Masa Depan Anak Indonesia
Barusan saja kita memperingati Hari Anak Nasional. Kali ini upacara seremonialnya dirayakan bersama Presiden Yudhoyono oleh ribuan anak. Memukau, tetapi pertanyaan pentingnya adalah sudahkah yang terbaik diberikan bagi masa depan anak kita? Sudahkah masa depan Indonesia dipancangkan melalui perlakuan yang baik bagi anak Indonesia masa kini?
Pertanyaan berbau reflektif tersebut patut kita kemukakan karena memang masa depan anak Indonesia tidak berada di tangan anak itu sendiri. Jutaan anak kini mengharapkan masa depan yang cerah dari tangan mereka yang kini disebut sebagai orang dewasa.
Tetapi fakta menunjukkan bahwa anak-anak Indonesia telah dikepung oleh berbagai produk yang khusus diberikan untuk orang dewasa. Tontonan, media, permainan, bahkan ruang-ruang kelas, ada wahana yang diberikan kepada anak-anak, tetapi dengan materi yang khasnya orang dewasa.
Di televisi amat mudah menemukan hal tersebut. Sekarang ini amat sulit menemukan saluran televisi yang mendidik anak. Sebaliknya, jika menonton siaran televisi, yang ada adalah pencucian otak anak. Sinetron, iklan, film, bahkan dialog adalah konsumsi orang dewasa yang juga diberikan pada anak. Bahkan anak-anak yang bermain film juga berperan layaknya orang dewasa yang memiliki kebutuhan khusus tertentu.
Di media lain, semisal majalah dan bacaan lain, amat sulit juga mengkhususkannya untuk anak-anak. Banyak buku justru hadir dengan budaya asing, memang untuk anak-anak, tetapi mencerabut anak Indonesia dari konteks lokalnya sendiri.
Bayangkan saja semuanya ini terjadi setiap hari di depan mata anak-anak Indonesia. Mereka bukannya menerima pendidikan untuk memperkuat imajinasi dan kreatifitas mereka, malah yang diberikan oleh kita adalah pelajaran mengenai konsumerism, pendidikan kejahatan terhadap sesama, bahkan memberikan kata-kata kasar penuh makna porno bagi anak-anak yang jauh dari maksud-maksud tersebut.
Bayangkan kalau setiap hari yang kita suguhkan melalui seluruh perangkat media yang kita miliki adalah kehidupan penuh kepura-puraan sebagaimana dalam sinteron kita. Atau yang kita berikan adalah kisah penuh intrik rumah tangga pasangan selebritis kita sebagaimana dapat dengan mudah dibaca atau ditonton dari ruang keluarga kita?
Inilah gugatan yang seharusnya direfleksikan oleh orang dewasa pada perayaan Hari Anak ini. Hari Anak adalah hari merayakan bagaimana sikap kita dalam memperlakukan anak-anak kita.
Di sinilah kita menggugat ulang peran pemerintah sebagai regulator. Perijinan yang diberikan kepada media adalah melalui peran media. Peran lembaga pendidikan yang justru mengajarkan gaya hidup curang, juga regulatornya adalah pemerintah juga. Dan yang paling menyedihkan adalah bahwa pendidikan budi pekerti yang hadir melalui cara hidup masyarakat kita adalah introduksi pendidikan moral kepada anak-anak, dimana negara pun tidak dapat melepaskan tanggung-jawabnya.
Para pelaku pasar, para penegak moral, para pendidik, para birokrat, bahkan para orang tua juga harus digugat keberadaannya. Mereka semua adalah penanggung-jawab masa depan anak Indonesia.
Perlu ada langkah penting selain menikmati tontonan yang disuguhkan oleh anak-anak kepada kita. Perlu ada perubahan dalam cara kita memandang masa depan anak-anak. Masa depan mereka adalah masa depan Indonesia. Kehidupan mereka kini adalah kehidupan masa depan Indonesia. Apa yang kita berikan kini adalah apa jadinya mereka berpuluh tahun di masa mendatang. (***)




Komentar