karir di sini. Apa yang disebut sebagai ”the brain drain” memang terjadi di kita dengan sangat cepat.
Sepanjang negara ini hanya mendefisinikan kepahlawanan sebagai sebuah simbol, maka sepanjang itu pulalah akan banyak pahlawan-pahlawan kesiangan yang menyebut diri melakukan sesuatu tetapi sebenarnya nihil. Mereka yang bisa melakukan sesuatu akhirnya memilih menyingkir dan bekerja di negara lain. Mereka tidak pernah diberikan kesempatan mencurahkan keringatnya dan menjadi pahlawan di negeri sendiri (***)

Leave a Reply

You must be logged in to post a comment.