Cina,Taiwan Sepakat Mulai Kembali Pembicaraan Dalam Dua Pekan
Beijing (SIB)
Hubungan Cina dan Taiwan yang sudah mulai membaik sejak terpilihnya Ma Ying-jeou sebagai presiden Taiwan dan diikuti kunjungan ketua Partai Nasionalis Taiwan ke Beijing, memperlihatkan sinyal akan terus menghangat, dengan kedua pihak sepakat segera menghidupkan kembali pembicaraan yang tertunda hampir satu dekade.
Kesepakatan untuk berunding di Beijing dalam dua minggu ke depan tercapai sehari setelah Presiden Cina Hu Jintao bertemu dengan ketua Partai Nasionalis Taiwan, Wu Poh-hsiung, kontak tingkat tinggi pertama sejak Cina dan Taiwan berpisah tahun 1949.
Pertemuan bersejarah itu dan kesepakatan menghidupkan kembali pembicaraan merupakan bagian dari pencapaian yang dimulai sejak Nasionalis Koumintang (KMT) mengalahkan Partai Progresif Demokratik yang pro-kemerdekaan pada pemilu Presiden Taiwan Maret lalu.
Seperti dilaporkan kantor berita Xinhua dan dilansir Associated Press, Kamis (29/5), Asosiasi bagi Hubungan Lintas Selat Taiwan di Cina (ARATS) mengirim sepucuk surat undangan resmi kepada rekannya di Taiwan, Yayasan Pertukaran Selat (SEF) guna mengadakan pembicaraan mulai dari 11 -14 Juni mendatang. ARATS dan SEF berada masing-masing di bawah Kantor Urusan Taiwan yang dikelola Cina dan Dewan Daratan yang dikelola Taiwan dan bertugas untuk memfasilitasi pertukaran karena ketiadaan hubungan resmi.
Dalam surat undangan itu, ARATS meminta SEF mengirim delegasinya ke Beijing untuk membicarakan penerbangan langsung antar kedua pihak dan mengijinkan turis Cina daratan memasuki Taiwan. “Kami berharap pembicaraan akan mencapai kemajuan atas kedua isu tersebut guna memenuhi harapan rakyat kedua pihak,†tulis surat itu seperti dikutip Xinhua.
Taiwan langsung menerima tawaran tersebut. Ketua SEF Chiang Pin-kun mengatakan undangan itu datang pada saat yang tepat dan mengatakan dirinya akan memimpin delegasi yang terdiri dari pengusaha dan pejabat-pejabat pemerintah untuk bernegosiasi. Dalam undangan itu, Cina mengatakan pembicaraan akan jadi awal konsultasi regular berdasarkan apa yang disebut “konsensus 1992.†Berdasarkan konsensus itu, Cina dan Taiwan menggelar dialog setahun kemudian di Singapura. Namun sejak itu, keduanya tidak pernah lagi berunding setelah pihak Beijing menghentikannya tahun 1995 di tengah-tengah memburuknya hubungan kedua pihak. Para pemimpin Cina telah mengungkapkan dukungan atas usulan ketua baru partai berkuasa Taiwan agar dibuka penerbangan langsung antara Cina daratan dan Taiwan serta menambah jumlah turis Cina mengunjungi negara kepulauan itu.
Kedua pihak berpisah setelah berakhirnya perang sipil tahun 1949. Sejak itu, Cina terus mengklaim Taiwan wilayahnya dan bersumpah akan menyatukan kembali jika perlu menggunakan kekuatan. Beijing juga dalam beberapa tahun terakhir bekerja keras mengisoliasi Taiwan dan menggagalkan segala upaya melegitimasi kedaulatan Taiwan. Awal Mei, Cina menggagalkan niat Taiwan bergabung dengan status pengawas di Organisasi Kesehatan Dunia (WHO).
Ancaman-ancaman itu dikeluarkan semasa pemerintahan mantan Presiden Chen Shui-bian. Penerusnya, Ma yang telah dilantik sebagai presiden Taiwan pekan lalu mengambil pendekatan yang lebih damai dengan Cina. Di hari pertama berkuasa, Ma menyerukan dimulainya kembali dialog dan berjanji mendahulukan hubungan ekonomi antar kedua pihak serta berjanji tidak akan memulai perlombaan senjata dengan Cina. (AFP/AP/WH/h)




Komentar