Gagal Panen, Petani Karo Babat 20 Ha Tanaman Padi
T Karo (SIB)
Belum diketahui apa penyebabnya, tanaman padi musim tanam Mei 2008 silam diperkirakan total gagal panen. Puluhan petani di perladangan Panggung Baru desa Batukarang Kecamatan Payung, Karo, Selasa (5/8) dengan jerit tangis dan dihadiri puluhan petani membabat tanaman padi sedang menguning mau pun yang masih menghijau dibabat dengan menggunakan mesin babat dan mesin potong kayu chainsaw.
Pantauan wartawan, berbagai media cetak dan elektronik meliput kejadian tersebut. Para petani yang diwakili Jasa Bangun, Andreas Ginting, Bapa Alex alias Bapa Pagit, Thomas Ginting, Pery Bangun, Panet Sinuaraya dan Ketua BPD Desa Batukarang, Dani Bangun mengaku kecewa dengan bantuan bibit dari pemerintah, Pebruari 2008 silam.
Kata petani, bibit padi yang disumbangkan pemerintah melalui Dinas Pertanian Pemkab Karo seyogianya varitas Cikerang, tapi diberikan varitas IR64 yang tidak berlabel sejumlah 5 ton. Beberapa hari setelah ditanam, pertumbuhan padi mulai diragukan. Sebagian daun kering dan busuk pangkal kelopak serta diserang hawar daun. Bahkan kalau pun sudah berbuah dan menguning, tapi isi gabah kosong tidak berisi.
“Biasanya petani dapat memproduksi sekitar 7,5 ton per/ha, dengan produksi padi dari bibit Ir 46 tersebut maksimum menghasilkan 10 goni/ha. Secara ekonominya, akibat kegagalan panen padi tersebut, petani mengalami kerugian sekitar Rp15 juta/ha,” ujar Bapak Pagit dan Andrreas Ginting kecewa.
Pihak Dinas Pertanian Karo, Ka UPT Kecamatan Payung Marsen Girsang dan sejumlah PPL yang hadir di lokasi pertanian tersebut kepada petani menjelaskan berbagai faktor penyebab kegagalan panen tersebut. Di antaranya akibat pengaturan air yang kurang baik dan pengaturan pemupukan tidak sempurna.
Selain itu, ujar Girsang lagi, bibit padi yang merupakan bantuan pemerintah merupakan rencana usulan kelompok tani (RUK) desa Batukarang. Seyogianya bibit padi Cikareng, tapi yang diberikan pemerintah bibit Ir 46.
“Melalui beberapa pengurus kelompok tani, Dinas Pertanian Karo sudah menyampaikan pergantian bibit padi Cikerang menjadi Ir 46. Apakah bibit padi Ir 46 cocok di Tanah Karo atau tidak. Namun kelompok tani yang tergabung dalam 8 kelompok tani menyetujui bantuan pemerintah bibit padi Ir 46 diterima saja. Kelemahan jenis bibit padi Ir 46 sudah disampaikan melalui para pengurus kelompok tani. Bagaimana mereka menyampaikannya kepada petani, ya itu urusan kelompok tani. Jadi bukan tidak kita sampaikan kelemahan dan cara-cara penanaman bibit padi jenis Ir 46 ini,” ujar Girsang kepada puluhan petani yang mengerumuninya di perladangan Panggung Baru tersebut.
Sebenarnya, salah satu kelemahan pertumbuhan padi dari bibit Ir 46 ini adalah tidak menginginkan curah hujan yang terlalu tinggi pada usia tanaman padi mulai “mengandung”. Namun yang cenderung diinginkan adalah areal persawahan yang bisa diatur pengairannya, tambah Girsang dan Pak Bangun.
Ketika dikonfirmasi SIB, Marsen Girsang, Selasa (5/8) di Batukarang perihal label bibit padi yang disumbangkan kepada petani Desa Batukarang tidak jelas mereknya, tidak mengomentarinya. Bibit padi yang disumbangkan pemerintah kepada petani desa Batukarang tersebut, merek “Ir 46” hanya ditulis pakai spidol, sehingga diragukan para petani palsu.
Desak usut
Di sela-sela melakukan pembabatan tanaman padinya di perladangan Panggung Baru desa Batukarang Kecamatan Payung Petani, mengharapkan Gubsu dan pihak Poldasu mengusut tuntas pemberian 5 ton bibit padi varitas Ir 46 yang diduga palsu.
“Pertumbuhan padi sangat dikecewakan. Walaupun pengairannya sawah lebih cenderung dikeringkan dan airnya dapat diatur, toh pertumbuhannya sangat mengecewakan dan hasil produksi pun cukup minim. Label padi yang membenarkan bibit padi tersebut jenis varitas Ir46 pun diragukan. Merek Ir 46 hanya ditulis pakai spidol pada bungkus bibit padi. Sedangkan keterangan lainnya permanen dari cetakan.
“Karenanya, kami warga petani Panggung Baru desa Batukarang yang luas areal pertanian kami berkisar 200 hektar lebih mengharap pihak Poldasu dapat mengusut pemalsuan bibit padi Ir 46 yang diduga palsu tersebut,” ujar Bapak Pagit, Andreas Ginting dan Ibu Rasmi Br Sembiring mengharap dengan meneteskan air mata atas kerugian mereka mencapai Rp20 juta/hektare tersebut. (M37/e)




Komentar