Ephorus HKI Menyorot Ketidakadilan Hukum, Ekonomi dan Kerusuhan-kerusuhan
Berastagi (SIB)
Ephorus Huria Kristen Indonesia (HKI) Pdt Dr Burju Purba dalam khotbah pada acara pembukaan Sinode Kerja ke-58 yang berlangsung di Hotel berbintang Mikie Holiday Berastagi, Selasa (22/7-08) kemaren, menyoroti berbagai hal antara lain ketidakpastian hukum, ekonomi dan kerusuhan-kerusuhan.
Ephorus juga menegaskan, bahwa Peraturan Bersama Menteri Agama dan Menteri Dalam Negeri tentang prosedur untuk memperoleh ijin mendirikan rumah ibadah, sangat memberatkan kita. (Maksudnya memberatkan Gereja).
Yang paling menyakitkan, Peraturan Bersama Menteri ini dijadikan oleh kelompok-kelompok tertentu untuk melakukan penyerangan-penyerangan terhadap orang-orang Kristen yang sedang beribadah, dan melakukan pengrusakan gereja, dan sebagainya, kata Ephorus HKI.
Untuk menghadapi semua itu, Ephorus berkata, HKI terpanggil menghadirkan realitas Pengharapannya di dunia ini. Gereja harus berusaha dengan setia kepada panggilannya untuk menyatakan iman dan pengharapannya dengan cara menghadirkan realitas surgawi di dunia ini, yaitu realitas “kemerdekaan dan kemuliaan” anak-anak Allah di bumi ini.
Gereja Harus Berbicara
Beberapa tokoh pimpinan Gereja juga memberi kata sambutan pada acara pembukaan Sinode ke-58 HKI tersebut. Antaranya Ephorus GKPS Pendeta B Purba Dasuha.
Menanggapi isi khotbah Ephorus HKI di atas, Ephorus GKPS menegaskan, Gereja harus berbicara !
Dia pun mendukung HKI mengadakan Sinode di suatu Hotel berbintang. Gereja juga harus masuk hotel, tandasnya. Harus memahami teknologi dan lain-lain.
Diungkapkannya, GKPS sekarang sudah memiliki badan usaha (bisnis). GKPS sekarang sudah punya kebun kelapa sawit bahkan pompa bensin. Dari hasilnya, kesejahteraan para Pendeta dapat ditingkatkan, gaji Pendeta paling sedikit haruslah UMR dan kalau bisa sampai Rp 2 juta. GKPS sudah menerapkannya, maka diharapkan HKI pun juga bisa.
Ephorus GKPS mengharapkan Sinode HKI ini bisa mengambil keputusan-keputusan yang bulat.
Pejuang
Pdt Dr MSE Simorangkir mewakili UEM Regional Asia, yang juga Bishop GKPI, mengingatkan bahwa HKI pada mulanya didirikan oleh para pejuang kemerdekaan Indonesia, seperti Tuan Manullang dan Pdt Fedrick Panggabean gelar Sutan Malu.
Maka Pdt Dr MSE Simorangkir mengharapkan jiwa pejuang tersebut akan dapat terus diwarisi HKI yang sekarang untuk berbuat yang terbaik bagi kerajaan Tuhan dan bagi bangsa dan negara.
“Public Diplomacy”
Sekum PGI Pusat, Pdt Dr Richard Daulay menyerukan supaya semua Gereja anggota PGI membuka kantornya di Jakarta, yang bertugas untuk menggumuli tugas-tugas Gereja di tengah-tengah bangsa.
Apakah yang dapat kita suarakan kepada orang-orang atau lembaga-lembaga yang terlibat mengelola negeri ini termasuk gubernur, bupati dan presiden sehingga hak-hak semua warga negara dilindungi. Apakah yang dapat kita lakukan untuk memperbaiki alam yang rusak yang mengancam kehidupan manusia. Pertanyaan-pertanyaan ini menantang kita dalam usaha kita menghadirkan realitas pengharapan kita di dunia ini.
Daulay mengusulkan kepada HKI, termasuk gereja-gereja di Sumut, agar HKI mempertimbangkan membuka sebuah kantor HKI di Jakarta yang bertugas untuk menggumuli tugas-tugas gereja di tengah-tengah bangsa. Di beberapa negara, seperti di Amerika, kantor seperti ini disebut kantor “public diplomacy” yang tugasnya memonitor perkembangan politik setiap hari di pusat pemerintahan ibu kota. Persoalan-persoalan eksekutif, legislate, judikatif untuk dapat diolah dalam gereja sehingga gereja dapat memberikan menyuarakan suara nabiah mengenai isu-isu tertentu di tengah-tengah bangsa dan negara. Tugas seperti ini tidak bisa hanya diserahkan kepada PGI lagi karena PGI tidak mampu melakukan itu sendiri apalagi kalau gereja-gereja anggota semakin lama semakin sibuk mengurus diri sendiri.
Ditambahkannya, bila dibandingkan dengan gereja-gereja lain di Indonesia, khususnya di Sumatera Utara, HKI memiliki pengalaman “berpolitik” ketimbang di gereja lain. Tetapi pertanyaan yang penting yang direnungkan sekarang adalah apakah politik HKI merupakan politik praktis dalam arti ingin memanfatkan gereja untuk tujuan politik mudah-mudahan jangan. Tapi saya percaya HKI melakukan politik moral yaitu politik suara nabiah yang bersuara keras dari dalam gereja sebagai suara nabiah untuk mengkritisi dan menggarami segala sesuatu yang tengah terjadi di tengah-tengah gereja dan masyarakat.
Dalam sambutannya, ia juga mengutip pesan khotbah yang disampaikan Ephorus HKI Pdt Dr B Purba pada bagian terakhir khotbahnya, yang berbunyi: Mulai hari ini, sampai sinode ini nanti berakhir, mata dan telinga, serta hati mereka yang mengutus kita ke sinode ini, tertuju kepada sidang yang bersidang hari ini. Mereka mengharapkan agar para sinode mendengar suara mereka yang membutuhkan pendampingan gereja dalam kehidupan mereka yang serba sulit, mendengarkan jeritan mereka yang mencari keadilan, mendambakan hidup layak, mendambakan kebebasan beribadah di seluruh persada nusantara ini. Mendengar jeritan alam ciptaan Tuhan yang telah berada dalam kondisi yang sangat kritis. Apakah yang dapat kita lakukan. Pertanyaan apakah yang dapat kita sumbangkan?. “Wah memang orator ini Ephorus HKI,” ujarnya membuat peserta tertawa dan tepuk tangan.
Lebih lanjut dikatakan, melalui sidang ini merupakan terobosan baru bagi pelayanan HKI di masa yang akan datang sehingga HKI semakin maju dan semakin dipakai oleh Tuhan menjadi garam dan terang di Indonesia negara yang tercinta.
Meriah
Acara pembukaan Sinode ke 58 HKI itu sendiri berlangsung meriah, disemarakkan lagu-lagu pujian diiringi musik dan tortor Karo.
Responsoria dipimpin Sekjen HKI Pdt Simanjuntak sedang doa syafaat oleh Pdt Noderia br Manalu STh.
Selesai kebaktian, diadakan acara nasional di mana semua peserta Sinode menyanyikan Indonesia Raya dan mengheningkan cipta dipimpin Ephorus HKI.
Ketua Umum Panitia Ir Marasal Hutasoit dalam kata sambutannya menjelaskan, sinode ini diadakan di suatu hotel berbintang, agar para peserta merasa nyaman mengikuti sinode dan demi efesiensi.
Dia mengharapkan, agar sinode bisa diikuti dengan pikiran yang jernih dan tulus ikhlas agar dapat menghasilkan keputusan-keputusan yang baik.
Semua pembicara tadi mengucapkan terimakasih kepada DR GM Panggabean dan isteri, yang berkenan hadir mengikuti acara pembukaan sinode itu.
Ketika oleh seorang wartawan ditanya kesannya setelah menghadiri sinode itu, Pak GM menjawab, dengan nada bercanda: “Sedikit lagi mungkin saya akan masuk HKI”.
Tapi jangan didengar Bishop GKPI, nanti marah, sebab saya adalah anggota GKPI, katanya.
Ini dikatakannya, melukiskan bahwa dia sangat kagum dan bangga menyaksikan acara pembukaan Sinode HKI ke-58 tersebut.
Acara yang sukses ini diharapkannya membuat semua jemaat HKI yang berjumlah 350 ribu jiwa bertambah bersemangat ke depan.
Khotbah
Isi selengkapnya, khotbah Ephorus HKI pada pembukaan Sinode ke-58 tersebut, dikutip di bawah ini.
“DIBAWA KEDALAM KEMERDEKAAN KEMULIAAN ANAK-ANAK ALLAH”
(Roma 8:21)
I. Pengalaman Hidup yang berbeda dari yang dijanjikan.
Saudara-saudaraku yang kekasih. Pengalaman hidup kita masih jauh berbeda dari janji Allah yang disampaikan oleh Rasul Paulus dalam tema synode kita ini, yaitu: “Kemerdekaan dan Kemuliaan Anak-Anak Allah”. Setiap hari, kita masih berhadapan dengan berbagai jenis kesulitan dan penderitaan dan alam ciptaan Tuhan juga ikut mengerang kesakitan.
- Akibat eksploitasi alam yang tidak terkendali oleh manusia, telah terjadi kerusakan alam yang luar biasa, yang mengakibatkan alam ciptaan (tumbuhan rusak, binatang-binatang kehilangan tempat, ozon rusak, pemanasan global terjadi, dsb).
- Akibat ketidakpastian hukum, banyak manusia (khususnya orang-orang miskin dan lemah yang kehilangan hak-haknya. Akibat ketidakadilan ekonomi, sebagai dampak dari globalisasi, harkat manusia sebagai makhluk Tuhan yang diciptakanNya menurut rupa dan gambarNya semakin dilecehkan. Dalam era globalisasi, dunia telah dikembangkan menjadi pasar demi keuntungan segelintir orang. Perdagangan bebas mencoba mengatur pasar demi keuntungan pemilik modal. Akibatnya, orang miskin dan Negara miskin semakin miskin dan orang kaya atau Negara kaya semakin kaya.
Saudara-saudaraku yang kekasih, keadaan ini membuat kita manusia dan seluruh ciptaan “menderita dan mengerang kesakitan”. Secara khusus, di Negara kita tercinta Indonesia, di mana HKI tumbuh, hidup dan melayani, keadaannya sangat memprihatinkan.
- Kita merasakan dampak ketidakadilan hukum dan ekonomi yang kita sebutkan di atas. Kita merasakan bagaimana sulitnya memperoleh kebutuhan hidup sehari-hari. Harga-harga pangan semakin melonjak seiring dengan harga minyak yang terus naik. Antrian memperoleh minyak tanah menjadi tontonan setiap hari bagi kita. Jumlah penganggur dan orang miskin bertambah. Di beberapa Daerah terjadi musibah busung lapar.
- Situasi politik yang mengarah kepada demokratisasi, sering tidak disikapi oleh masyarakat dengan bijaksana. Pemilihan langsung oleh rakyat terhadap kepala-kepala Daerah sering menimbulkan kerusuhan-kerusuhan antar pendukung calon Kepala Daerah tertentu. Keluarnya Peraturan Bersama Menteri Agama dan Menteri Dalam Negeri sebagai pengganti Surat Keputusan Bersama kedua Menteri ini tentang prosedur yang harus kita tempuh untuk memperoleh ijin mendirikan rumah ibadah, sangat memberatkan kita. Yang paling menyakitkan, Peraturan Bersama Menteri ini dijadikan oleh kelompok-kelompok tertentu untuk melakukan penyerangan-penyerangan terhadap orang-orang Kristen yang sedang beribadah, dan melakukan pengrusakan gereja, dsb.
- Bencana Alam, (banjir, longsor, gempa, dsb) yang hampir terus-menerus menimpa Negara kita, telah mengakibatkan penderitaan yang maha dahsyat bagi sebahagian masyarakat kita. Banyak dari antara masyarakat kita (termasuk sebahagian warga HKI) kehilangan anggota keluarga, kehilangan tempat tinggal dan harta-benda, kehilangan mata pencaharian, dsb.
II. Hidup kita masih hidup yang mengharap
Saudara-saudaraku yang terkasih. Adalah benar, bahwa Rasul Paulus yang merumuskan janji Tuhan dan menjadi Thema Synode kita saat ini, tidak pernah munafik dengan mengatakan bahwa beriman kepada Yesus Kristus akan menghilangkan semua kesulitan hidup. Sebaliknya, dia dengan terus-terang mengakui bahwa pengalaman kita masih penuh dengan beragam jenis kesulitan dan penderitaan, dengan sebutan-sebutan: “kesia-siaan…, perbudakan kebinasaan…, merasa sakit bersalin…”.
Oleh realitas hidup yang kita alami sehari-hari (“kesia-siaan…, perbudakan kebinasaan…, merasa sakit bersalin…”), masih jauh berbeda dari apa yang dijanjikan (“Kemerdekaan dan Kemuliaan Anak-Anak Allah”), maka Rasul Paulus mengatakan, bahwa hidup kita masih dalam hidup beriman, belum dalam hidup yang sempurna atas apa yang dijanjikan. Hidup di dalam iman adalah hidup di dalam kerinduan yang sangat mendalam akan apa yang dijanjikan, dan tabah di dalam penderitaan. Karena Allah telah bertindak secara meyakinkan untuk menyelamatkan dan membebaskan ciptaanNya, maka hidup kita sekarang, bukan hanya hidup dalam keadaan “kesia-siaan, perbudakan kebinasaan”, tetapi juga hidup dalam keadaan yang “mengharap”, keadaan yang “tabah dalam penderitaan”.
III. HKI terpanggil menghadirkan Realitas Pengharapannya di dunia ini.
Saudara-saudaraku yang kekasih. Kesulitan dan penderitaan yang kita alami ini, tidak hanya menimbulkan penderitaan bagi hidup kita, tetapi juga menjadi tantangan pastoral, etis, teologis dan spiritual bagi Gereja HKI. Jika demikian, apakah yang dapat dan harus kita dilakukan sebagai Gereja? HKI sebagai Gereja harus berusaha dengan setia kepada panggilannya untuk menyatakan iman dan pengharapannya dengan cara menghadirkan realitas surgawi di dunia ini, yaitu realitas “kemerdekaan dan kemuliaan” anak-anak Allah di bumi ini.
Apakah realitas “Kemerdekaan dan Kemuliaan Anak-Anak Allah” itu di dunia ini?. Realitas itu ialah keadilan bagi semua orang, hak untuk memperoleh kesejahteraan bagi semua orang, hak untuk memperoleh pendidikan dan pekerjaan bagi semua orang, hak untuk mengeluarkan pendapat, hak untuk berkumpul dan berserikat, hak untuk memeluk agama dan beribadah menurut agamanya bagi semua orang, bebas dari rasa takut, bebas dari ancaman, bebas dari tindakan kekerasan bagi semua orang, dsb.
Tidaklah mudah bagi HKI untuk memberhasilkan tugas dan panggilan ini, akan tetapi sebagai persekutuan yang memiliki iman bahwa Allah telah bertindak secara meyakinkan untuk menyelamatkan dan membebaskan ciptaanNya, maka HKI dengan seluruh warganya akan melihat bahwa keadaan sekarang bukan hanya keadaan yang dikuasai oleh “kesia-siaan, perbudakan kebinasaan”, tetapi juga hidup dalam pengharapan. Dengan pengharapan yang kita miliki, maka kita akan memiliki kekuatan untuk senantiasa proaktif melihat kesulitan-kesulitan hidup masyarakat dan secara khusus kesulitan-kesulitan hidup yang dialami oleh warga jemaat yang kita wakili di dalam synode ini.
Saudara-saudaraku yang kekasih. Mulai hari ini, sampai synode ini nanti berakhir, mata dan telinga, serta hati mereka yang mengutus kita ke synode ini, tertuju kepada kita yang bersidang disini. Mereka mengharapkan agar para synodisten mendengar suara mereka yang membutuhkan pendampingan Gereja dalam kehidupan mereka yang serba sulit, mendengarkan jeritan mereka mencari keadilan, mendambakan hidup layak, mendambakan kebebasan beribadah di seluruh persada nusantara ini. Mendengar jeritan alam ciptaan Tuhan yang telah berada dalam kondisi yang sangat kritis. Apakah yang dapat kita lakukan?. Apakah yang dapat kita sumbangkan?. Apakah yang dapat kita suarakan kepada orang-orang atau lembaga-lembaga yang terlibat mengelola Negara ini, sehingga hak-hak semua warga Negara dilindungi?. Apakah yang dapat kita lakukan untuk memperbaiki alam yang rusak yang mengancam kehidupan manusia?. Pertanyaan-pertanyaan ini menantang kita di dalam usaha kita menghadirkan realitas pengharapan kita di dunia ini. Kita percaya, bahwa Tuhan yang telah bekerja menyelamatkan kita, Dia juga akan senantiasa menyertai kita. Amin.
Pdt Dr B Purba
EphOrus HKI
340 Peserta
Synode Kerja Se-Dunia ke-58 ini diikuti 340 peserta mewakili Daerah I (Sumatera Timur), Daerah II (Silindung-Pangaribuan), Daerah III (Toba-Samosir-Humbang), Daerah IV (Dairi-Karo-Tanah Alas), Daerah V (Tapteng-Tapsel), Daerah VI (Medan sekitarnya), Daerah VII (Pulau Jawa), Daerah VIII (Riau-Sumbagsel) dan berbagai daerah dalam dan luar negeri.
Synode itu dibuka secara resmi pemukulan gong didampingi Sekjen HKI Pdt Rudolf Simanjuntak,BD, Ketua Panitia St Ir Marasal Hutasoit, Sekum Panitia St Ir Meman Marpaung, MSIE. Hadir pada kesempatan itu tokoh masyarakat Sumut DR GM Panggabean bersama ibu boru Hutagalung, Sekum MPH PGI Pusat Pdt DR Richard Daulay, Bishop GKPI Pdt DR MSE Simorangkir, MTh mewakili KN LWF, Ephorus GKPS Pdt BP Purba Dasuha mewakili pimpinan gereja wilayah Sumatera Utara dan UEM Regional Asia dan Sekum Pdt DR Langsung Sitorus, MTh, Kabiro Hukum Pempropsu F Nainggolan, SH mewakili Gubsu dan Kesbang Linmas Pemkab Karo Suang Karo-Karo mewakili Bupati Karo dan Drs Blider Silaban, STh dari Dirjen Bimas Kristen Depag RI.
Sebelumnya, pembukaan synode itu diawali dengan prosesi peserta sinode terdiri dari barisan pucuk pimpinan HKI, puluhan pendeta dan panitia dengan membawa pataka gereja dan perwakilan daerah masing-masing peserta. Prosesi itu diiringi musik terompet membawa lagu Hai Bangkit Bagi Yesus dan lagu Mars Kebanggaan HKI; Las Roham Nuaeng O HKI dan disambut tarian Tanah Karo Simalem.
Tema Synode: Dibawa ke Dalam Kemerdekaan Kemuliaan Anak-Anak Allah (Roma 8;21) dan sub tema: Bersama-sama seluruh komponen bangsa, HKI berusaha menghadirkan kasih, keadilan, damai sejahtera dan keutuhan ciptaan. (TIM)




Komentar