Surya Tour
Print This Post Print This Post

Cegah Penimbunan BBM

Posted in Tajuk Rencana by Redaksi on Mei 15th, 2008

Hanya dalam waktu sekejap pasca pemerintah mengumumkan akan segera menaikkan harga BBM, kepanikan melanda seluruh masyarakat. Sebagaimana terjadi ketika pemerintah mengumumkan akan menaikkan harga BBM di tahun 2005 lalu, masyarakat pun kini dilanda kepanikan yang sama.
Di beberapa wilayah Pertamina menengarai ada warga masyarakat yang melakukan penimbunan BBM. Hal ini terlihat dari melonjaknya permintaan BBM di beberapa SPBU, melebihi permintaan normal. Bahkan di beberapa wilayah sentra pengisian BBM, terjadi kehabisan stok dibandingkan dengan sebelumnya. Masyarakat biasa yang biasanya mengantri dengan tertib bahkan kehilangan kesempatan untuk mendapatkan minyak tanah misalnya. Bayang-bayang kekuatiran semakin terlihat jelas pada mereka yang kini dilanda oleh ketakutan kehabisan stok BBM.
Kalau di pasar saham kita menyaksikan fenomena panic buying, keadaan yang sama juga terlihat jelas pada saat ini. Kepanikan terjadi dan aksi ambil untung terjadi. Siapa yang melakukannya? Pertanyaan ini tentunya bisa kita gunakan ketika menganalisa keadaan ini supaya bisa dilakukan antisipasi.
Dilihat dari modus operandinya, pelakunya jelas saja masyarakat biasa yang ingin menyimpan BBM untuk kepentingan pribadinya, atau para penyalur bahkan mungkin agen SPBU yang menunggu harga naik untuk mendapatkan keuntungan yang lebih besar.
Memang apa boleh buat, fenomena ini akan lebih berbau psikologis daripada ekonomis semata. Masyarakat yang kini merasakan bagaimana pendapatannya semakin terbatas manakala harga kebutuhan pokok semakin meningkat tentunya sudah membayangkan bagaimana pendapatannya akan semakin tergerus oleh pengumuman pemerintah yang rencananya akan disampaikan akhir bulan ini.
Lagipula masyarakat memang tidak salah. Selama ini pemerintah memang tidak pernah pasti. Ketika mengumumkan kenaikan BBM di tahun 2005 pemerintah membuat masyarakat terkejut. Waktu itu pemerintah menjamin bahwa kenaikan BBM hanya akan berkisar 50 persen saja. Siapa sangka kemudian pemerintah mengumumkan kenaikan mencapai 128 persen. Jelas saja masyarakat merasa bahwa pemerintah pun akan melakukan pola yang sama. Benar bahwa pemerintah sudah mengumumkan angka kisaran 30 persen. Tetapi siapa sangka manatahu pemerintah berubah pikiran di saat injury time dan mengumumkan kenaikan lebih dari yang pernah dibayangkan masyarakat.
Inilah akibat kebijakan pemerintah yang tidak melihat bahwa respon masyarakat bahkan pelaku ekonomi pasar sering sekali jauh dari antisipasi pemerintah. Cara pemerintah mengumumkan kenaikan BBM memang sudah baik. Menyampaikan jauh hari kepada masyarakat memang akan membuat masyarakat bersiap, tetapi seharusnya tidak menjadi panik. Ini adalah logika komunikasi politik yang baik, apalagi memang pemerintah sudah menyampaikan dengan jelas kepada masyarakat mengenai latar belakang, tujuan dan metode antisipasi.
Tetapi itulah yang terjadi. Panic buying kita perkirakan akan terus terjadi. Pemerintah pusat harus segera memanggil pemerintah daerah untuk bisa bekerjasama membuat penanganan segera mencegah masyarakat memburu semua SPBU dan mengisi semua stok mereka sampai saat pengumuman dilakukan. Pemerintah harus menggerakkan aparat penegak hukum supaya warga masyarakat yang ingin ambil untung, termasuk para agen, pengecer bahkan pemilik SPBU, bisa diberikan sanksi kalau melakukan tindakan penimbunan.
Menurut kita lebih cepat pemerintah mengumumkan kenaikan BBM dengan kisarannya serta memberlakukannya secara efektif, akan mengurangi dampak psikologis yang bisa saja tidak lagi bisa dikelola kalau sudah terlambat. (***)

Leave a Reply

You must be logged in to post a comment.