Surya Tour
Print This Post Print This Post

Mega-SBY Bersaing Ketat, Prabowo Naik Pesat

Posted in Berita Utama by Redaksi on Agustus 7th, 2008

Jakarta (SIB)
Menjelang pilpres 2009, survei-survei terus dilakukan untuk melihat persepsi capres yang layak menjadi pemimpin Indonesia. Mega-SBY masih tetap bersaing ketat dengan prosentase 19,40 % untuk Mega dan 19,06 % untuk SBY. Prabowo justru yang menembus cepat menyalip calon-calon baru.
“Kalau hasil survei Juni sampai Juli, Mega dan SBY bersaing ketat, meski Mega masih tetap unggul. Yang menarik ini fenomena Prabowo yang menembus angka 3,81 persen. Ini meningkat drastis dari survei Februari-Maret, yang hanya 0,3 persen,” terang peneliti senior Reform Institute Kholid Novianto dalam konferensi pers di Hotel Gran Melia, Kuningan, Jakarta, Senin (4/8).
Menurut Kholid, ketatnya persaingan Mega-SBY tersebut karena sampai saat ini 2 orang itu merupakan tokoh paling dikenal masyarakat. Namun, seiring waktu, komposisi teratas bisa saja akan diduduki oleh Sultan Hamengku Bowono yang saat ini menempati posisi ke 3 dengan 7,12 persen.
“SBY-Mega bersaing ketat karena keduanya pilihan favorit. Tapi karena masih ada 28,8 persen belum mentukan pilihan, komposisi bisa berubah,” terang Kholid.
Sementara itu, Direktur Reform Institue Yudi Latief menilai persaingan Mega dan SBY karena keduanya merepresentasikan kelompok yang siap bersaing dalam 2009. Sementara itu, meningkatnya Prabowo dari 0,3 persen ke 3,81 persen disebabkan memori masyarakat yang lekat dengan figur kuat Prabowo dan iklan Prabowo yang mengena hati masyarakat.
“Kalau SBY-Mega, itu memang menjadi pilihan yang favorit meski SBY turun dari survei Februari-Maret 24,8 %. Untuk Prabowo karena figur publik. Prabowo itu the raising star menjelang reformasi. Ditambah iklannya yang bagus,” pungkas Yudi.
Bang Yos Tetap Maju 2009 Tak Takut Diserang Black Campaign
Sutiyoso alias Bang Yos tetap akan maju dalam pemilihan presiden 2009. Dia mengaku tidak takut dengan ancaman black campaign yang akan dilakukan lawan-lawan politiknya.
“Black campaign itu wajar saja. Kalau akan ada black campaign ya harus siap. Itu wajar saja,” kata Sutiyoso kepada wartawan di Hotel Jogjakarta Plaza Jl Affandi, Mrican Yogyakarta, Minggu (3/8).
Bang Yos pun langsung menebak, black campaign yang bakal digunakan untuk menyerang dirinya pasti Kasus Kerusuhan 27 Juli 1996. Kasus kudatuli itu pasti akan didramatisir, padahal semuanya sudah selesai.
“Sederhana saja, kalau mau diungkit silakan saja. Bu Mega tahu semua masalah yang sebenarnya,” katanya.
Menurut dia, dalam pemilihan presiden 2009 nanti, dirinya tidak mau saling merendahkan atau meremehkan calon lainnya. Semua calon adalah sama beratnya.
Dia juga tidak setuju adanya dikotomi calon muda dengan calon tua, TNI dengan sipil, laki-laki dengan perempuan, Jawa atau non Jawa. Figur yang dibutuhkan untuk memimpin negara ini untuk menyelesaikan berbagai masalah yang dihadapi bangsa Indonesia adalah pemimpin yang berani, berpengalaman dan tidak plin-plan.
“Dikotomi seperti itu, sama saja buang-buang waktu. Di negara lain itu tak masalah. Buktinya AS saat dipimpin Ronald Reagan padahal dia berumur 70 tahun saat jadi presiden. Ya sukses. Kemudian Samak di Thailand dia juga bisa. Dia itu sohib saya saat jadi gubernur Bangkok,” kata mantan gubernur DKI Jakarta itu.
Menurut dia, kalau di militer figur pemimpin pasti akan muncul di usia tua atau saat dia sudah jadi purnawirawan. Namun selama meniti karir di militer, militer sudah teruji karena mulai melatih kepemimpinan dari awal saat berpangkat letnan yang masih memimpin 30 orang hingga berpangkat jenderal.
“Saya jadi gubernur setelah 29 tahun di militer. Itu beda dengan sipil, misalnya jadi ketua partai saat masih muda. Karena menang pemilu kemudian naik jadi menteri hingga presiden. Saya tidak sepaham dengan dikotomi itu,” kata dia.
Dia menambahkan dirinya sampai sekarang belum melirik partai-partai besar, karena mereka sudah punya calon sendiri untuk maju. Seperti PDIP pasti yang maju ketua umumnya sendiri, Bu Mega. Demikian pula dengan Golkar, pasti Pak Jusuf Kalla yang akan maju.
“Kalau saya sekarang ini masih jalur independen. Meski ada beberapa partai yang lolos verifikasi KPU sudah ada yang melirik. Tapi kalau saya sebutkan mereka pasti mengelak takut jualan tidak laku pada calon lain,” kata Bang Yos tanpa bersedia menyebutkan partai yang bakal jadi tunggangannya nanti.
Hidayat & Sultan HB IX Jadi Bibit Unggul Cawapres
Jika capres favorit masih SBY–Mega, cawapres favorit ternyata jatuh pada figur Hidayat Nurwahid dan Sri Sultan Hamengkubuwono IX. Keduanya dianggap masyarat paling cocok menjadi cawapres dengan pasangan siapapun.
“Tokoh yang paling populer dalam persepsi masyarakat adalah Hidayat Nurwahid dengan 17,99 persen. Disusul Sri Sultan 15,19 persen dan JK 14,23 persen,” kata peneliti senior Reform Institute Kholid Novianto dalam konpers di Hotel Grand Melia, Jl HR Rasuna Said, Jakarta Selatan, Senin (4/8).
Menurut Kholid, peningkatan pesat dialami oleh Hidayat Nurwahid. Sebelumnya, dalam survey Reform Institute pada Februari-Maret 2008. Hidayat hanya memperoleh 2,1 persen. Sementara yang turun adalah JK yang dulu memperoleh dukungan publik 15,4 persen menjadi 14,23 persen.
“Yang pararel itu turunnya popularitas SBY dan JK masing-masing sebagai capres dan cawapres. Sementara yang naik drastis itu Hidayat Nurwahid,” terang Novianto.
Menurut Novianto, masyarakat memilih figur yang cawapres yang ada didasrkan pada kesamaan agama sebesar 33,76 persen. Sementara yeng mengikuti anjuran tokoh 28,51 persen. Sementara alas an memilih berdasarkan partai pendukung sebesar 28,13 persen.
“Kesamaan agama menjadi alasan yang terkuat dalam memilih capres dan cawapres itu terbesar. Dilanjutkan anjuran tokoh yang memiliki pengaruh kuat,” terang kholid.
Urutan hasil survey tertinggi cawapres adalah Hidayat Nurwahid 17,99 persen. Disusul Sri Sultan HB IX (15,19 persen), Jusuf Kalla (14,23 persen), Wiranto (12,02), Prabowo (8,41 persen), Sutiyoso (7,01 persen), sedangkan Sutrisno Bachir hanya 5,53 persen. Lainnya dibawah 5 persen seperti Akbar Tanjung, Din Syamsuddin dan Agung Laksono.
Survey dilakukan bulan Juni-Juli di seluruh Indonesia. Jumlah sampelnya 2.519 orang dengan margin error 1,95 persen dan tingkat kepercayaan 95 persen. Metodenya dengan wawancara tatap muka dengan responden yang proporsional laki-laki perempuan dan proporsional jumlah penduduk. (Detikcom/v)

Leave a Reply

You must be logged in to post a comment.