Hotel GM
Print This Post Print This Post

Obama Hampir Menang, Hillary Pinjami Diri Sendiri Rp 59 M

Posted in Luar Negeri by Redaksi on Mei 9th, 2008

Washington (SIB)
Barack Obama hanya butuh kurang dari 200 suara delegasi lagi untuk melaju jadi Capres dari Partai Demokrat. Demi mengejar ketertinggalannya, Hillary Clinton terpaksa merogoh kocek sendiri untuk bisa terus berlaga. Setidaknya Hillary telah meminjam US$ 6,4 juta dari dirinya sendiri pada akhir April 2008 lalu. Seperti dilansir AFP, Kamis (8/5), staf Hillary menyebutkan, istri Bill Clinton itu telah menambah utang US$ 1 juta pada 1 Mei dan lalu US$ 425 ribu pada 6 Mei.
Sehingga, total ditambah kocek yang dipinjam dari kantongnya pada April 2008 lalu, Hillary telah berutang pada dirinya sendiri sebesar US$ 6,4 juta. Jumlah itu jika dikurskan ke dalam rupiah mencapai Rp 59 miliar. Tambahan utang ini tentu menimbulkan spekulasi bahwa Hillary telah semakin kehilangan harapan untuk menjadi Presiden AS pertama yang berjenis kelamin perempuan. Apakah benar begitu?
Sementara itu, walau perolehan delegasinya belum bisa mendekati rivalnya, Hillary masih belum mau menyerah. Senator New York itu terus melanjutkan kampanye kepresidenannya meski kubunya dilanda krisis keuangan.
Ditambah lagi dengan kekalahan telaknya di North Carolina pada 6 Mei lalu. Juga kemenangan tipisnya di Indiana kian melemahkan peluangnya untuk memenangi nominasi Partai Demokrat. Namun istri mantan presiden AS Bill Clinton bersikeras untuk terus maju melawan rivalnya, Barack Obama. Kepada wartawan di West Virginia, Hillary menegaskan: “Saya tetap bertahan di ajang ini.”
Menurut mantan ibu negara AS itu, masih terlalu dini baginya untuk mundur. Demikian seperti dilansir Daily Telegraph. Hillary berjanji dirinya akan terus berkompetisi dengan semangat habis-habisan untuk pemilihan berikutnya yang akan digelar minggu depan — di negara bagian West Virginia dan setelah itu di Oregon serta Kentucky — dengan “kecepatan penuh menuju Gedung Putih”.
Kubu Obama sendiri telah yakin akan kemenangannya untuk menjadi wakil partai dalam pemilihan presiden, November mendatang. Namun mereka tidak melontarkan desakan bagi Hillary untuk mundur dari ajang nominasi partai.
“Tidak pantas dan janggal serta salah bagi kami mengatakan kepada Senator Clinton kapan waktu untuk berakhirnya ajang ini,” tegas Claire McCaskill, Senator Missouri yang merupakan sekutu penting Obama.
Untuk sementara, secara total Obama telah membukukan dukungan sekitar 1.815 suara utusan sementara Hillary 1.672. Untuk dapat memenangkan kompetisi calon presiden dari Partai Demokrat, Obama — yang berpeluang menjadi presiden kulit hitam pertama AS — atau Hillary — dengan peluang sebagai presiden perempuan pertama AS — harus mengumpulkan 2.025 suara utusan. Jika menang, Obama atau Hillary akan berkompetisi dengan calon presiden dari Partai Republik, John McCain, pada Pemilu Presiden AS bulan November mendatang.
Obama vs McCain, Perubahan vs Pengalaman
Barack Obama hampir dipastikan bakal menjadi wakil Partai Demokrat dalam pemilihan presiden (pilpres) AS, November mendatang. Jika itu benar terjadi, Senator Illinois itu akan berhadapan dengan John McCain, kandidat Partai Republik. Menurut para pengamat, pertarungan Obama vs McCain akan menjadi duel kepresidenan AS paling menentukan setidaknya sejak tahun 1980. Ini dikarenakan perbedaan kontras antara kedua rival.
Salah satunya adalah selisih usia yang begitu jauh antara kedua kandidat. Obama berumur 46 tahun sedangan McCain telah menginjak 71 tahun. Ini akan menjadi selisih umur terjauh dalam sejarah pilpres AS. Rekor saat ini adalah ketika pilpres 1996, yakni Bob Dole yang usianya 23 tahun lebih tua daripada Bill Clinton.
Kampanye Obama dan McCain akan dibedakan antara perubahan vs pengalaman, orang baru vs teruji. Obama akan berupaya membuat McCain terlihat munafik dan doyan perang. Sedangkan McCain akan menyebut-nyebut Obama naiv, tidak berpengalaman, liberal dan anak yang sedang bermimpi.
Apalagi dalam soal Irak, kedua rival itu memiliki perbedaan besar. McCain akan memfokuskan kampanyenya pada isu keamanan nasional dan terorisme. Sedangkan Obama pada isu-isu domestik dan keresahan ekonomi.
“Ini akan menjadi kontes yang luar biasa, kesempatan untuk melihat perbedaan yang mencolok, mulai dari usia hingga filosofi umum,” kata Tom Mann, ahli politik di Brookings Institution di Washington seperti dilansir International Herald Tribune, Kamis (8/5).
Menurut sejumlah analis, pertarungan antara Obama dan McCain akan berlangsung ketat. Dalam polling terbaru Rasmussen, Obama secara nasional hanya unggul satu poin atas McCain. Obama meraih 45 persen suara sedangkan McCain 44 persen suara.
Mimpi Hillary Menuju Gedung Putih Berakhir Sudah
Hillary Clinton benar-benar di ambang kekalahan. Bahkan sebagian media AS serentak mengklaim bahwa mimpi Hillary menuju Gedung Putih telah berakhir. Media terkemuka ABC menuliskan bahwa “pertarungan nominasi ini telah berakhir.” Pernyataan senada ditulis harian terpandang New York Post di halaman depan edisi mereka dengan judul: “Toast!”
Media NBC menyebutkan: “Kita sekarang tahu siapa yang akan menjadi kandidat Demokrat, dan tak seorang pun yang akan menyangkalnya.” Demikian seperti dilansir harian Daily Telegraph, Kamis (8/5).
Seperti yang telah diperkirakan, Barack Obama meraih kemenangan telak di North Carolina pada 6 Mei lalu. Sedangkan dalam pemilihan di negara bagian Indiana yang digelar pada hari yang sama, Hillary hanya menang tipis atas Obama.
Hasil tersebut kian menipiskan peluang Hillary untuk keluar sebagai pemenang nominasi Partai Demokrat. Mantan ibu negara AS itu tampaknya harus mengubur dalam-dalam mimpinya untuk menjadi presiden wanita pertama AS.
Sedangkan Obama terus melaju tak terbendung dengan perolehan jumlah delegasinya. Kepala ahli strategi Obama, David Axelrod mengatakan, pihaknya kini akan mulai berkampanye melawan John McCain yang mewakili Partai Republik. (detikcom/f)

Leave a Reply

You must be logged in to post a comment.