Pengacara Sohor Farhat Abbas SH MH Balon Walikota Bandung dari Jalur Independen
Medan (SIB)
Pengacara sohor M Farhat Abbas SM MH bersama istri, artis kondang Nia Nadiaty didampingi notaris Sisiliana Buchari yang pengelola RM Sederhana Medan dan Retno serta politisi Partai Demokrat Big Solon Sihombing, Kamis (8/5) menjumpai tokoh masyarakat Sumut DR GM Panggabean. Pertemuan dimaksudkan meminta petuah, restu dan dukungan karena hendak berlaga di pemilihan kepala daerah (Pilkada) Bandung dari jalur independen.
Dalam perbincangan, Pak GM bertanya apakah Aat nama akrab Farhat, benar-benar serius untuk maju menjadi pimpinan sipil di Bandung. Katanya, trend artis maju di Pilkada dan punya kecenderungan memenangi Pilkada pada dewasa ini, karena kini masyarakat berharap ada semacam pergantian situasi. Masa lalu, pimpinan berasal dari ragam profesi seperti jenderal, politisi namun apa yang diharapkan warga tidak maksimal.
Menurut Pak GM, kecenderungan pilihan masyarakat pada pimpinannya dewasa ini dari kalangan artis dan tokoh masyarakat populis, karena dilatarbelakangi kekecewaan pada figur dan kepemimpinan di masa lalu. “Jadi, tak masalah pimpinan ke depan dari kalangan artis yang tentu berpendidikan, karena sudah populer pada masyarakat. Artis yang jadi pimpinan harus diberi bobot kualitas pelayanan publik,†tandas Pak GM sambil mengatakan siapapun yang nantinya menjadi pimpinan di Bandung diharapkan mengembalikan citra Paris van Java pada kota kembang itu sebagai kota indah di dunia karena menyangkut citra Indonesia di pergaulan global. Pengembalian citra Paris van Java tak sekadar mengelola sampah menjadi potensi tapi penataan ruang kota yang berpihak pada publik, modernitas namun tak meninggalkan ciri kedaerahan dengan budaya luhur.
Pak GM sarankan pada Aat, sebelum melangkah berlaga, lebih dahulu perlu sowan kepada para tokoh-tokoh di Bandung, termasuk ke beberapa tokoh Batak yang punya pengaruh luas di Bandung.
Salah satu dari sekian banyak tips yang diberikan Pak GM, adalah menyarankan kepada Farhat, jangan merasa bahwa dirinya sangat dibutuhkan oleh rakyat. Ini menimbulkan tinggi hati. Tapi sang calonlah yang sesungguhnya membutuhkan rakyat agar memilihnya. Ada calon yang PD nya berlebihan merasa dibutuhkan oleh rakyat padahal tidak, sehingga dalam strategi kampanyenya si calon salah tingkah. Pak GM menyarankan Pak Farhat harus bisa memberi harapan kepada rakyat dengan konsep-konsep program yang masuk di akal.
Soal popularitas, menurut Pak GM, siapa lagi yang tidak mengenal M Farhat Abbas SH, MA, apalagi dengan dukungan isteri Nia Daniaty, menurut Pak GM, bukan sesuatu yang mustahil untuk bisa merebut hati warga kota Bandung, asal strateginya jitu dan tepat.
Akan halnya Aat —akan melangkah sebagai kandidat walikota dan wakil walikota bersama Asep Dedi— maju melalui jalur independen karena didukung sejumlah kalangan. Jadwalnya, Aat akan mendaftar di KPU Bandung pada 11 - 19 Mei dengan membawa kelengkapan 75 ribu fotokopi KTP dan pernyataan dukungan yang ditandatangani di atas materai Rp6.000. Ikut dari jalur independen, bagi Aat, nantinya tidak terbeban utang politik meski cost politic lebih banyak,
Aat terpanggil untuk menjadi pimpinan di Bandung karena ingin mengabdi di daerah kelahiran Nia Daniaty. Aat dilahirkan di Tembilahan pada 22 Juni 1976 sebagai putra ke 2 dari 7 bersaudara anak pasangan Abbas Said SH MH - Syarifah Masnon. Selesai studi S1 di Unpad Bandung tahun 1998 dan S2 di Unpad pada tahun 2008. Dari pernikahannya dengan Nia Daniaty dikaruniai anak Olivia, 16 thn dan Hadi Farhat, 4,5 tahun. Meski berprofesi sebagai pengacara sohor namun organisasi profesi diikuti Aat seperti Ketua HIPMI Jaya, Wakil Ketua Hari Pertina, Ketua PP Percasi. Di bidang akademis, Aat mengukir prestasi istimewa dengan tesis Status Hukum Presiden sebagai Pelapor atau Tersangka dan Pengaruh yang timbul Terhadap Jabatannya. Yang terakhir, Aat menulis buku Membangun Bangsa & Negara, Program Pengabdian Masyarakat Alam Perlindungan Hukum dan Pelatihan Pelatihan Bidang Keuangan Daerah khusus untuk bupati walikota dan anggota DPRD se-Indonesia. “Buku itu dimaksudkan untuk menuntut penggunaan dana negara sebagai tepat, baik dan benar,†tutup Aat.
Sebelum pergi dari pertemuan karena Pak GM ada jadwal menerima tamu lainnya, Aat menyampaikan buku tersebut. Setelah membolak-balik sebentar, Pak GM bilang buku tersebut bagus karena pada kenyataan belakangan ini ada pimpinan daerah yang tak berniat korupsi namun karena kesalahan administrasi atau tidak atau kurang mengetahui tata cara penggunaan, jadi terjerat kasus korupsi. (r10/c)




Komentar