Kembali Perkuat Pangan
Resesi dunia mau tidak mau menjadi persoalan penting yang harus diatasi bersama tetapi juga masing-masing negara. Kini seluruh dunia memang seolah terhenti karena semua negara bicara soal tingginya harga minyak dan naiknya harga pangan. Beberapa bulan lalu, di media yang sama kita pernah mengingatkan untuk memperhatikan harga pangan karena tendensinya mengarah ke sana. Sayangnya, respon kita bahkan banyak negara juga lamban. Masih ingat apa kata para menteri ekonomi melihat harga minyak? Komentar mereka adalah harga akan segera turun karena konsumsi negara besar semisal Amerika akan segera berakhir ketika musim dingin usai. Tetapi kenyataan menunjukkan tidak demikian. Harga minyak terus menaik bahkan tak lagi pernah berada di bawah level US $ 110 per barelnya.
Kini dunia sibuk menyalahkan diri sendiri bahkan ditudinglah kambing hitam tertentu. Di Amerika Serikat sendiri, Alan Greenspan, mantan Gubernur Banknya dituding terlalu memberi tempat pada kredit dengan bunga rendah sehingga terjadi booming yang tidak bisa diatasi kemudian. Amerika juga disalahkan karena akibat eksploitasi biofuel, banyak lahan pertanian diganti menjadi ladang jagung sebagai sumber dari produksi minyak ramah lingkungan tersebut.
Negara lain juga disalahkan. Selain invasi ke Irak, India dan China juga jadi sasaran tuduhan. Mereka dikatakan terlalu cepat pertumbuhan ekonominya sehingga mengakibatkan permintaan energi dunia meningkat tajam. Bahkan OPEC dan banyak negara Timur Tengah lainnya juga disalahkan karena hanya memikirkan keuntungan atas surplus permintaan, tanpa mau meningkatkan produksi minyaknya.
Tingginya inflasi menjadi pemicu berbagai persoalan. Peningkatan harga adalah salah satu akibatnya. Dengan meningkatnya harga, maka daya beli masyarakat pun merosot tajam tanpa ada alternatif lain karena seluruh elemen yang berhubungan dengan produksi tiba-tiba mandeg dihantam tingginya harga minyak.
Di saat-saat seperti ini jelas terlihat bagaimana pangan menjadi primadona yang menjadi penting untuk dikedepankan. Ada ide untuk meningkatkan kembali produksi pangan kita menuju swasembada yang pernah dicapai pada periode 1980-an.
Ide ini sebenarnya bisa diterjemahkan dengan membuka kembali lahan pertanian sebanyak mungkin dengan memacu para petani untuk meningkatkan produksinya. Hal ini tentunya hanya bisa mungkin kalau pemerintah memberikan insentif yang besar, mulai dari hulu semisal benih dan pupuk, sampai dengan hilir ketika produksi pertanian sudah dipanen berupa beras dan gabah.
Pembukaan lahan secara besar-besaran adalah peluang besar supaya kita bisa melakukan bargaining dengan negara lain. Secara posisi, kita mengimpor minyak dari beberapa negara. Tetapi tanpa produksi pertanian, mereka akan kelaparan dan akan mengalami gejolak di dalam negeri. Karena itu mereka sangat berkepentingan untuk menyediakan pangan yang murah dan terjangkau, bahkan akan terus membeli produk pertanian berapapun harganya pada keadaan seperti sekarang ini. Apalagi para petani kita sudah terlatih mandiri dan mengerjakan pertaniannya selama ini. Pemerintah hanya perlu memodifikasi kebijakannya.
Karena itulah pemerintah harus segera melakukan kampanye. Mari jadikan seluruh lahan kosong di negeri ini menjadi lahan pertanian. Mari perbanyak lumbung padi supaya para petani mendapatkan berkah dari tingginya harga produk pertanian. (***)




Komentar