Kebebasan Beragama Bukanlah Pemberian Negara
Medan (SIB)
Dengan penuh sukacita, dirangkaikan dalam suatu acara kebaktian singkat, telah dilangsungkan peletakan batu pertama pembangunan asrama mahasiswa Christian Centre berbiaya Rp 2 miliar di kompleks PGI Sumut, Kamis 8/5-08 kemaren.
Urutan tokoh-tokoh yang melakukan peletakan batu pertama tersebut, setelah lebih dulu didoakan Ketua Umum PGI Sumut Pdt WTP Simarmata MA, antara lain adalah Gubernur Sumatera Utara diwakili Asisten I Drs Hasiholan Silaen SH, Tokoh Masyarakat DR GM Panggabean, Sekum PGI Sumut Pdt DR Langsung Sitorus, Ketum Yayasan Umat Kristen Sumatera Utara, Nelson Parapat SH, para Pendeta yang mewakili Pimpinan Gereja-Gereja, Ketum PWKI Sumut Ny Panggabean-Br Pardede, Ketum GAMKI Sumut Ir Ronal Naibaho, GMKI, mewakili Lembaga Keumatan Eron Lumbangaol SE dan terakhir Ir GM Chandra Panggabean, yang dengan keputusan MPH PGI Sumut dipercayakan sebagai penanggungjawab pembangunan tersebut.
Anggota DPD-RI Parlindungan Purba SH dan Wakil Ketua DPRD Sumut Japorman Saragih juga hadir pada acara tersebut, sedang kata sambutan dari Gubsu yang saat ini sedang berada di Polandia, dibacakan oleh Plt Sekdasu Dr RE Nainggolan, MM yang datang bersama Kabainfokom Sumut Drs Edy Sofyan MAP.
Pembangunan asrama berbiaya Rp2 miliar dari anggaran Rp 5 miliar APBD Sumut 2007 yang dialokasikan untuk pembangunan Christian Centre tersebut diserahkan kepada Ir GM Chandra Panggabean, sebagai wakil PGI Wilayah Sumut. Gedung asrama yang memiliki sekitar 50 kamar dan mampu menampung 100 lebih mahasiswa itu diperkirakan selesai 6 bulan ke depan.
Ketum PGI Sumut dalam kata sambutannya menjelaskan, tugas berat itu dipercayakan kepada Ir GM Chandra, karena Ir GM Chandra telah “lulus ujian†berhasil melaksanakan Natal Bersama Umat Kristen Sumatera Utara 2007 yang cukup sukses. Ini adalah “ujian keduaâ€, katanya, disambut ketawa hadirin.
Setelah ini lulus, akan ada lagi “ujian ketiga†untuk mempersiapkan Ir GM Chandra Panggabean sebagai pemimpin masa depan.
Semua menyatakan bahagia dan memanjatkan puji syukur kepada Tuhan Yang Maha Kuasa, bukan saja karena 6 bulan lagi di Kampus PGI tersebut, akan berdiri suatu asrama berkamar 50 yang dapat menampung sekitar 100 mahasiswa kurang mampu, akan tetapi karena dengan peletakan batu pertama tersebut, berakhirlah sudah “perbedaan pendapat†yang sempat muncul antara PGI dengan Yuksu.
Sekarang semua sudah baik dan sudah sepakat, dari anggaran yang bersumber dari APBD Sumut tersebut, akan dibangun di dua lokasi, yaitu di lahan yang sudah dibebaskan Yuksu di Simalingkar B dan di kompleks PGI.
Baik suasana maupun kata-kata sambutan pada acara ini, diwarnai dengan situasi rencana perobahan bangunan Gereja HKBP di Binjai Baru.
Rencana Pemko Binjai akan merobohkan gereja tersebut, maupun keputusan Muspida Plus Binjai akan mengambilalih asset HKBP di Binjai Baru tersebut, tegas ditolak.
Bukan pemberian negara
Pdt WTP Simarmata MA dalam sambutannya menegaskan, kebebasan beragama bukanlah pemberian negara tapi pemberian Tuhan yang tidak bisa dicabut oleh siapa pun. Jadi, menurut dia, kejadian yang menimpa Gereja HKBP Binjai Baru merupakan kejadian yang luar biasa dalam negara yang merdeka.
Dikatakannya, pada 2001 silam, ia juga meletakkan batu pertama pembangunan Gereja HKBP Binjai Baru. Namun, di lokasi tempat peletakan batu pertama yang dialaskan dalam nama Bapa, Anak dan Roh Kudus itu pada sore harinya ditanami pohon pisang dan atas permintaan Pemko Binjai dipindahkan ke lokasi sekarang. Anehnya, Pemko Binjai pula mau membongkar bangunan gereja itu.
“Secara teologis peletakan batu pertama dalam nama Bapa, Anak dan Roh Kudus, maka tak ada kekuatan lain yang dapat menggagalkannya,†tandas Pendeta Simarmata.
Pada kesempatan itu, Pdt Simarmata juga mempersilahkan YUKSU untuk melakukan pembangunan Christian Centre. Ia mengatakan, â€YUKSU, embanlah tugas ini ke depan!†Bahkan Pdt Simarmata mengatakan hal ini sebanyak tiga kali disambut tepuk tangan. Untuk semakin meyakinkan, ia juga berkata,â€Pak Nelson, embanlah tugas ini!â€.
Pdt Simarmata pun mengatakan, pihaknya telah memberikan tanggungjawab sepenuhnya kepada Ir GM Chandra Panggabean untuk melaksanakan pembangunan asrama Christian Centre di kampus PGI tersebut.
“Alasan kami memilih Chandra Panggabean karena dia telah lulus ujian pertama yakni sukses memimpin Natal Sumut. Jadi, ini ujian kedua dan akan ada lagi ujian selanjutnya yang semakin berat,†katanya.
Pdt Simarmata juga menyampaikan terimakasih kepada DR GM Panggabean dan DR SAE Nababan atas perannya menjembatani perbedaan pendapat antara PGI-YUKSU sehingga tercapai kesepakatan yang ditandatangani di Pematang Siantar Desember 2007 lalu. Katanya, DR GM Panggabean pula yang memilih tanggal 8 Mei ini sebagai hari peletakan batu pertama gedung asrama Christian Centre di kampus PGI.
Ketum YUKSU Nelson Parapat dalam sambutannya, meminta restu dari PGI dan pemimpin gereja di Sumut agar mereka yang awam itu diberikan kepercayaan untuk membangun Christian Centre. Ia juga meminta dukungan doa dan mengajak semua pihak untuk melupakan semua perbedaan yang pernah terjadi. “Kalau kita sehati sepikir, semua kendala dapat diatasi,†katanya.
Dikatakannya, terlaksananya pembangunan Christian Centre tersebut tidak terlepas dari peran DR GM Panggabean yang menjembatani perbedaan pendapat yang terjadi antara PGI-YUKSU sehingga PGI-YUKSU telah sehati sepikir untuk melaksanakan pembangunan Christian Centre hingga selesai.
Christian Centre, lanjutnya, telah disepakati dibangun di dua lokasi, yakni gedung asrama mahasiswa di kampus PGI Sumut dan di lahan seluas 7,5 hektar yang telah dibebaskan yayasan di kawasan Simalingkar B. Di atas lahan itu juga sudah dibangun gedung Diklat yang pembangunannya sudah rampung 40 persen.
“Melalui gedung Diklat ini diharapkan mampu membangun SDM Kristiani ke depan yang takut akan Tuhan sehingga dapat memberikan kontribusi bagi pembangunan di Indonesia,†ujarnya.
Ia mengharapkan, pembangunan asrama mahasiswa di kampus PGI tersebut dapat membantu mahasiswa/pelajar dari ekonomi kurang mampu sehingga mereka dapat kesempatan belajar sama seperti mahasiswa/pelajar lainnya. “Gedung asrama ini nantinya memiliki sekitar 50 kamar dengan daya tampung 100 lebih mahasiswa,†ungkapnya.
Sementara itu, Jhon Eron Lumban Gaol, yang mewakili lembaga keumatan menegaskan, pihaknya menerima tugas dan siap ditugaskan oleh para pemimpin gereja untuk melakukan pelayanan dan mengaktualisasikan Firman Tuhan di tengah-tengah masyarakat.
“Banyak potensi di lembaga keumatan, ada politisi, dokter, pengusaha, ekonomi, ibu rumah tangga dll, tugaskanlah kami maka kami akan mengerjakannya,†tandasnya.
Pembangunan Christian Centre, lanjutnya, merupakan kerinduan yang sudah lama ditunggu. Karena itu, ia bersyukur perbedaan terjadi telah berakhir. “Semua persoalan dapat kita selesaikan dalam doa,†ucapnya.
Pdt DL Simatupang, mewakili lembaga gerejawi, mengatakan, tekanan-tekanan yang terjadi kalau dinikmati bisa menjadi suatu dorongan. Tekanan-tekanan ini juga, menurut dia, menjadi peringatan untuk setiap umat Kristiani bahwa apapun yang kita lakukan hanya untuk kemuliaan nama Tuhan sehingga kita bisa saling memaafkan, menerima dan tetap bersatu.
Gubsu dalam sambutannya dibacakan Plt Sekda Propsu Dr RE Nainggolan MM mengatakan, menebar kasih dan damai merupakan hal yang strategis sebab akhir-akhir ini kenyataan yang kita alami suasana yang benar-benar damai masih sama-sama kita rindukan.
Kekerasan, katanya, cenderung menjadi kebiasaan. Semua bentuk kekerasan itu, menurut Gubsu, telah menginjak-injak nilai kemanusiaan serta menyebarkan penderitaan. Kekerasan demi kekerasan itu juga menyebabkan benih-benih kebencian, sehingga umat manusia dikotak-kotakan dalam posisi kepentingan diri sendiri saja.
Menurut Gubsu, nilai-nilai agama paling ampuh untuk mengatasi kondisi tersebut. Karena itu, Pempropsu mendukung setiap upaya yang diarahkan untuk meningkatkan nilai-nilai keagamaan masyarakat, seperti pembangunan asrama mahasiswa Christian Centre ini yang diharapkan menjadi dapur pemikir buat masyarakat Kristen Sumut.
“Hanya saja perlu saya ingatkan, pembangunan sarana adalah jangka panjang dan butuh biaya besar sehingga dibutuhkan kepedulian seluruh umat Kristiani di daerah ini,†ujarnya.
Peletakan batu pertama pembangunan asrama mahasiswa Christian Centre Sumut, kata Gubsu, adalah tugu yang dijadikan sebagai rumah Tuhan dan focus untuk pembinaan kerohanian serta mentalitas Kristiani. “Pembangunan asrama mahasiswa Christian Centre ini adalah kekayaan umat Kristiani di Sumut tanpa membeda-bedakan denominasi gereja,†katanya.
bermakna 3 dimensi
DR GM Panggabean dalam kata sambutannya, mengatakan peletakan batu pertama yang dilakukan hari itu, bagi dirinya bermakna 3 dimensi.
Pertama, harapan semoga bangunan asrama Christian Centre ini kuat dan kokoh pada fundasinya, cantik megah, dan selesai pada waktunya dan dapat dimanfaatkan sesuai dengan tujuannya.
Kedua, menghapus perbedaan pendapat yang sempat ada antara PGI dengan Yuksu, dan dengan peletakan batu pertama ini, kita juga meletakkan fundasi yang kuat bagi kerjasama yang baik antara kedua institusi di masa-masa yang akan datang.
Ketiga, bermakna untuk lebih memperkuat lagi persatuan di antara semua umat Kristen, terutama dalam menghadapi rencana perobohan Gereja atau pengambilan alihan bangunan Gereja HKBP di Binjai Baru.
Menurut Pak GM, persoalan Gereja HKBP Binjai Baru sebenarnya tidak berdiri sendiri. Ini hanya merupakan klimaks. Sebelumnya sudah juga dialami sulitnya mendapat izin membangun Gereja. Tetapi Tuhan tidak membiarkannya berlarut-larut.
Pemko Medan membuat suatu keputusan yang ceroboh ingin merobohkan Gereja. Reaksi pun timbul.
Bahkan menurut Pak GM, dalam semua rangkaian peristiwa pasti ada campur tangan Tuhan. Tuhan tidak lagi membiarkan begitu terus.
Ada pihak-pihak yang memasuki kita tanpa sebab. Mereka merencanakan perusakan pada Gereja kita. Mereka tidak berbicara damai.
Berdasarkan alasan itu, Pak GM menyatakan setuju dengan seruan Coajutor Uskup Agung Medan Mgr AB Sinaga OFM Cap, yang disiarkan SIB hari (Kamis 8/5), supaya umat Katolik lebih banyak ikut aksi damai, agar pembangunan Gereja HKBP Binjai Baru dapat diteruskan.
Pak GM juga mengatakan bangga kepada Ketua Pemuda Katolik yang menginstruksikan kadernya agar mengerahkan massa lebih banyak.
Berkaitan dengan itu, Pak GM bertanya kepada Bapak Pdt WTP Simarmata sebagai Sekjen HKBP, kapal lagi demo ke Binjai?
Mumpung di sini, ada hadir Rektor US XII Medan Prof Ir MPL Tobing, juga Rektor UDA Prof Sibarani, mungkin mahasiswa sudah perlu ikut demo, kata Pak GM.
Ia memuji anggota Wantimpres Adnan Buyung Nasution, yang mengatakan : “Saya mati pun untuk konstitusi nggak apa-apa.â€
Mungkin kita perlu belajar, untuk berkata : “Saya mati pun untuk Gereja nggak apa-apa,†kata Pak GM.
Banyak lagi yang dikatakan Pak GM, dan walaupun yang diulasnya adalah hal-hal yang serius, namun di sana-sini selalu diselipkannya nada-nada humor, membuat hadirin sering tertawa terbahak-bahak.
Pada kesempatan itu, Pak GM juga memberi dorongan dan nasehat kepada putranya Ir GM Chandra Panggabean yang oleh PGI diberi kepercayaan sebagai penanggungjawab pembangunan. Laksanakanlah sebagaimana mestinya dan dengan jujur.
“Tolong, jangan kau korupsi,†kata Pak GM disambut ketawa semua hadirin.
“Apalagi korupsi uang Gereja, tolong janganlah. Kalau dari sumber-sumber lain urusanmulah itu, saya sebagai orangtuamu tak campur tangan. Tapi kalau uang Gereja, janganlah,†kata Pak GM terus bercanda.
Soal perbedaan pendapat antara PGI-Yuksu pun, Pak GM tak lupa bercanda.
Katanya, bagi saya sebenarnya, masalah ini dari awalnya pun, tidak saya anggap serius, akan tetapi karena saya lihat dari pihak PGI serius, dari Yuksu pun juga serius, maka saya pun pura-pura jadi seperti serius. Sebab kalau saya tak serius nanti mereka kecil hati. (Semua ketawa).
Namun kata Pak GM, bukan maksudnya, menganggap enteng persoalan. Tapi baginya ini adalah pekerjaan Tuhan. Kita tahu, manusia membuat rencana, tapi Tuhanlah membuat keputusan.
Pada mulanya, Yuksu mungkin ingin supaya semua dibangun di Simalingkar B, sebaliknya PGI ingin semuanya dibangun di kompleks PGI, tapi Tuhan ingin di bangun di dua tempat, biar ramai, ada di sana, ada di sini, ya sudah kita syukuri, kata Pak GM disambut ketawa.
Pak GM juga sangat mendukung permintaan Pak Nelson Parapat SH dari Yuksu, agar para pimpinan Gereja mempercayakan mereka sebagai awam melaksanakan tugas-tugas pembangunan.
Masalah kita selama ini, kata Pak GM, kita dorong pun generasi muda, tapi kurang bersambut, tetapi ini, justru mereka yang meminta diberi tugas dan kepercayaan. Ini suatu kemajuan yang besar.
Pak GM dalam hubungan ini, memuji keputusan Ketua Umum PGI dan MPH yang telah mengabulkan permintaan generasi muda dari Yuksu itu dengan berkata : Embanlah tugas itu!
Pak GM tidak lupa menyampaikan terimakasih kepada Gubernur Sumatera Utara dan DPRDSU, yang telah menyetujui dari APBD Rp 5 miliar dan kepada Walikota dan DPRD Medan yang telah menyetujui Rp 4 miliar untuk Christian Centre tersebut.
Tetapi, tanya Pak GM, ada yang kurang dapat dipahaminya, yaitu untuk Islamic Centre dapat Rp60 miliar untuk Christian Centre kok cuma Rp 5 miliar. Kenapa perbedaannya begitu jauh?
Tetapi pertanyaannya itu tidak diperpanjangnya, dan hadirin kelihatan seperti berpikir dan tidak tertawa lagi…
Ulos Pargomgom
Dalam kesempatan berbahagia itu, Pdt WTP Simarmata dan pengurus PGI lainnya mangulosi DR GM Panggabean dan ibu dengan ulos yang diberi nama ulos ‘Pargomgom’ yang diiringi dengan lagu selamat ulang tahun yang dinyanyikan VG Maestro. Ulos tersebut selain sebagai ucapan terimakasih atas peran-peran Pak GM selama ini, juga sebagai hadiah ulang tahun SIB ke-38 yang akan diperingati hari ini Jumat (9/5).
Ikut juga melakukan peletakan batu pertama tersebut, para pemimpin gereja dari berbagai denominasi di antaranya, Ketua PGLII Pdt Elim Simamora, Ketua PGPI Pdt Panjaitan, Gereja Orthodox Indonesia Pater CP Manalu MTh, Gabungan Gereja Baptis Indonesia (GGBI) Pdt DL Simatupang. Sedangkan dari lembaga keumatan dilakukan Ketua DPD PWKI Sumut Ny Panggabean br Pardede, DPD PIKI Sumut diwakili Drs Burhanuddin Rajagukguk, Ketua DPD GAMKI Sumut Ronald Naibaho, Korwil GMKI diwakili Yansen Hasibuan, BKAG diwakili SB Sitompul, dan anggota DPD RI Parlindungan Purba mewakili undangan serta Pengkhotbah Pdt K Simorangkir STh (Praeses HKI Sumatera Timur II).
Acara yang berlangsung penuh khitmad serta menandakan tidak ada perbedaan lagi antara PGI-YUKSU juga dihadiri Plt Sekda Propsu Dr RE Nainggolan MM, Kepala Bainfokom Sumut Drs Eddy Sofyan MAP, Wakil Ketua DPRDSU Japorman Saragih, Sekum PGI Sumut Pdt Langsung Sitorus, Rektor US XII Prof MPL Tobing, Rektor UDA Prof Robert Sibarani, Ketua PGI JA Ferdinandus, DR Polin Pospos, Ir Juara Pangaribuan, Ir Murniati Pasaribu, Ketua DPC GAMKI Medan Landen Marbun SH, serta balon walikota Bandung Farhad Abbas SH, Big Solon Sihombing dan ratusan undangan lainnya.
Acara peletakan batu pertama gedung asrama Christian Centre tersebut, dilakukan dalam ibadah singkat yang dilayani Pdt K Simorangkir STh, dan dimeriahkan Paduan Suara Manna Numinous yang tampil memukau dengan membawakan lagu-lagu diiringi gondang Batak, serta PS Sola Gratia PGI. (M28/M3/h/f)




Komentar