Pemenang Olimpiade Tingkat SD Mengukir Prestasi Sejak Dini
Jakarta (SIB)
Suasana di terminal kedatangan luar negeri Bandara Soekarno Hatta Tangerang malam itu terlihat ramai oleh para penjemput, namun sekonyong-konyong suasana menjadi meriah saat sejumlah siswa sekolah dasar (SD) berseragam jaket biru bertuliskan Indonesia muncul sambil meneriakan yel-yel : “We are the best, we are the dream team”.
Segera anak-anak itu berhamburan menuju spanduk yang dibentangkan sebagai bentuk penyambutan terhadap para pahlawan cilik yang baru saja mempersembahkan medali platinum, emas dan perak pada ajang kontes matematika internasional tingkat SD di Hongkong.
Tim Indonesia yang terdiri atas delapan siswa SD dari Jakarta, Bekasi, Semarang dan Surabaya meraih lima medali emas dan satu perak untuk kontes individu dan medali platinum untuk The best overall team sebagai grand champion dalam kontes matematika “The 12nd Po Leng Kuk Elementary International Contest for Math”, di Hongkong, 12-15 Juli 2008.
Penyambutan memang tidak dilakukan secara istimewa seperti umumnya juara-juara bidang olahraga yang diarak keliling serta memperoleh liputan khusus dari berbagai media cetak dan televisi.
“Kita memang tidak melakukan penyambutan secara khusus. Namun lebih penting perhatian terhadap mereka, ada kalungan bunga, ada para penjemput dari Depdiknas, sekolah serta orang tua dan sanak saudara. Mereka itu, masih anak-anak malah bingung kalau penyambutan terlalu formal,” kata Direktur Pembinaan TK dan SD Ditjen Mandikdasmen Depdiknas, Mudjito AK.
Kemenangan di Hongkong memang dinilai sebagai prestasi tersendiri sebab pada ajang yang sama tahun lalu Indonesia hanya menyumbang satu emas saja, namun dengan persiapan lebih matang selama satu tahun dengan cepat siswa-siswi Indonesia mampu menunjukkan prestasi terbaik dengan memposisikan diri sejajar dengan peserta dari negara-negara lain.
Siswa-siswi peraih medali emas dan perak itu, yakni Richard Akira Heru (SD PL Bernadus Semarang), Peter Young (SD Santa Maria Surabaya), Stefano Chiesa S (SD Theresia Jakarta), Christa L Susanto (SD Tirta Marta Penabur Jakarta), Fransisca Susan (SD Santa Ursula Jakarta) dan Reynaldi (SD Al Azhar Kemang Pratama Bekasi).
Stefano, Richard, Fransisca Chiesa dan teman-temannya hanya sebagian kecil dari puluhan siswa sekolah dasar di Indonesia yang telah mengukir prestasi serta mengharumkan nama sekolah, daerah dan bangsa melalui ajang kompetisi-kompetisi nasional dan internasional.
Beruntung siswa siswi tersebut menuntut ilmu di sekolah-sekolah yang memiliki perhatian terhadap potensi peserta didiknya. Beruntung pula karena mereka memiliki orang tua yang senantiasa selalu mendukung kiprah putra putri mereka baik dari sisi dana maupun moril. Anak-anak pemenang olimpiade dan kontes masih memiliki sederetan keberuntungan lain karena mereka tinggal di kota-kota besar dan propinsi maju.
Keterlibatan siswa sekolah dasar pada ajang kompetisi internasional memang masih relatif baru, namun dalam beberapa kali kesempatan kompetisi yang diselenggarakan di luar negeri, tim Indonesia dengan cepat mampu menyesuaikan diri terutama dari sisi mental mereka dalam menghadapi lawan-lawannya yang umumnya secara fisik lebih besar dan utamanya dari segi kemampuan akademik patut diperhitungkan.
“Salah satu ajang olimpiade internasional untuk tingkat SD yang diselenggarakan Indonesia untuk pertama kalinya adalah International Mathematic and Science Olympiad (IMSO) yang bertujuan untuk meningkatkan kompetensi para siswa SD dalam bidang Matematika dan IPA. Termasuk, juga memberikan motivasi untuk mengembangkan kemampuan intelektual dan keahlian mereka di bidang Matematika dan IPA,” kata Mudjito.
Pendidikan di bidang ilmu-ilmu dasar, seperti Matematika dan Sains/IPA tengah menjadi sorotan pada tahun-tahun terakhir ini sebab ada keyakinan bahwa tingkat penguasaan ilmu-ilmu dasar suatu bangsa merupakan salah satu modal utama bagi bangsa tersebut. Dan, juga menjadi salah satu indikator seberapa jauh kiat suatu bangsa dalam mengembangkan ilmu pengetahuan dan teknologi.
Oleh karena itu, pengembangan Matematika dan IPA menjadi suatu keharusan. Alasannya, dengan membekali dasar pengetahuan yang kuat terhadap Matematika dan IPA sedini mungkin akan memudahkan bagi siswa untuk mengembangkan di kemudian hari, utamanya aspek life-skills siswa dapat dikembangkan,” ujarnya
JALUR B
Olimpiade matematika telah dirintis sejak tahun 2003, pelaksanaan olimpiade diharapkan mendapat dukungan sekolah dan pemerintah sehingga dapat memberikan dampak positif pada proses pembelajaran siswa di sekolah sehingga menjadi lebih kreatif dan inovatif dan menyenangkan.
Namun bagaimana dengan anak-anak pintar dan berpotensi yang berada di daerah dan propinsi yang jauh dari Pulau Jawa, Sumatera atau Bali, apakah kesempatan mereka tertutup untuk ikut unjuk prestasi mengharumkan nama sekolah, daerah dan bangsa?
Depdiknas memang tidak tinggal diam. Penelusuran bakat dan kemampuan siswa siswi memang sudah digali sejak dini melalui proses seleksi dari tingkat sekolah meningkat ke jenjang lebih tinggi, yakni di tingkat kota/kabupaten hingga tingkat provinsi.
Depdiknas sejak dua tahun terakhir melaksanakan program penelusuran anak-anak berprestasi di bidang matematika dan sains dengan terjun langsung ke sekolah-sekolah bekerja sama dengan pemerintah kabupaten/kota dan propinsi.
“Kami menyebut program ini sebagai program jalur B sehingga tidak hanya anak-anak di perkotaan saja yang bisa berkompetisi tetapi anak-anak di daerah yang mungkin saja belum beruntung dari sisi ekonomi tetapi pandai akan memperoleh peluang-peluang yang kelak bisa meningkatkan hidupnya,” katanya.
Mudjito mencontohkan mata pelajaran matematika. Berdasarkan data yang ditemukan di lapangan, matematika di jenjang sekolah dasar perlu mendapat perhatian khusus. Sebab, melalui proses pembelajaran yang optimal pada mata pelajaran matematika, terbukti kemampuan siswa dapat dikembangkan relatif lebih mudah pada mata pelajaran lainnya.
“Untuk mendorong kreativitas dan efektivitas kinerja sekolah agar selalu berusaha meningkatkan mutu pendidikan matematika, kami mencari dan menjaring bibit-bibit unggul untuk diikutsertakan pada kompetisi matematika tingkat internasional. Dan terbukti, anak-anak itu mampu meraih prestasi hingga mendapat medali emas, perak dan perunggu,” kata Mudjito.
Prestasi anak-anak di tingkat SD ini di ajang kompetisi matematika dan sains merupakan titik awal untuk pembinaan lebih lanjut di tingkat sekolah menengah pertama maupun atas. Bahkan, sampai ke perguruan tinggi. Depdiknas akan melakukan pembinaan berkesinambungan. Artinya, prestasi di tingkat SD ini akan menentukan prestasi di tingkat sekolah di atasnya, kata Mudjito.
“Guru-guru sekarang ini lebih bersemangat untuk meningkatkan kemampuannya karena memang ada tuntutan untuk itu. Kalau guru tidak menguasai matematika dan sains di atas kemampuan standar, lalu bagaimana nanti siswa bisa bersing untuk ikut dalam olimpiade,” kata Mudjito. (Ant/s)




Komentar