Hotel GM
Print This Post Print This Post

Jaksa Agung Pimpin Upacara Hari Adhyaksa ke-48 dengan Keprihatinan

Posted in Berita Utama by Redaksi on Juli 23rd, 2008

Jakarta (SIB)
Jaksa Agung Hendarman Supandji menekankan kepada seluruh jajarannya agar tidak perlu malu mengakui bahwa sedang terjadi krisis kredibilitas di jajaran Kejaksaan Agung terkait kasus gratifikasi yang terjadi akhir-akhir ini yang menimpa sejumlah oknum pejabat.
Hendarman juga meminta jajaran bidang intelijen Kejagung untuk meningkatkan kinerjanya dalam mendeteksi secara dini segala bentuk hambatan, tantangan, ancaman, dan gangguan terhadap proses penegakan hukum yang dijalankan oleh penyidik-penyidik jaksa.
Pernyataan ini disampaikan Jaksa Agung Hendarman Supandji dalam acara Peringatan Hari Bakti Adhyaksa ke-48 tahun 2008 di Gedung Kejagung, Selasa (22/7) dengan tema ‘Dengan Semangat Pembaruan Kita Wujudkan Aparat Kejaksaan yang Profesional yang Berintegritas Guna Meningkatkan Citra Kejaksaan.”
“Harus jujur kita akui bahwa institusi ini sedang mengalami krisis kredibilitas. Pengakuan jujur itu penting karena akan memotivasi untuk memperbaiki diri secara mendasar. Jika kita tidak mengakui ada krisis kredibilitas, kita hanya akan berusaha menutup-nutupi tetapi tidak berupaya sungguh-sungguh memperbaikinya,” kata Jaksa Agung.
Ia mencontohkan bahwa berbagai institusi bahkan negara sekalipun pernah mengalami krisis kredibilitas. Namun yang terpenting, menurutnya, adalah bagaimana menyikapi dan menghadapinya dengan melakukan koreksi mendasar terhadap faktor-faktor yang menjadi penyebab terjadinya krisis kredibilitas itu.
“Jika kita bersembunyi dari realitas, maka martabat dan kehormatan tidak akan pernah pulih,” katanya.
Oleh karenanya, dia meminta jajarannya terlebih kepada Jamintel Kejagung, untuk mendukung keberhasilan pelaksanan tugas bidang-bidang lain di kejaksaan diharapkan mampu menghasilkan produk-produk intelejen yang bermanfaat bagi semua bidang. Produk-produk intelijen yang dihasilkan dapat digunakan untuk menyusun kebijakan terkait dengan penyelidikan, pengamanan, dan penggalangan yang bersifat strategis dan taktis, sehingga dapat mendeteksi secara dini faktor-faktor yang menjadi gangguan terhadap keberhasilan penegakan hukum.
Jaksa Agung juga mengimbau kepada bidang tindak pidana umum agar penanganan perkara dan administrasi mulai dari tahap prapenuntutan, penuntutan, upaya hukum, sampai dengan eksekusi harus benar-benar diperhatikan dan selalu melakukan pengawasan melekat terhadap tahapan penanganan perkara.
“Saya tidak ingin mendengar ada penyelundupan hukum di mana saksi dijadikan tersangka dan sebaliknya tersangka dijadikan saksi,” katanya.
Tak lepas terhadap bidang tindak pidana khusus yang menangani perkara-perkara korupsi Jaksa Agung mengingatkan agar Pidana Khusus Kejagung segera menuntaskan setiap tahapan penanganan perkara sesuai dengan prosedur dan mekanisme yang telah ditetapkan. Pasalnya, keberhasilan penanganan tindak pidana korupsi merupakan salah satu sarana untuk memulihkan kepercayaan masyarakat.
Dalam kaitannya dengan hal ini, ada beberapa instrumen yang telah dilakukan. Salah satunya adalah pembentukan satuan khusus penanganan tindak pidana korupsi.
Acara ini sendiri dihadiri sebanyak 1.800 karyawan di lingkungan kejaksaan dengan menggunakan upacara ala militer. Namun, tidak tampak anggota Komisi III Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) yang ikut hadir.
jaksa agung pimpin upacara hari adhyaksa ke-48
Jaksa Agung, Hendarman Supandji, memimpin upacara Hari Adhyaksa atau Hari Kejaksaan ke-48, di Jakarta, Selasa.
Jaksa Agung, Hendarman Supandji, menyatakan, pada acara peringatan Hari Adhyaksa kali ini, Kejagung sedang mengalami keprihatinan.
“Hari Adhyaksa dengan keprihatinan, karena 2008 mengalami cobaan terus- menerus disorot, akibat ulah oknum,” katanya.
JAKSA AGUNG: ULAH OKNUM TAMPARAN KERAS BAGI KEJAGUNG
Ulah oknum yang berbuat menyimpang menjadi tamparan keras dan telah mencoreng citra kejaksaan, demikian Jaksa Agung, Hendarman Supandji, dalam sambutannya di acara Hari Adhyaksa ke-48, di Jakarta, Selasa.
Menurut dia, memasuki tahun 2008 atau menyambut Hari Adhyaksa, kejaksaan mengalami cobaan seiring sorotan publik terhadap kejagung akibat ulah oknum itu.
“Sorotan terus menerus itu, seolah-olah menghapus apa yang telah dilakukan Kejagung,” katanya.
Ia mengatakan adanya penyimpangan yang dilakukan oknum tersebut berarti perintah harian kejaksaan belum dilaksanakan dengan betul.
Karena itu, kata dia, Hari Adhyaksa dapat dijadikan introspeksi kinerja selama ini, agar peristiwa yang sama tidak terulang kembali.
Ia juga menyebutkan perlunya perubahan mendasar dalam kejaksaan terkait tertib moral untuk memperbaiki citra kejaksaan.
Dirinya tidak akan segan-segan menindak pelanggaran yang dilakukan oleh aparat kejaksaan yang dapat menjatuhkan nama institusi tersebut.
“Saya tidak ingin ada dalam penyelidikan saksi yang menjadi tersangka, atau tersangka yang menjadi saksi,” katanya. (Ant/SH/f/h)

Leave a Reply

You must be logged in to post a comment.