Agung Laksono: Pemerintah Jangan Gunakan Opsi Kenaikan BBM
Depok (SIB)
Ketua DPR-RI, Agung Laksono mengatakan pemerintah jangan menggunakan opsi untuk menaikkan harga Bahan Bakar Minyak (BBM), karena masyarakat saat ini sedang dalam kesulitan ekonomi.
“Ini bukan karena menjelang pemilu supaya pemerintah populer di mata masyarakat,†kata Agung usai memberikan kuliah umum di FISIP-UI, Depok, Rabu.
Sebelumnya pemerintah mengisyaratkan akan menaikkan harga BBM hingga 30 persen. Pemerintah juga akan memberikan Bantuan Langsung Tunai (BLT) yang lebih besar dibanding saat kenaikan harga BBM sebelumnya.
Menurut Agung, saat ini keadaan ekonomi sedang memburuk sehingga daya beli masyarakat sangat rendah hingga tingkat rumah tangga.
“Jangan lagi mereka diperberat dengan menaikkan harga BBM,†ujarnya.
Lebih lanjut, Agung yang juga menjabat sebagai Wakil Ketua Umum Partai Golkar mengatakan kenaikan BBM akan memicu kenaikan harga barang-barang lainnya, biaya transportasi dan juga memicu inflasi tinggi.
Dikatakannya pemerintah bisa menggunakan opsi lain seperti melalui pendekatan kepada negara-negara ataupun lembaga-lembaga pemberi pinjaman seperti World Bank atau IMF untuk melakukan penjadwalan utang kembali.
“Seberapa dapatnya saja yang penting ada usaha, mau 5 atau 10 tahun, sehingga ada uang yang cukup untuk memperbaiki infrastruktur migas kita yang ada saat ini,†katanya.
Agung menjelaskan bahwa harga minyak domestik sangat tergantung kepada harga minyak dunia, karena jumlah produksi dengan konsumsi sudah tidak seimbang.
Saat ini konsumsi minyak di Indonesia mencapai 1,4 juta barel per hari sedangkan produksi 925 ribu barel per hari. Padahal 15 tahun yang lalu produksi minyak mencapai 1,4 juta dan konsumsi hanya 300 ribu barel per hari.
“Untuk itu kita berniat untuk keluar dari anggota OPEC karena tidak pantas lagi sebagai negara OPEC,†jelasnya.
Padahal, kata dia, cadangan minyak Indonesia masih sangat banyak, sehingga produksi perlu ditingkatkan lagi. “Kalau ini terjadi maka kita tidak perlu kerepotan lagi karena kenaikan harga minyak dunia,†ujarnya.
“Siapa yang mampu melakukan ini maka akan kita tunjuk sebagai pimpinan minyak kita,†tegasnya.
Hal lain yang perlu dilakukan pemerintah yaitu dengan konversi energi dan penghematan energi, serta pemberantasan korupsi yang terus menerus. “Ini semua lebih penting dilakukan daripada mengambil opsi menaikkan harga BBM,†demikian Agung Laksono.
PENGANGGURAN BAKAL TAMBAH 16,92 PERSEN PER TAHUN
Peneliti dari Lembaga Kajian Reformasi Pertambangan dan Energi Reforminer Institute menghitung kemungkinan penambahan pengangguran per tahun mencapai 16,92 persen jika pemerintah jadi menaikan harga bahan bakar minyak (BBM) hingga 30 persen.
Direktur Eksekutif Reforminer Institute, Pri Agung Rakhmanto, dalam pertemuan membahas “Mengukur Dampak Sosial-Ekonomi Rencana Kenaikan Harga BBM 2008†di Jakarta, Rabu, mengatakan, dari hasil simulasi model dengan menggunakan “time serries†data, kenaikan harga berbagai jenis BBM dari mulai minyak tanah, solar, dan premium, sebesar 30 persen akan membawa dampak terhadap pertumbuhan pengangguran sebesar 16,92 persen per tahun.
Dari hasil penelitian, katanya, solar merupakan jenis BBM yang paling berpengaruh terhadap peningkatan pengangguran. Kenaikan harga solar sebesar 30 persen akan berdampak pada pertumbuhan pengangguran sebesar 10,83 persen karena hal tersebut tentu terkait dari kemampuan industri maupun perusahaan untuk tetap berproduksi.
“Dengan menaikan BBM 10 persen saja dampak inflasi mencapai lebih dari delapan persen, pengangguran mencapai 5,6 persen. Terlalu berat dampaknya apalagi jika 30 persen yang dipilih, dampaknya bisa 24 kali pengangguran saat ini,†katanya.
Ia mengatakan, dari hasil simulasi dengan model kemiskinan diketahui bahwa menaikan harga BBM hingga 30 persen akan menyebabkan pertumbuhan kemiskinan mencapai 8,55 persen per tahun. Minyak tanah merupakan jenis BBM yang paling besar kontribusinya terhadap peningkatan kemiskinan, karena dengan kenaikan harga BBM 30 persen akan meningkatkan kemiskinan 4,26 persen.
Jika simulasi dilakukan dengan menggunakan model Indeks Harga Konsumen (IHK) maka kenaikan harga BBM mencapai 30 persen akan menyebabkan pertumbuhan inflasi mencapai 26,94 persen per tahun, katanya. Minyak tanah juga menjadi faktor terbesar yang menyebabkan inflasi tinggi, yakni mencapai 16,17 persen, sedangkan solar mencapai 4,56 persen, dan premium mencapai 6,21 persen.
Jika simulasi dilakukan dengan menggunakan model Produk Domestik Bruto (PDB) maka kenaikan BBM sebesar 30 persen akan berdampak pada penurunan pertumbuhan sebesar minus 4,11 persen, katanya. Solar merupakan jenis BBM yang berpengaruh besar terhadap pertumbuhan PDB, karena dengan kenaikan 30 persen maka pertumbuhan PDB minus 2,30 persen sedangkan minyak tanah minus 0,71 persen dan premium minus 1,11 persen.
“Kesimpulannya memang kenaikan harga BBM sekarang akan meningkatkan inflasi, memperlambat pertumbuhan ekonomi, menambah pengangguran dan kemiskinan,†katanya.
Selain itu, Pri Agung mengatakan, jika kenaikan BBM mencapai 30 persen, yang berarti akan terjadi penghematan sebesar Rp35,6 triliun, maka kompensasi yang harus dikeluarkan oleh pemerintah kepada masyarakat mencapai Rp28,98 triliun, dan pemerintah hanya menerima Rp6,62 triliun untuk menyelamatkan APBNP 2008. (Ant/s)




Komentar