PTN Mahal Belum Tentu Jamin Mutu
Yogyakarta (SIB)
Biaya pendidikan, khususnya di Perguruan Tinggi Negeri (PTN) yang semakin mahal belum tentu akan menjamin mutu pendidikan di perguruan tinggi tersebut.
“Hasil suatu pendidikan sangat tergantung dari pribadi masing-masing, yaitu tergantung bagaimana cara seseorang menyikapi kondisi di lingkungannya,” kata pemerhati pendidikan, Johar M.S., di Yogyakarta, Selasa.
Menurut Johar, seseorang yang mampu bersikap kreatif dalam merespon kondisi dari lingkungan akan mampu bertahan dan sebaliknya seseorang yang tidak mampu merespon akan kalah.
Pendidikan yang sebenarnya, lanjut Johan, adalah berasal dari lingkungan, sedang pendidikan sekolah pada dasarnya hanyalah sebuah formalitas untuk memperoleh ijazah.
Dengan biaya kuliah yang selangit di universitas-universitas bergengsi, maka hanya orang-orang yang berduit yang mampu menikmatinya.
“Perguruan tinggi lain juga harus luwes dan mencari alternatif baru, karena biarpun murah tidak akan direspon oleh masyarakat,” kata mantan Rektor IKIP Yogyakarta (sekarang Universitas Negeri Yogyakarta (UNY), red) .
Menurut Johar, menuntut ilmu jangan hanya mengejar sekolah-sekolah yang mahal karena dikhawatirkan justru akan menimbulkan konflik di dalam keluarga sendiri.
“Mungkin anak pertama disekolahkan di sekolah mahal, dan mengabaikan anak yang lain, hal ini justru menimbulkan konflik,” katanya.
Semakin mahalnya pendidikan di perguruan tinggi negeri disebabkan karena mereka harus berbagi alokasi dana dari Dikti dengan perguruan tinggi swasta, sehingga otomatis jumlah bantuan dana yang mereka terima berkurang.
Pengurangan dana tersebut cukup banyak sehingga untuk menutupi dana operasional harus memintanya ke stake holder, dalam hal ini adalah mahasiswa yang menuntut ilmu di universitas yang bersangkutan.
Johar berharap, jika memang peraturan baru tersebut membuat kondisi yang buruk, maka sebaiknya peraturan tersebut tidak dibuat.
“Yang terjadi adalah universitas akan berlomba-lomba mencari uang dan akhirnya menjadi alat kapitalis. Ini adalah alasan yang negatif karena yang seharusnya mereka lakukan adalah prinsip kolaboratif,” ujarnya. (Ant/k)




Komentar