Kamboja Siap Hadapi Pemilu, Ketegangan dengan Thailand Tinggi
Phnom Penh (SIB)
Perdana Menteri Kamboja Hun Sen berikrar akan memperpanjang kekuasaan 23 tahunnya, Minggu dalam pemilu di tengah-tengah kerajaan itu terlibat ketegangan militer dengan Thailand tetangganya.
Ribuan tentara Kamboja dan Thailand hampir dua pekan berada di satu daerah kecil dekat reruntuhan sebuah kuil kuno Khmer yang memicu semangat nasionalis persis negara itu akan menyelenggarakan pemilu.
Hun Sen mengambil sikap garis keras dalam konflik itu, menuduh Thailand mengabaikan hukum internasional dan mengancam perdamaian regional karena mengirim pasukan ke zona yang disengketakan sekitar kuil Preah Vihear.
Kampanye dibayangi sebagian besar oleh kekuatiran nasional atas kuil itu, kata Hang Puthea, yang memimpin kelompok Nicfec yang memantau pemilu itu.
Masyarakat lebih memusatkan perhatian pada masalah perbatasan di kuil Preah Vihear ketimbang pemilu itu,” katanya kepada AFP.
Tetapi konflik itu tidak merusak popularitas Hun Sen dalam pemilu itu, dan mungkin akan meningkatkan dukungan pada pemimpin Partai Rakyat Kamboja (CPP) karena dianggap sebagai pembebas negara itu dari rezim Khmer Merah.
Hun Sen yang pernah menjadi gerilyawan Khmer Merah meninggalkan gerakan itu untuk mempertaruhkan masa depan politiknya dengan CPP. yang menjadi partai yang berkuasa setelah pasukan Vietnam menggulingkan rezim Khmer Merah tahun 1979 dan membentuk satu negara boneka untuk menghentikan serangan perbatasan.
Hun Sen menjadi perdana menteri tahun 1985 dan secara tetap dan terus memperkuat kekuasaannya.
Dalam kampanye baru-baru ini, Hun Sen dibantu oleh para anggota oposisi yang membelot. Mitra koalisinya yang sekarang, partai Funcinpec mengalami perpecahan intern karena skandal korupsi di tubuh kelompok itu.
Kelompok oposisi utama Partai Sam Rainsy diperkirakan akan mempertahankan kekuatannya di ibukota Phnom Penh, tetapi mengalami kemajuan di daerah-daerah pedesaan Kamboja, di mana paling banyak pemilih tinggal. (Ant/Afp/v)




Komentar