DPRDSU:Kelangkaan Pupuk Bersubsidi Masih ’Hantui’ Petani Karo, Dairi dan Pakpak Bharat
Medan (SIB)
Kalangan DPRD Sumut dari Dapem (daerah pemilihan) X menemukan kelangkaan pupuk bersubsidi masih ’menghantui’ masyarakat petani di Karo, Dairi dan Pakpak Bharat, karena kebutuhan riel ketiga kabupaten tersebut tidak seimbang dengan jatah pupuk bersubsidi yang didistribusikan.
Demikian diungkapkan Anggota DPRD Sumut Dapem X (Karo, Dairi, Pakpak Bharat) Ir Edison Sianturi, Ir Taufan Agung Ginting, Ir Tonnies Sianturi dan Drs A Azis Angkat kepada wartawan, Jumat (9/5) di DPRD Sumut, terkait hasil temuan tim ketika melakukan reses ke Karo, Dairi dan Pakpak Bharat.
Dikatakan Edison dan Taufan, persoalan kelangkaan pupuk bersubsidi sudah berulangkali diangkat ke permukaan, tapi sampai saat ini Pempropsu sepertinya tidak mempunyai kekuatan apapun mengatasinya.
Padahal, kata Edison lagi, penduduk Karo, Dairi dan Pakpak Bharat mayoritas hidup dari sektor pertanian, tapi pupuk bersubsidi masih tetap langka, karena jumlah kebutuhan riil akan pupuk bersubsidi di Karo sekitar 26.000 ton per tahun, tapi jatah yang diberikan jauh dibawah kebutuhan yaitu hanya sekitar 16.000 ton per tahun.
“Artinya, Kabupaten Karo setiap tahunnya kekurangan jatah pupuk bersubsidi 10.000 ton. Dari kondisi seperti ini, wajar saja di Karo terjadi kelangkaan pupuk bersubsidi,†ujar Edison senada dengan Tonnies.
Kondisi yang sama, kata Taufan, juga terjadi di Dairi, karena dari 13.000 ton pupuk yang dibutuhkan, hanya 7.834 ton diberikan, berarti sekitar 6000 ton tidak dipenuhi, sehingga sangat banyak kekurangan terutama disaat musim tanam.
Menurut Azis, terjadinya kelangkaan pupuk juga diakibatkan sistem penyaluran atau pendistribusian selalu tidak sesuai dengan musim tanam. Karena itu diharapkan Gubsu segera membentuk tim khusus tugasnya untuk menghitung ulang kembali kebutuhan riil akan pupuk bersubsidi disetiap kabupaten/kota.
“Tim yang dibentuk juga untuk menentukan sistem penyaluran/pendistribusian sesuai dengan musim tanam disetiap kabupaten/kota, sehingga para distributor dapat menyalurkan sesuai dengan kebutuhan dantepat waktu,†tambah Azis.
Edison juga mengatakan, terkait masalah sektor pertanian, masyarakat Karo, Dairi dan Pakpak Bharat sangat berharap agar Pempropsu dapat membantu pengadaan bibit kopi, coklat dan karet, serta traktor untuk mengolah lahan pertanian mereka.
Karena, tambah Tonnies, cara bertani dilakukan petani di tiga kabupaten itu umumnya masih tradisional dan mayoritas sumber daya manusia para petani masih tergolong rendah, bahkan pertanian mereka belum tersentuh teknologi pertanian. (M10/o)




Komentar